Sabtu, 04 Oktober 2008

Terimalah ayah [humor]

Seorang ayah bingung mendengarkan doa putrinya yang masih kecil ketika akan tidur,
"Tuhan, lindungi ibu, lindungi ayah, lindungi nenek, dan terimalah kakek."
"Kenapa doamu untuk kakek bunyinya seperti itu?" tanya ayahnya. Si kecil menjawab,
"Nggak tahu, Yah. Aku pengen aja ngomong seperti itu."
Entah apa yang terjadi, keesokan harinya sang kakek meninggal dunia. Suatu kebetulan yang sangat aneh, pikir si ayah. Beberapa hari kemudian sang ayah menidurkan kembali putrinya dan mendengar si anak berdoa,
"Tuhan, lindungi ibu, lindungi ayah, dan terimalah nenek."
Dan keesokan hari, sang nenek meninggal dunia. Astaga, pikir si ayah, anak gua bisa berkomunikasi dengan alam gaib! Seminggu kemudian si ayah kembali mendengarkan anaknya berdoa,
"Tuhan, lindungi ibu dan terimalah ayah."
Deg! Kontan saja sang ayah terkejut. Malam itu ia nggak bisa tidur memikirkan kejadian yang akan menimpanya besok pagi. Ketika mengemudi sampai kantor pikirannya nggak karuan. Jam makan siang telah lewat, namun tidak terjadi apa-apa. Si ayah makin cemas. Ia memilih menghabiskan hari itu di kantor, minum kopi dan begadang menunggu tengah malam tiba. Ketika jarum jam menunjukkan 00.01, si ayah lega. Hari itu telah lewat dan ia masih selamat. Dengan langkah ringan ia pun kembali ke rumah.
"Ya, ampun... tumben-tumbennya kamu kerja lembur. Ada apa sih?" tanya istrinya ketika membukakan pintu."Aku nggak mau ngomongin masalah ini. Pokoknya hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku," kata si suami.
Kata istrinya, "Kalau kamu mendengar cerita yang akan aku sampaikan, kamu pasti nggak akan menyangka kalau hari ini lebih buruk dari yang kamu duga. Tahu nggak, tadi pagi tukang susu langganan kita meninggal dunia ketika mengantarkan susunya kemari."

Bayangan hitam [humor]

Tengah malam tiba-tiba listrik padam. Bu Panurata pergi ke dapur hendak menyalakan lampu minyak cadangan. Ketika merunduk, dia melihat bayangan hitam berkelebat ke luar dari dapur menuju halaman belakang. Khawatir kalau-kalau bayangan itu adalah orang yang berniat buruk, bu Panurata mengambil batu dan melemparkannya ke arah bayangan hitam yang sekilas tampak di antara pohon pisang. Tidak ada reaksi apa-apa. Bulu kuduk bu Panurata mulai berdiri. Ia segera menutup pintu dapur dan bergegas ke dalam mencari suaminya. Betapa kaget hati bu Panurata ketika melihat suaminya tidak ada di tempat tidur. Bu Panurata khawatir kalau-kalau suaminya dibawa kabur oleh hantu. Tiba-tiba pak Panurata mengetuk pintu kamar sambil merintih kesakitan.
"Ada apa, Pak?".
"Ada hantu yang melempari saya dengan batu."

Semangka beracun [humor]

Seorang petani sangat kesal dengan anak-anak nakal yang seringkali mencuri semangka di ladangnya. Akhirnya ia menemukan akal. Di tengah-tengah ladang diberinya tulisan besar-besar yang ditancapkan dengan bambu. Bunyi tulisan itu :
AWAS, SATU DARI SEMANGKA-SEMANGKA INI TELAH DISUNTIK DENGAN PESTISIDA YANG SANGAT BERACUN.

Malam harinya petani itu tersenyum karena melihat anak-anak itu pergi tanpa mengambil semangka satupun. Pagi harinya ia turun ke ladang untuk memastikan keberhasilan triknya. Tidak terlihat tanda-tanda ada semangka yang hilang. Akan tetapi ia menemukan kertas karton di sebelah tulisan yang ia buat. Kertas tersebut bertuliskan:
KINI ADA DUA SEMANGKA YANG DISUNTIK PESTISIDA.