Tampilkan postingan dengan label Buddhist Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhist Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Beban

Dua biksu kembali pulang ke biara pada sore hari. Hujan turun dan ada genangan air di sisi jalan. Di satu tempat seorang gadis cantik berdiri tak dapat berjalan di seberang karena ada genangan air.
Biksu yang tua pergi dan menggendong gadis itu menyeberangi jalan, lalu melanjutkan perjalanannya.
Pada malam harinya biksu yang muda bertanya pada biksu yang tua, “Pak, sebagai biksu kita kan tidak boleh menyentuh wanita?”
Biksu yang tua menjawab, “Ya, saudaraku.”
“Lalu mengapa Anda menggendong wanta tadi di jalan?”
Biksu yang tua itu berkata, “Aku meninggalkannya di sisi lain jalan tadi, tapi kau masih menggendongnya.”

Sisi Seberang

Suatu hari seorang Buddhis dalam perjalanannya datang ke tepi sungai yang lebar. Menatap putus asa pada rintangan besar di hadapannya, dia berpikir berjam-jam bagaimana menyeberangi sungai itu.
Ketika dia hampir menyerah, dia melihat seorang guru besar di sisi seberang sungai. Buddhis muda itu berteriak pada sang guru, “Hai orang bijak, dapatkah kau memberitahuku bagaimana agar aku bisa sampai di seberang sungai ini?”
Guru itu berpikir sejenak lalu berteriak balik, “Anakku, kau sudah ada di seberang.”
Cara pandang kita bisa jadi berbeda dengan orang lain terhadap satu masalah yang sama. Bagi kita mungkin orang lain lebih beruntung, namun bisa saja bagi orang lain kitalah yang lebih beruntung dalam hal lain.

Kamis, 14 Mei 2015

Roda Doa, Om Mani Padme Hung

Roda doa atau Roda Mani, adalah sebuah roda yang diisi dengan mantra-mantra dan sutra yang sangat banyak yang dibungkus searah jarum jam mengelilingi sebuah sumbu. Beberapa roda doa berukuran kecil seperti gasingan.

Beberapa lainnya berukuran sangat besar sehingga dapat memenuhi sebuah ruangan. Seseorang memutar roda doa ukuran besar ini dengan memegang gagangnya dan kemudian berjalan searah jarum jam mengelilingi roda tersebut.

Jenis yang lainnya diletakkan pada air yang mengalir atau air terjun sehingga ia dapat memanen energi alami dan menyebarkan rahmat ke alam sekitarnya. Orang yang percaya memiliki keyakinan bahwa memutar roda doa ini atau mengibarkan bendera doa akan mengaktualisasikan doa-doa yang tertulis di dalamnya.

Propinsi Khan di Tibet mirip dengan daerah Barat Amerika yang liar. Orang-orang Kham adalah para penunggang kuda yang hebat, dan seperti halnya para penunggang kuda, mereka sangat mencintai kuda-kudanya. Hingga sekitar seabad yang lalu, Kham terdiri dari berlusin-lusin kerajaan yang lebih kecil, dimana setiap kerajaan tersebut memiliki angkatan perang sendiri, yang dibentuk melalui perekrutan wajib militer secara paksa.

Suatu ketika hidup seorang laki-laki tua jauh di sebelah timur Kham yang dikenal sebagai Pria Mani karena setiap hari, siang dan malam, dia selalu bisa ditemukan sedang memutar roda doa kecilnya dengan khusuk. Roda itu dipenuhi dengan mantra Kasih Sayang Yang Agung, Om Mani Padme Hung. Pria Mani itu hidup bersama anak lelakinya dan seekor kudanya yang bagus. Anak lelakinya adalah kebahagiaan dalam hidup pria tua itu; sedangkan kebanggaan dan kebahagiaan bagi anak lelaki tersebut adalah kudanya.

Istri pria tua itu, setelah melakukan kebajikan dan pengabdian yang panjang selama hidupnya, telah lama meninggal dan terlahir kembali di alam yang lebih beruntung. Sedangkan pria tua itu dan anaknya hidup sederhana, terbebas dari berbagai kebutuhan yang berlebihan, dan tinggal di salah satu rumah dari beberapa rumah batu yang kasar di tepi sungai di sebuah dataran yang luas.

Suatu hari kuda mereka menghilang. Tetangga-tetangga mereka ikut bersedih atas kehilangan satu-satunya harta milik pria tua yang berharga itu, tetapi pria tua yang selalu tenang itu tetap memutar roda doanya sambil terus menguncarkan mantra “Om Mani Padme Hung”, mantra nasional bangsa Tibet.

Kepada siapapun yang menyatakan duka-cita atas kehilangan kuda tersebut, ia hanya berkata,“Bersyukurlah untuk segala sesuatunya. Siapa yang bisa tahu apa yang baik dan apa yang buruk? Akan kita lihat ...”

Setelah beberapa hari, kuda yang hilang itu kembali, diikuti oleh sepasang kuda liar. Kuda-kuda liar ini kemudian dilatih oleh si pria tua dan anaknya. Para tetangga yang menyaksikan hal ini sangat bergembira dan mengucapkan selamat kepada pria tua itu. Pria tua itu hanya tersenyum dan berkata, “Saya berterima kasih ... Tapi siapa yang tahu? Kita akan lihat ...”.

Kemudian suatu hari, ketika mengendarai salah satu dari kuda liar itu, si anak lelaki jatuh dan kakinya mengalami patah tulang. Beberapa tetangganya membawa anak lelaki itu pulang ke rumahnya, mengutuk kuda yang liar itu, dan menyesali nasib si anak lelaki. Tetapi pria tua itu, duduk di sebelah ranjang anaknya, tetap memutar roda doanya terus menerus sambil dengan lembut membaca mantra Kasih Sayang Yang Agung dari Chenrenzig (Red: Avalokitesvara).

Ia tidak mengeluh maupun menjawab protes-protes tetangganya kepada nasib, tetapi hanya menganggukkan kepalanya dengan ramah, mengulangi apa yang pernah dikatakannya, “Sang Buddha adalah penuh kasih; saya bersyukur bahwa anak saya masih hidup. Kita akan lihat...”

Minggu berikutnya petugas-petugas militer muncul, mencari para wajib militer muda untuk dikirim ke garis depan pertempuran. Semua pria muda di daerah itu segera dibawa, kecuali anak lelaki pria tua itu yang sedang terbaring di ranjangnya.

Kemudian para tetangganya mengucapkan selamat kepada pria tua itu untuk keberuntungannya yang sangat besar, dan menganggap semua itu adalah berkat karma baik yang dikumpulkan oleh si pria tua dengan selalu memutar roda doanya dan selalu terus menerus mengucapkan mantra dari sela-sela bibirnya yang keriput.

Si pria tua hanya tersenyum dan tidak berkata apapun. Suatu hari ketika anak lelaki dan ayahnya sedang melihat kuda-kuda mereka yang bagus merumput di padang, pria tua yang pendiam itu sekonyong-konyong menyanyi :

“Hidup terus berputar dan berputar,
naik dan turun laksana kincir air;
Hidup kita adalah laksana keranjang-keranjang kincir itu,
kosong dan berisi bergantian terus menerus.

Laksana tanah liat dari si pembuat tembikar,
keberadaan jasmani kita berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya:
Bentuk-bentuk itu hancur dan terbentuk lagi dan lagi,

Yang rendah menjadi tinggi, yang tinggi akan jatuh;
gelap akan berubah menjadi terang,
dan yang kaya akan kehilangan semuanya.

Jika kau, anakku, adalah anak yang luar biasa,
kelak kamu akan terlahir kembali ke dalam sebuah biara.
Tetapi jika kau sangat cemerlang, anakku,
Maka engkau akan menjadi pejabat yang mengurusi perselisihan orang lain.

Seekor kuda hanya akan menyebabkan kesulitan seharga seekor kuda.
Kekayaan adalah baik, Tetapi dengan cepat akan kehilangan kesenangannya,
dan dapat menjadi beban, sumber pertengkaran, pada akhirnya.

Tak seorang pun tahu karma apa yang sedang menunggu kita,
tetapi apa yang kita tabur sekarang akan matang
dalam kehidupan-kehidupan yang mendatang, itu adalah pasti.

Maka berbuatlah baik pada semuanya dan jangan terbias,
berdasarkan ilusi tentang ‘memperoleh’ dan ‘kehilangan’.
Janganlah punya harapan maupun ketakutan,
pengharapan maupun kecemasan;

Bersyukurlah untuk segala sesuatunya,
apapun jatah yang kamu punya.
Terimalah segala sesuatunya;
terimalah setiap orang; dan ikutilah
Hukum Sang Buddha yang tidak pernah salah.

Hiduplah sederhana dan gampang dirawat, tetaplah
secara alamiah hidup tenang dan dalam damai.
Kau dapat menembak anak panah ke langit jika kau suka, anakku,
tetapi anak-anak panah itu pada akhirnya pasti akan jatuh kembali ke tanah.”
 

Ketika pria itu bernyanyi, bendera-bendera doa beterbangan melayang menutup kepala pria tua itu, dan roda mani yang kuno tersebut, yang diisi dengan ratusan mantra tulisan tangan, tetap berputar. Keadaan hening.

Kejujuran Raja Sutasoma

Pada suatu waktu, sang Bodhisattva dilahirkan sebagai Raja Maha Sutasoma. Pada waktu itu hiduplah pula seorang raja bernama Purusadha, yang di usir ke hutan karena gemar makan daging manusia. Kemudian ia berdiam di bawah sebuah pohon Banyan, menangkap dan memakan orang–orang lewat yang tersesat.
Pada suatu hari Raja Purusadha ingin melaksanakan sumpahan ketika sebuah duti mengganggu kakinya; dimana ia bersumpah akan mengorbankan seratus orang prajurit kepada dewanya. Dewa itu sendiri menyesalkan niat Purusadha, maka untuk mengindarkan pengorbanan manusia sebanyak itu, Purusadha diperintahkan untuk mengorbankan Raja Sutasoma saja.
Kebetulan Raja Sutasoma yang menuju ke sebuah danau akan mandi, berjumpa dengan seorang brahmana yang bermaksud untuk membacakan syair-syairnya untuk raja. Maha Sutasoma mempersilakan brahmana tersebut menunggu di istana san akan mendengarkan syair-syairnya setelah selesai mandi. Sewaktu selesai mandi, keluarlah raja Purusadha dari semak-semak dan membawa lari raja Sutasoma. Raja tidak gentar dan tetap tenang, hanya menyesal tidak dapat menempati janjinya untuk mendengarkan syair-syair sang brahmana. Hal ini dinyatakannya kepada Purusadha, yang kemudian melepaskan sang Raja dengan perjanjian akan kembali lagi apabila janji kepada brahama itu telah ditepati.
Raja Sutasoma kembali ke Istana, mendengarkan syair-syair sang brahmana, dan memberikanya hadiah. Meskipun telah ditahan tahan oleh seluruh anggota istana, Raja yang tetap hatinya itu menuju hutan menemui Purusadha kembali. Purusadha sedang menyiapkan api, heran melihat Raja Sutasoma datang kembali. Katanya, "Gila kau, saya lepasklan kau dengan tidak mengharapkan kau kembali lagi. Sekarang kau kembali, mengertilah bahwa kau akan ku bunuh juga. Mengapa kembali?" Sang Raja menjawab: "Hai Purusadha, menurut pendirianmu aku berbuat gila, tetapi aku tetap memenuhi janjiku. Aku berjanji akan kembali dan di sinihlah aku kembali. Aku lebih menghargai janjiku daripada hidupku, kau boleh mengorbankan aku". Purusadha yang dalam batinnya sesungguhnya tidak jahat, sangat terharu mendengar jawaban Sutasoma yang mempunyai ketetapan hati itu dan ingin mendengarkan ajaran ajaran utama. Segera ia duduk pada kaki Sutasoma dan asyik mendengarkan petuah-petuah yang berharga. Seketika ia berubah menjadi orang baik kembali, ia mengurungkan pergorbanannya kemudian mendapatkan kembali kerajaanya yang semula dan memerintah dengan bijaksana.
Sabda Sang Bodhisattva*) "Sesudah mendapatkan penerangan, untuk memenuhi janjiKu, Aku mengorbankan nyawaKu dan menyelamatkan seratus satu orang prajurit raja. Itulah kesempurnaanKu dalam menepati janji".
*) Sang Bodhisattva sebagai Raja Maha Sutasoma kemudian dikenal sebagai Buddha Gotama. Cerita di atas digambarkan di dalam Candi Borobudur dalam relief pada serambi pertama dinding luar deret atas dari pintu gerbang Selatan ke jurusan Barat pada relief nomor 23,24,25 dan 26.
(Kiriman: Dra Harumwati K, Tangerang. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma, atas izin Ir. Lindawati T)
"Setelah membayar hutangku kepada brahmana itu aku akan kembali lagi, membawa kegembiraan pada matamu dan membayar hutangku padamu. Jangan menganggap bahwa hal ini merupakan muslihat untuk melarikan diri darimu, Oh Raja. Orang sepertiku tak mempunyai rasa takut. Aku menganut jalan yang berbeda dari yang sebagian besar orang tempuh."
Ucapan Bodhisattva menjengkelkan Purusadha yang menganggapnya sekedar berbasa-basi. Hingga akhirnya ia berpikir, "Jelas sekali ia membualkan kejujuran dan kebenarannya. Baiklah bila demikian, aku akan melihat kecintaannya terhadap kebenaran dan kebajikan!"
Kepada Bodhisattva ia lalu berkata: "Baiklah kalau begitu pergilah. Kita lihat kejujuranmu yang teguh dalam perbuatan, kita lihat bagaimana engkau menepati janjimu. Kita lihat kekuatan kebenaranmu. Setelah melakukan apa yang kau inginkan kepada brahmana, kembalilah segera! Sementara aku akan menyiapkan tungku pembakaranmu."
Sutasoma Jataka

Kisah Gajah Putih

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA)

Suatu ketika Bodhisattva hidup sebagai seekor gajah putih yang sangat besar di suatu hutan yang luas, dimana ketiga sisinya dikelilingi oleh sebuah padang pasir. Pegunungan membatasi salah satu sisi dari hutan besar ini, dimana sebuah danau besar dipenuhi dengan berbagai jenis bunga teratai, membuatnya menjadi tempat kediaman yang menyenangkan dan menarik. Hutan ini sedikit diketahui oleh orang-orang dan suara manusia hampir tidak pernah terdengar, di bawah bayangan pepohonan yang sudah sangat tua yang dahan-dahan di bagian atas pohon telah menyatu dan membentuk ruangan hijau yang luar biasa besarnya. Di sinilah raja gajah tinggal sendiri dalam kemegahan. Makanannya adalah dedaunan dan dahan-dahan pepohonan dan minumannya adalah air dari danau teratai.
Suatu hari, ketika gajah putih mengembara mendekati perbatasan hutan menuju hutan belantara, Ia mendengar dari kejauhan suara-suara dari banyak orang, yang sepertinya berada dalam kesulitan besar. Ia mendengarkan dengan seksama dan menduga bahwa rombongan orang tersebut pasti telah tersesat di gurun pasir karena suara yang didengarnya adalah tangisan yang menyedihkan.
“Mungkin orang-orang ini tersesat di gurun pasir, atau mungkin diusir karena perintah dari seorang raja dan mereka menderita kelaparan dan kehausan, saya harus menghampiri mereka dan melihat apa yang dapat saya lakukan untuk mereka,” pikir sang gajah yang penuh welas asih. Dan dengan cepat Ia berlari ke tempat dimana suara tangisan yang menyedihkan berasal.
Karena tidak terdapat pepohonan di gurun pasir, Ia dapat melihat jarak yang sangat jauh, dan dari kejauhan Ia melihat sekumpulan orang yang sedang menangis dan merintih, yang kelihatan jelas mengalami kelaparan, kehausan dan kelelahan.
Orang-orang yang seluruhnya berjumlah sekitar tujuh ratus orang, pada awalnya ketakutan ketika mereka melihat seekor gajah putih besar berlari ke arah mereka. Tetapi karena mereka terlalu lemah untuk melarikan diri, mereka pasrah dan semua berpikir bahwa raja hutan yang sangat besar ini dengan sangat mudah akan menginjak-injak mereka sampai mati.
Ketika Bodhisattva dalam wujud gajah melihat ketakutan mereka, Ia berseru dengan suara manusia yang lembut: “Jangan merasa takut! Janganlah takut, saya tidak akan membahayakan kalian.”
Orang-orang yang menderita itu menatap gajah putih yang sangat besar dengan rasa kagum sekaligus takut. Tetapi melihat mata gajah yang penuh kebaikan dan mendengar suaranya yang lembut, rasa takut mereka menjadi berkurang.
Dengan mengangkat belalainya sebagai tanda memberi salam, sang gajah
berkata kepada mereka. “Bagaimana kalian bisa sampai ke tempat terpencil ini? Apa yang membawa kalian ke sini, di tempat yang jauh dari masyarakat?” Salah satu dari orang-orang malang tersebut menjawab, “Aduh, kami telah dihalau pergi dari negeri kami oleh raja kami yang marah, dimana seribu orang diusir ke gurun pasir untuk menemui ajalnya. Tiga ratus orang di antara kami telah meninggal sehingga tinggallah kami tujuh ratus orang yang menunggu kematian di sini, karena kami terlalu lelah untuk pergi lebih jauh, serta kami kelaparan dan kehausan. Dapatkah Anda membantu kami? Dapatkah Anda menunjukkan kami arah ke tempat makan dan peristirahatan?”
Sang gajah menjawab: “Saya turut merasakan kesedihan kalian. Raja kalian
pasti belum pernah diajarkan mengenai penderitaan karena kelaparan dan
kematian, jika tidak, beliau tidak mungkin mengusir kalian ke padang pasir. Oh!
Inilah penderitaan karena kesalahpengertian!” Sambil berucap demikian, sang gajah
yang welas asih berpikir: “Bagaimana saya dapat membantu orang-orang malang
yang menyedihkan ini, orang-orang kelaparan yang mengharapkan pertolongan dari
saya. Bahkan jika mereka dapat menjangkau hutanku, bagaimana mereka dapat
menemukan makanan yang cukup di sana? Jika saya berikan tubuhku kepada
mereka, dengan dagingku mereka mungkin akan bertahan hingga mereka dapat
menjangkau pegunungan, menenangkan diri dan memulai kehidupan baru. Saya
akan membantu mereka dengan memberikan tubuhku, yang bagaikan sebuah rakit
di lautan kesedihan!”
Sewaktu sang gajah sedang berpikir bagaimana Ia dapat membantu
kerumunan orang kelaparan yang menderita ini, mereka mengangkat tangan
memohonnya untuk menunjukkan tempat dimana mereka dapat menemukan
perlindungan, minuman dan makanan.
Sang gajah menatap mereka dengan air mata welas asih di matanya,
mengangkat belalainya dan menunjuk ke arah pegunungan sambil berkata: “Ikutilah
arah yang saya tunjukkan. Kaliann akan menemukan sebuah hutan dan sebuah
danau besar yang dipenuhi dengan teratai. Hilangkan dahaga kalian dan
beristirahatlah. Ketika kalian sanggup melanjutkan perjalanan, kalian akan
menemukan mayat seekor gajah di dekat danau di kaki gunung, yang baru saja
binasa karena terjatuh dari puncak gunung. Ambillah dagingnya dan puaskanlah
rasa lapar kalian, ambillah sisanya sebagai persediaan makanan dalam perjalanan
dan isilah ususnya dengan air, gunakanlah usus tersebut sebagai kantong air.
Dengan persediaan makanan dan minuman demikian, kalian akan dapat
menjangkau lembah di belakang gunung dengan mudah, dimana kalian dapat
menetap dan hidup berkecukupan dengan tersedianya makanan dan minuman yang
berlimpah. Ikutilah petunjukku dan segera mulailah pencarian keselamatan kalian.”
Setelah mengucapkan kata-kata yang menenangkan ini, sang gajah putih
berlari menuju puncak gunung dari sisi yang lain. Ia telah bertekad bahwa danau teratai kesukaannya akan memberikan minuman bagi mereka yang lelah dan tubuhnya sebagai makanan bagi yang kelaparan.
Setelah tiba di atas puncak gunung dengan tebing yang curam di hadapannya, sang gajah putih berhenti sejenak dan berpikir: “Walaupun sekarang saya tidak merealisasi Nirvana karena pengorbanan saya untuk orang-orang yang kelaparan ini, jika saya dapat membantu mereka sekarang dengan memberi makan tubuh mereka, agar di masa mendatang saya dapat menghantarkan mereka keluar dari hutan belantara Samsara.”
Dengan hati gembira, sang gajah menghempaskan dirinya ke bawah tebing. Dikatakan sewaktu terjatuh, tubuhnya bersinar bagaikan awan di musim gugur atau bagaikan bulan terbenam di balik pegunungan.
Gunung bergetar dan bumi pun berguncang. Mara, Sang Penggoda terusik dan para dewa hutan melambaikan lengan-lengan hijau ramping mereka dalam ketakjuban, menunjuk ke atas dan hujan bunga turun di atas tubuh raja para binatang yang hancur tersebut.
Gita-gita pujian dan penghormatan bergema di udara, sementara para dewa hutan mengelilingi tubuh yang terjatuh tersebut, bersujud dengan penuh hormat di hadapan makhluk yang telah memberikan nyawanya dengan suka rela.
Sementara itu, tujuh ratus orang kelaparan yang telah mengikuti petunjuk sang gajah putih, menemukan danau teratai dengan mudah. Lalu mereka menghilangkan dahaga mereka dan menyegarkan tubuh lapar mereka dengan air sejuk dan menyantap akar-akar teratai.
Setelah beristirahat sejenak, mereka pergi mencari mayat seekor gajah, seperti yang telah diberitahukan kepada mereka, dan tidak jauh dari danau, mereka melihat tubuh seekor gajah, dimana tampak jelas bahwa kematiannya terjadi hanya beberapa waktu yang lalu. Tubuh tersebut terlihat seperti gunung yang dipenuhi bunga-bunga. Lalu mereka berhenti sejenak dalam kekaguman dan beberapa dari mereka berseru: “Bukankah ini raja gajah yang menghampiri kita dan memberikan petunjuk kepada kita tentang bagaimana keluar dari kesulitan?” Yang lain menangis: “Oh, tentu saja kita tidak dapat memakan tubuh makhluk yang telah membebaskan kita dari penderitaan?” Yang lain berkata: “Iya, betul, inilah gajahnya. Lihatlah kedua gading yang luar biasa, putih bagaikan salju, tetapi sekarang ditutupi debu gunung dan lihatlah belalai besar yang berbentuk seperti ujung jari yang beliau gunakan untuk menunjukkan arah yang benar kepada kita. Jadi, Ia telah mengorbankan tubuhnya untuk kita, sungguh sebuah persahabatan yang luar biasa! Sungguh welas asih yang tiada taranya!” Sebagian berseru, “Pastinya Ia sedang menuju penyempurnaan diri! Siapakah gurunya di hutan ini? Kita tidak dapat menyantap tubuh dari makhluk yang telah mengorbankan dirinya. Kita harus mengkremasinya sebagaimana penghormatan terhadap seorang raja!”
Beberapa orang yang lebih tabah berkata, “Tetapi, Ia telah mengarahkan kita dan memberitahu kita untuk memakan tubuhnya demi membebaskan kita dari kelaparan: marilah kita ikuti petunjuknya sehingga pengorbanan tubuhnya untuk kita tidak sia-sia. Ia telah mengorbankan segalanya untuk memberi makan para tamunya. Dan jika kita tidak menerima pemberiannya maka pengorbanannya akan sia-sia.”
“Marilah kita mengikuti permintaannya dan kemudian kita kremasikan sisa tubuhnya seolah-olah Ia adalah sanak saudara kita dan memberikan penghormatan kepadanya berdasarkan cara kita sendiri.”
Lalu mereka menerima pemberian tersebut dengan menjadikan tubuh sang gajah sebagai makanan mereka, menggunakan isi perutnya sebagai kantong air. Mereka meneruskan perjalanan setelah mengkremasikan sisa tubuh gajah dengan upacara seperti layaknya untuk seorang raja.
Mereka sampai di lembah subur di belakang pegunungan dengan selamat. Sejak saat itu, mereka memuja arca sang gajah putih sebagai pembimbing dan pelindung mereka.
Di lembah Gajah Putih, kisah penyelamatan keluar padang pasir telah turun-temurun disampaikan dari ayah kepada anaknya.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Potowa Center.
Oktober 2011.

Kisah Tentang Kurban

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA)
Dalam sebuah naskah Sanskerta kuno dikatakan bahwa suatu ketika Bodhisattva pernah dilahirkan di keluarga kerajaan agung dan beliau mewarisi takhta kerajaan ayahnya secara sah. Kedudukan ini beliau peroleh dari potensi-potensi positif yang telah dilakukannya di kelahiran lampau.
Seperti kita ketahui, seringkali jika seorang raja adalah baik dan bajik, maka negeri di bawah pimpinannya juga menjadi baik atau sebaliknya — jika rakyat dalam suatu negeri berperilaku baik maka mereka akan memiliki seorang raja yang baik. Demikianlah yang terjadi di kerajaan yang dipimpin oleh Bodhisattva ini. Tidak ada percekcokan, tidak ada wabah penyakit, dan yang ada hanyalah kedamaian dengan semua kerajaan di sekitarnya. Raja bagaikan seorang Muni dalam hidupnya, teladan baiknya diikuti oleh semua orang yang ada di sekitarnya, dan cahaya kebajikan memancar dari singgasananya, menyinari hati rakyatnya.
Suatu waktu, terjadi malapetaka yang sangat menyulitkan kondisi di negeri ini. Tiada yang tahu apakah orang-orang telah melakukan sesuatu yang keliru atau karena para dewa hujan sedang marah. Musim kemarau yang berpanjangan dan mengerikan terjadi dan semua menderita kekeringan. Sumur-sumur mengering, tumbuh-tumbuhan mulai menjadi layu, dan wabah penyakit mengancam.
Raja khawatir apakah ia atau rakyatnya telah mengabaikan kewajiban religious tertentu sehingga kemarau berpanjangan ini muncul sebagai akibatnya. Oleh karena itu, beliau berkonsultasi dengan para pendeta kerajaan, para Brahmana, dan menteri-menteri untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan untuk mengakhiri malapetaka ini. Ahli ajaran Veda mengatakan bahwa untuk mendatangkan hujan, perlu dilakukan kurban hewan yang banyak. Karena mereka membaca kitab-kitab Veda bahwa kurban hewan demikian telah mendatangkan hujan di masa lampau. Raja sangat kaget atas saran tersebut. Beliau tidak menjawab tetapi berusaha mengarahkan pemikiran para penasehatnya pada hal-hal yang lain.
Namun mereka tidak puas dan membantah, “Baginda harus memastikan agar tidak melalaikan tugas-tugas kerajaan. Mengapa Baginda tidak setuju untuk melakukan kurban hewan ini, yang merupakan penghubung menuju dunia para dewa?”
Kemudian mereka berkata kepada raja: “Baginda menjalankan kewajiban-kewajiban terhadap para leluhur, pada Rishi, dan para bijaksana, serta terhadap manusia, namun mengapa tidak terhadap pada dewa dengan melakukan kurban hewan? Oleh karena itu, pertimbangkanlah kesejahteraan rakyat Baginda dan lakukanlah upacara kurban sejumlah hewan untuk para dewa, sehingga kita mendapatkan hujan.”
Raja berpikir “Bagaimana mungkin pembunuhan hewan dapat menyenangkan para dewa, yang terbiasa hidup dari amrita? Tentunya pembunuhan tidak mungkin ada hubungannya dengan kebajikan! Dan hewan-hewan dibunuh sementara para Brahmana membaca doa, yang tujuannya adalah untuk membawa para hewan menuju surga. Lalu mengapa para Brahmana tidak mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai kurban, karena bukankah mereka ingin ke surga? Hewan-hewan tidak ditanya apakah mereka mau dikurbankan dan mereka belum menghentikan tindakan-tindakan negatif mereka sebelum dikurbankan, jadi bagaimana mungkin kematian dapat membantu mereka mencapai surga? Tidak! Jika ada ajaran-ajaran seperti ini, maka itu keliru. Saya akan memilih solusi lain untuk keluar dari malapetaka ini.”
Setelah mempertimbangkan hal ini, Baginda berkata kepada para penasehatnya: “Dengarkanlah keputusan saya. Saya tidak hanya akan memerintahkan agar dilakukan kurban hewan, tetapi saya juga akan melakukan kurban manusia. Petugas-petugas saya di seluruh bagian negeri ini akan mengumpulkan kurban-kurban yang layak untuk dikurbankan. Para ahli nujum akan menentukan hari yang tepat, ketika posisi bulan dan bintang menguntungkan. Lakukanlah semua persiapan untuk menyambut pengurbanan besar ini.”
Para pendeta dan para penasihat sangat terkejut, karena mereka tidak menduga keputusan ini. Mereka berkata, “Jika seribu manusia ditangkap dalam satu gebrakan, rakyatmu akan memberontak Baginda. Oleh karena itu, lakukanlah satu pengurbanan manusia dulu, kemudian baru selanjutnya secara bertahap.”
Raja menjawab: “Jangan takut akan pemberontakan rakyatku. Libatkan saya pada pertemuan dengan orang-orang kota dan desa, saya sendiri yang akan menyampaikan hal ini pada mereka.”
Lalu diadakanlah sebuah pertemuan besar dan raja berbicara kepada rakyatnya dengan hikmat, “Musim kemarau ini berkepanjangan dan kalian telah memohon saya mengupayakan cara terbaik untuk mengakhirinya; oleh karena itu saya bermaksud membuat sejumlah kurban manusia kepada para dewa.
Tetapi mereka yang jujur, bermurah hati, dan yang tidak berselisih dengan keluarganya atau memiliki sifat yang bajik; tidak perlu takut untuk dijadikan kurban. Saya akan mengirim utusan yang jujur dan berpandangan jauh ke dapan, ke semua bagian negeri ini. Mereka akan dikenal dari pakaian mereka dan mereka akan mengamati tingkah laku kalian serta memberi laporan pada saya. Siapapun yang ditemukan bersalah oleh para pengawas ini, akan dibawakan kepada saya untuk dikurbankan. “Dengarkanlah rakyatku, inilah titahku!”
Orang-orang pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan agak cemas, namun mereka semua bertekad untuk melakukan hal yang baik agar mereka tidak dijadikan kurban. Raja mengirim para petugas dan dengan pukulan genderang, hal ini setiap hari dikumandangkan ke seluruh kota dan desa bahwa para pelaku ketidakbajikan akan dibawa ke hadapan raja untuk dikurbankan, dan tindakan negatif mereka sendiri akan membawa mereka pada tempat pengurbanan.
Ketika orang-orang melihat para petugas raja ada di mana-mana dan mendengar pengumuman tersebut setiap hari, mereka mulai mengubah tindakan-tindakan mereka – pertikaian berhenti, keramahtamahan dijalankan di mana-mana, sikap baik dan kerendahan hati muncul di mana-mana, kepatuhan terhadap orang tua dan guru-guru terlihat di setiap rumah, begitu pula penghormatan kepada para dewa dan orang-orang yang tua. Seluruh masyarakat di negeri tersebut hidup seperti di masa Kreta-Yuga (masa dimana seluruh masyarakat berperilaku baik). Rasa takut akan kematian telah mengingatkan mereka semua pada semua kebajikan yang telah mereka lupakan sebelumnya, dan dalam waktu singkat semua orang bertingkah-laku dengan cara yang sangat baik.
Namun para utusan tidak lengah dalam pengawasan mereka dan orang-orang harus terus menjalankan hidup yang bajik. Ketika raja mendengar dari para utusannya bahwa mereka tak dapat menemukan satu pun pelaku yang tidak bajik, beliau sangat gembira dan memberikan mereka hadiah yang berlimpah atas berita-berita baik yang mereka sampaikan. Dan beliau mengumpulkan para menteri dan berkata, “Tiada satu pun pelaku yang tidak bajik di negeriku. Karena orang-orang berperilaku bajik, maka merekalah yang layak menerima pengurbanan; jadi biarkanlah saya melakukan pengurbanan dengan cara saya sendiri. Kumpulkan mereka yang miskin, yang buta, dan yang pincang, dan saya akan membagikan hadiah, agar kemiskinan menghilang di negeri ini.”
Para menteri mendirikan tempat-tempat untuk orang miskin di mana-mana dan yang miskin mendapatkan makanan dan pakaian. Kebahagiaan dan kesejahteraan menyebar ke seluruh penjuru dan orang-orang tidak lagi melakukan cara-cara dan tindakan-tindakan yang tidak bajik. Wabah penyakit dan semua penyakit menghilang. Angin musim menurunkan hujan secara teratur; sumur-sumur dan sungai-sungai berlimpah dengan air yang bersih dan jernih, padi-padi tumbuh subur, dan tanaman-tanaman obat menghasilkan khasiat penyembuhan bagi seluruh rakyat.
Oleh karena, melalui daya kekuatan dari raja yang baik dan keagungan dari pengurbanan yang dilakukan dengan caranya sendiri, negerinya terselamat dari semua kesulitan dan rakyatnya hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan. Mereka mendoakan raja yang sangat bajik tersebut atas semua yang telah beliau lakukan dan mereka tidak lupa bahwa jika mereka mulai berperilaku negatif lagi, maka mereka akan ditangkap dan dikurbankan, seperti telah diumumkan oleh raja mereka berulang kali.
Selama mengumumkan bahwa kurban akan dilakukan, raja melepaskan pakaian kebesarannya dan mengenakan kulit rusa hitam sebagai pakaiannya. Beliau juga melepaskan payung kerajaan dan mahkotanya, berpotongan rambut seperti mereka yang melakukan upacara kurban yang besar, seperti cara-cara yang dijelaskan dalam kitab-kitab Veda. Begitulah beliau menjalankan hidupnya dan rakyatnya memuja beliau seperti seorang dewa.
Teladannya juga mempengaruhi raja-raja lainnya untuk memperbaiki negerinya dan lebih memperhatikan rakyatnya. Karena kemashyuran dari raja yang sangat baik, kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya menyebar luas ke seluruh dunia timur.
Kebaikan hati yang tulus, kebijaksanaan, dan kebajikan terilustrasi dalam cerita ini mengenai salah satu kehidupan Bodhisattva, yang sedang mengupayakan jalan menuju kesempurnaan, untuk menjadi “Buddha,” Penyelamat bagi rakyatnya.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Potowa Center.

VYAGHRI JATAKA

Kelahirannya Berkaitan Dengan Kisah Tentang Harimau
Belas kasih Sang Buddha menjangkau seluruh makhluk hidup. Belas kasihnya yang sempurna, tiada terlukiskan serta tak terbatas. Dikumandangkan dalam seluruh kelahiran masa lampaunya. Sebelum menjadi seorang Buddha, Bodhisattva dalam rangkaian kelahirannya yang terlalu banyak untuk diingat, berdasarkan kebijaksanaannya, memberkati dunia dengan tiada terhitung peragaan belas kasihnya, yang ditunjukkan melalui perbuatan dana, kata-kata yang menyenangkan, pertolongan serta kesamaan antara ucapan dengan perbuatannya.
Dalam salah satu kelahirannya, Bodhisattva terlahir dalam keluarga brahmana yang dihormati karena kemurnian sila serta ketekunan ibadahnya. Sebagai hasil dari penimbunan kebajikan dalam kehidupan lampaunya, ia mendapati dirinya bergelimang dalam kekayaan, kedudukan dan kemasyhuran.
Sebagai pemuda, kedalaman kepandaiannya dicapai berkat kegigihannya dalam belajar. Dengan segera ia mahir dalam seni serta pengetahuan yang sangat hebat hingga bahkan para brahmana menghormatinya Sebagai suri teladan, seperti kitab-kitab sendiri; bagi para kesatria perang, ia dihormati laksana seorang raja. Bagi mereka yang haus akan pengetahuan, ia tampak sebagai mata air pengetahuan yang tak akan pernah kering; dan bagi rakyat banyak, ia bagaikan seorang dewa.
Namun demikian dirinya tak merasa senang pada kekuasaan, kekayaan ataupun kemasyhuran. Karma masa lalunya dan perenungannya terhadap Dharma yang terus-menerus, telah membuat batinnya murni; ia melihat segala sesuatu dengan jelas bahwa penderitaan yang tiada akhirlah yang menyertai kebahagiaan duniawi, di samping sikap penolakan terhadap samsara memang telah mengakar dalam dirinya. Tanpa ragu, ia menjauhkan diri dari kehidupan rumah tangga, seolah seperti suatu penyakit, pindah ke tempat pengasingan di hutan sepi, yang kemudian menjadi terhias dengan kehadirannya.
Di tempat tersebut, bebas dari keterikatan dan seimbang, ia memancarkan ketenangan batin. Ia mempengaruhi bahkan orang-orang duniawi yang tak tertarik pada kebajikan sekalipun, membuat mereka berpaling dari keterikatannya terhadap perilaku jahat. Kebijaksanaan serta kebajikan beliau tersebar ke segala penjuru, melembutkan bahkan hati seekor binatang yang sangat buas sekalipun, hingga mereka berhenti saling menyakiti satu sama lain; sebaliknya, bahkan mulai menjalani hidup seperti sang pertapa. Melalui kekuatan kemurnian sila, pengendalian indriawi, kepuasan dan belas kasihnya, Bodhisattva, pada saat tak berhubungan dengan makluk-makhluk duniawi, tetap menunjukkan belas kasihnya kepada semua makhluk.
Mengingat bahwa keinginannya hanya sedikit, sikap kepura-puraan tidak dikenalnya; penghormatan, perolehan dan ketenangan, tidak menarik baginya. La bahkan membuat kagum para dewa, yang datang kepadanya untuk menyampaikan hormat. Mendengar tentang penolakan duniawi yang dilakukannya, para sahabat dekat yang telah tertarik padanya karena kebajikannya, meninggalkan keluarga mereka dan bergabung menjadi siswanya. la menerima mereka dengan senang hati dan mengajari mereka apa yang disebut sebagai tingkah laku utama, rasa puas, penyucian indriawi, sikap sadar, ketidakterikatan, meditasi pada maitri karuna serta ajaran-ajaran semacam lainnya.
Kenyataan kebahagiaannya menarik para siswa yang memiliki sifat-sifat seperti dirinya. Dan melalui ajaran-ajarannya, sebagian besar dari para siswanya berhasil mencapai realisasi serta berdiam dalam kebajikan, dengan demikian pintu yang menuju ke alam rendah telah ditutup dan gerbang kebahagiaan telah terbuka lebar.
Pada suatu hari, Mahasattva, dengan diiringi oleh seorang siswanya bernama Ajita, pergi menyusuri jalan menuju ke gunung, ke tempat yang sesuai untuk melakukan meditasi. Ketika mereka melintasi sebuah jurang yang tertutup semak belukar, ketenangan mereka terganggu oleh suara geraman binatang buas.
Bodhisattva mencarinya melalui jalan setapak di tepi jurang menuju ke sebuah ngarai kecil yang berada jauh di bawah, lalu melihat seekor harimau muda yang bermata sayu dan bertubuh lunglai. Jelas sekali bahwa ia lemas, sudah tidak makan selama beberapa hari disebabkan karena kesulitan sehabis melahirkan. Tersiksa oleh rasa lapar, ia mulai menatap anaknya sendiri untuk diterkam. Bodhisattva melihat bahwa anak harimau yang kehausan, dengan tanpa rasa takut, penuh rasa percaya, mendekati ibunya yang menatapnya dengan tajam dan menggeram seolah-olah ia anak harimau lain.
Tergetarlah hati Bodhisattva, bagaikan pohon besar yang terguncang oleh gempa bumi, terguncang oleh derita yang dilihatnya. Demikianlah orang yang sungguh berbelas kasih tersentuh oleh penderitaan kecil makhluk lain, bahkan tak menghiraukan penderitaan berat dirinya sendiri.
Didorong oleh belas kasihnya yang besar, ia berkata kepada siswanya: "Oh, lihatlah betapa buruknya mengasihi diri sendiri; seorang ibu akan memakan anaknya demi memuaskan rasa laparnya! Demikianlah, teman ketidakpantasan di dalam samsara. Siapakah yang kemudian akan menuruti kecintaannya pada diri sendiri, bila mereka melihat apa yang akan diakibatkannya! Cepatlah pergi dan carikan mereka makanan, agar ia tidak menyakiti anaknya sendiri, dengan begitu juga tidak menyakiti dirinya sendiri. Aku akan berusaha menghalanginya sampai engkau kembali."
Siswanya pergi seperti yang diperintahkannya, tak menyangka bahwa Bodhisattva menjauhkan dirinya dengan alasan yang sama sekali berbeda. Karena Bodhisattva berpikir;
"Mengapa aku harus mencari daging dari tubuh makhluk lain bila tubuhku sendiri tersedia? Mencari daging makhluk lain belum dapat dipastikan, dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menolong. Tubuh sesungguhnya lemah, tak memuaskan, selamanya kotor dan penyebab derita. Sungguh bodoh tak menggunakannya demi kebajikan makhluk lain.
Hanya dua alasan yang membuat orang mengabaikan penderitaan makhluk lain, yaitu adanya keterikatan, dan ketidaksanggupan untuk memberikan yang dibutuhkan. Sebaliknya aku tidak merasa tenang selagi makhluk lain menderita; bilamana aku mempunyai kemampuan untuk menolong, mengapa aku tidak melakukannya?
Bahkan bila mereka yang menderita itu telah melakukan suatu kejahatan yang berat, aku tak dapat menahan apa yang kumiliki; hatiku akan terbakar oleh rasa sesal tiada terkira, seperti semak kering yang dilalap api. Karenanya, aku akan mencegah penyebab penderitaan ini dengan menjatuhkan diriku sendiri dari atas tebing ini. Tubuhku akan mencegah harimau itu memakan anaknya sendiri dan menghindarkan anak-anaknya mati ditaring ibunya.
Perbuatan ini akan membesarkan hati mereka-mereka yang berusaha untuk menolong dunia, sekaligus menjadi teladan bagi mereka Yang lemah dalam berusaha. Ini akan diingat oleh mereka yang mengerti arti kemurahan hati, dan akan memacu pikiran kebajikan. Perbuatan ini akan membuat kecewa Mara dan menggembirakan para sahabat yang memiliki sifat-sifat Kebuddhaan, membuat malu mereka yang mementingkan diri sendiri, sombong serta penuh nafsu. Ini akan memberikan dorongan keyakinan kepada para praktisi Mahayana, membuat bingung mereka yang mencela kemurahan hati. Pada saat yang sama, ini akan membersihkan jalan menuju kelahiran di alam surga bagi mereka yang senang dalam beramal dana. Aku akan memenuhi kehendak agungku, yaitu membawa kebajikan bagi makhluk lain menggunakan tubuhku sendiri, dengan demikian aku akan dapat mencapai Pencerahan Agung.
Sebagaimana matahari yang memupus kegelapan dan membawa terang, demikian pula semoga perbuatan ini mengakhiri penderitaan dunia, membawa kebahagiaan selama-lamanya. Aku tidak melakukan perbuatan ini demi pujian atau harapan akan kedudukan, bukan pula demi ketenaran serta kebahagiaan yang kekal, perbuatan ini semata-mata demi kebajikan seluruh semesta, sehingga kebahagiaanniya akan terus berkembang setiap kali kisah ini dituturkan."
Selanjutnya, untuk membuat takjub bahkan para dewa yang cinta kedamaian, Bodhisattva menjatuhkan dirinya dari bibir bukit, dengan demikian telah memberikan hidupnya sendiri. Tubuhnya, saat membentur bumi, menimbulkan suara gaduh yang mengejutkan harimau, mengurungkan niatnya yang semula, lalu mencari dan menemukan Bodhisattva, ia kemudian mulai memakannya.
Ajita segera datang dengan tangan kosong tak dapat menemukan daging apa pun. ia memanggil-manggil gurunya, akan tetapi tak ada jawaban yang terdengar. Lalu pandangannya jatuh ke arah bawah, ia menyaksikan gurunya sedang disantap oleh harimau. Rasa sedih serta duka memenuhi hatinya, namun demikian ia merasa takjub pada perbuatan tiada mementingkan diri luar biasa yang begitu agungnya.
"Betapa berbelas kasihnya Sang Mahasattva terhadap makhluk hidup yang sengsara, dan betapa bedanya terhadap nasib dirinya sendiri! Betapa berani dan perwira wujud balas kasihnya! ia memiliki sila kebajikan sempurna, melampaui segala keagungan makhluk lain. Tubuhnya, yang begitu berharga oleh kebajikannya, kini telah berubah menjadi bejana yang patut untuk dipuja setinggi-tingginya.
Betapa tegar dan seimbang batinnya, sekokoh bumi, namun demikian ia begitu tergetar oleh penderitaan makhluk lain! Betapa tak sempurnanya batinku sendiri bersikap terhadap perbuatan agungnya Yang penuh keberanian ini. Sesungguhnya, makhluk hidup tak perlu lagi menderita dalam perlindungannya. Berdasarkan kekuatan penolakan samsaranya, ia menaklukkan segala penderitaan dan juga Mara, sumber segala keinginan, yang tak akan bangkit dengan mudah, telah ditundukkan serta dikalahkan. Mari memuja dengan berbagai cara kepada Mahasattva atas kebajikannya yang tiada taranya dan tiada terhingga, karena dialah pelindung bagi semua makhluk."
Dalam ketakjubannya atas perbuatan agung Bodhisattva, para siswanya bersama-sama dengan para Gandharva, Yaksa, Naga dan para Raja Dewa menutupi tanah tempat harta tulang belulang Bodhisattva dengan untaian bunga, kain warna-warni, hiasan permata serta serbuk cendana. Memenuhi angkasa dengan lantunan puji-pujian, mereka takjub atas perbuatan tanpa keakuan yang telah dilakukan oleh Bodhisattva.
Dalam kisah ini, kita dapat mengetahui bagaimana Sang Buddha, bahkan dalam kehidupannya yang lampau, telah menunjukkan sikap belas kasihnya kepada semua makhluk. Melihat belas kasih agung yang demikian, menimbulkan keyakinan tak tergoyahkan kepadanya, dan dengan keyakinan ini timbullah kesukacitaan yang tertuju pada Sang Buddha. Dengan jalan inilah keyakinan dikembangkan.
Kisah ini juga berguna dalam menjelaskan mengapa kita harus mendengarkan ajaran dengan seksama, karena Dharma diperoleh melalui berbagai kesulitan besar. Tergerak oleh kisah yang seperti ini, orang dapat memuji kemuliaan belas kasih yang akan membawa pada perbuatan yang mendatangkan kebajikan bagi semua makhluk.

MAHAKAPI JATAKA

KELAHIRANNYA SEBAGAI KERA BESAR
JATAKAMALA
Saat orang baik disakiti oleh yang lain, mereka kurang menangisi kesakitannya sendiri, dibanding kebajikan yang hilang oleh mereka yang telah menyakitinya. Pada suatu ketika Bodhisattva menunjukkan hal ini.
Di dekat pegunungan Himagiri terbentang daerah yang subur, kaya, dan menarik serta beraroma seharum gaharu, tertutup oleh hutan lebat bagai padatnya sutra gelap. Burung berbagai warna serta ukuran menghiasi taman, yang begitu padu dalam ukuran maupun warna yang muncul menggambarkan sebuah karya besar. Di sini makhluk-makhluk surgawi bermain di air jernih yang mengalir dari mata air gunung yang mengalir melewati bebatuan tebing dan tumpah melalui tebing sebagai air terjun yang besar. Dengung lebah menggema, angin sejuk meniup pepohonan yang berbunga. Di sinilah Bodhisattva pada suatu ketika mengambil kelahiran sebagai seekor kera besar yang hidup sendirian.
Bahkan dalam wujudnya sebagai binatang, Bodhisattva tidak kehilangan kesadarannya pada Dharma: baik, sabar tiada terukur, dan karena sifat yang manis serta teguh, ia diberkati dengan belas kasih yang tanpa batas, bagai angkasa. Meskipun bumi, dengan hutan, gunung besar, dan samudra yang dalam, telah lenyap berkali-kali karena air, api dan angin; belas kasih Bodhisattva benar-benar tak dapat dihancurkan. Kera besar ini hidup bagaikan seorang pertapa, mencukupi diri hanya dengan makanan sederhana dedaunan dan buah-buahan, dan menggunakan apa pun sarana yang ia dapatkan untuk binatang-¬binatang yang ada di sekitarnya.
Hingga suatu hari lewatlah seorang petani, yang dalam pencarian sapinya yang lepas, tersesat jalan. Tak dapat mengenali keberadaannya melalui gugusan bintang di angkasa, ia berkelana tanpa arah sama sekali, hingga kemudian ia sampai di tempat kediaman kera besar. Di situ, kering oleh lapar, haus, kepanasan dan kelelahan, hatinya terbakar oleh api penderitaan, hatinya sedih oleh beban keputusasaan, ia menjatuhkan dirinya di pangkal sebatang pohon. Dalam kelaparannya memandang ke sana kemari, ia melihat sejumlah runtuhan buah tinduka terhampar berceceran di atas tanah. Perihnya rasa lapar membuat rasa pahit buah itu seakan manis, begitu menyegarkan, hingga ia mulai mencari asal-usulnya.
Ia belum melihat jauh. Tumbuh di sebuah bukit batu di tebing air terjun, pohonnya menjulang di atas tebing yang curam, rantingnya berayun oleh berat buahnya yang berkilau, bulat dan memikat. Menimbulkan minat, petani tersebut menaiki bukit dan memanjat pohon tersebut, menjangkau ranting yang sarat dengan buah. Karena bergegas untuk mendapatkan buah, ia perlahan-lahan sampai ke ujung cabang. Tiba-tiba, karena tak dapat menahan beratnya, cabang tersebut patah, seolah ditebang dengan kapak.
Dengan jeritan keras ia langsung jatuh dari atas bukit. Berpegangan pada cabang untuk menyelamatkan diri, ia jatuh ke dalam jurang di mana terdapat kolam dengan air yang dalam dikelilingi oleh tembok batu tinggi. Daun dari ranting pohon menahan jatuhnya, menghindarkannya dari patah tulang, lalu ia dapat bergegas memanjat keluar dari air dingin. Tapi setelah melihat ke segala arah ia tak dapat menemukan jalan keluar dari kolam hutan. Menyadari bahwa dirinya akan segera menghadapi kematian, ia larut dalam tangis, panah kemalangan telah menghancurkan hatinya. Dikuasai oleh perasaan sedih, ia berteriak-teriak:
"Aduh! Di tengah hutan terpencil ini, yang jauh dari telinga manusia, aku jatuh ke dalam kubangan, seperti binatang hutan terjerat oleh perangkap. Tak seorangpun, betapapun dan bagaimanapun cermatnya mereka mencari, pasti tak akan dapat menemukanku, kecuali kematian.
Tak ada kerabat atau sahabat yang dapat mendengar tangisku, hanya suara nyamuk yang datang untuk mengisap darahku. Aku tak akan dapat lagi menyaksikan taman dan hutan yang indah, gubuk dan sungai, langit yang indah oleh bintang-bintang bagaikan permata. Aku duduk di tempat yang benar-benar gelap, di mana malam gelap kubangan ini menyembunyikanku dari dunia."
Demikianlah keluh kesahnya, selama berhari-hari ia berada di dalam kubangan yang dalam, hanya hidup dari air kubangan dan sedikit buah tinduka yang jatuh bersamanya.
Saat itu, secara kebetulan kera besar sedang berkeliling melewati bagian hutan itu mencari makanan. Menemukan tanda dari ranting pohon tinduka yang tercuri di angkasa, ia memanjatnya, lalu memandang ke arah air terjun, melihat tubuh kurus manusia yang terbaring di bagian bawah kubangan, mata dan pipinya cekung serta pucat, jelas sekali lemah karena kelaparan. Belas kasih kera besar serta-merta timbul. Sama sekali lupa mencari makanan, ia mengarahkan pandangannya pada manusia yang jauh di bawah, dengan bahasa manusia ia memanggil:
"Kau yang di sana, apa yang kaulakukan di dalam kubangan yang tak terjamah manusia? Siapa Engkau dan bagaimana Engkau bisa sampai ke sana?"
Orang yang di dalam kubangan, mengarahkan matanya pada kera besar, membungkuk dengan tangan beranjali dalam takjub serta memuji: "Kami hanyalah seorang manusia, Oh Dewa Agung," ujarnya. “Kami tersesat jalan di hutan. Berusaha untuk mengambil buah dari pohon itu, yang kami dapatkan bencana. Di tempat yang mengerikan ini, yang jauh dari teman dan keluarga, bencana telah menimpa kami. Kami mohon kepadamu, Oh Sang Pelindung Kera, selamatkanlah diri kami."
Orang yang sedang dalam kesulitan, tanpa sahabat atau keluarga yang menolong, meminta bantuan dengan wajah penuh harap dan tangan beranjali, akan membangunkan perasaan kasihan bahkan di hati musuhnya yang paling jahat sekalipun. Bagi Mahasattva, orang seperti ini menimbulkan belas kasih yang besar. Dipenuhi oleh perasaan kasihan yang tiada terbilang Bodhisattva menanggapi orang itu dengan kata-kata yang menyenangkan:
"Jangan menganggap bahwa segalanya telah hilang karena kamu jatuh ke dalam lubang ini, dan tak mempunyai teman yang akan menolongmu. Apa yang tak dapat dilakukan oleh para sahabat, aku dapat melakukannya. Janganlah cemas."
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisattva melemparkan lebih banyak buah tinduka dan juga buah-buahan lainnya, lalu pergi melalui jalan kecil untuk mempersiapkan dirinya menjalankan tugas yang ada di hadapannya. Pertama-tama ia mencari sebuah batu yang berat serta ukurannya sama dengan manusia, lalu menggendongnya di punggung untuk menguji kemampuannya membawa orang itu keluar dari dalam lubang. Memahami kesanggupan kekuatannya dan memastikan bahwa ia dapat melakukannya, ia kembali lagi ke tebing dan turun ke dasarnya.
Dengan tenang ia berkata: "Naiklah ke punggungku dan peganglah yang erat saat aku menarik tubuhku dan tubuhmu sekuat tenaga. Karena sebenarnya, seperti yang diketahui para bijaksana, tubuh adalah sesuatu yang tak berguna hingga digunakan untuk menolong orang lain."
Setelah menunduk hormat pada kera besar, orang itu naik ke punggungnya. Selanjutnya sang kera, dengan menahan rasa sakit karena beban berat, meskipun dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan, memanjat dengan susah payah naik ke samping batu, dan dengan demikian berhasil menyelamatkannya. Meskipun ia merasa sangat gembira, Bodhisattva begitu terkuras tenaganya hingga cara jalannya gontai serta gemetar; mencari hamparan batu, berwarna abu-¬abu seperti awan, ia berbaring untuk istrirahat. Dengan hati murni, tak menduga datangnya bahaya dari orang yang baru saja diselamatkannya, dengan penuh percaya ia berkata:
"Daerah hutan ini penuh dengan bermacam-macam binatang buas. Untuk itu, selagi aku memulihkan diri, tolong awasi kalau-kalau beberapa binatang hendak menghancurkan baik kebahagiaanku maupun dirinya sendiri di kemudian hari. Berjagalah dengan penuh kewaspadaan demi kita berdua. Aku sangat lelah dan perlu istirahat."
Dengan berpura-pura orang itu berjanji: "Jangan khawatir. Saya akan berada di sini menjaga kita berdua. Tidurlah, selama yang kau inginkan, jangan bangun sebelum Engkau benar-benar pulih kembali."
Akan tetapi segera setelah Mahasattva jatuh tertidur, pikiran jahat muncul dalam hati orang tersebut. "Untuk apa kau tetap di sini lebih lama lagi?"pikirnya. "Dengan apa aku akan hidup, umbi-umbian yang susah payah dikumpulkan atau buah-buahan yang ditemukan secara kebetulan? Dengan makanan seperti itu, aku tak akan dapat memulihkan kekuatanku. Jika aku lemah dan lapar, bagaimana bisa aku keluar dari hutan belantara ini?”
"Tubuh kera ini akan memberiku makanan yang cukup selama perjalanan. Meskipun ia telah berbuat baik kepadaku, tetapi ajaran untuk menghadapi keadaan sulit harus dijalankan di sini, sehingga aku dapat memakannya. Tetapi aku hanya dapat membunuhnya saat ia tidur; dalam tidurnya yang sekarang lebih tepat, mengingat bahkan tak ada singa yang dapat mengalahkannya bila ia terjaga. Tak akan ada kesempatan yang disia-siakan."
Pikiran jahat telah begitu membelenggu dalam nafsu yang kelam dibanding kemurahan hatinya, pengetahuannya pada apa yang benar dan naluri belas kasihnya sama sekali telah lenyap. Mengabaikan tubuhnya yang kurus dan hanya berpikir tentang keinginannya untuk membunuh, ia mengambil sebongkah batu besar dan menjatuhkannya tepat di kepala kera.
Akan tetapi tubuhnya yang masih lemah terjatuh, ia melakukannya dengan tergesa-gesa; batu tersebut, meleset dari tujuan hendak membuat kera tertidur pulas dalam kematian dan hanya sekadar menggoncangkannya. Jangankan membuat kepala kera remuk, ia hanya membuat pelipisnya memar dan jatuh ke tanah dengan suara gedebuk yang keras.
Dengan cepat meloncat, Bodhisattva melihat ke sekeliling untuk mencari penyerangnya. Namun ia tak menemukan kecuali orang yang telah diselamatkannya, wajahnya pucat pasi, sikapnya serba salah, ia memperlihatkan dirinya sendiri dengan wajahnya yang malu dan cemas. Serta-merta rasa takut telah mencekik tenggorokan orang itu, membuat keringat berjatuhan dari tubuhnya, dan ia tak sanggup mengangkat pandangannya. Tak perlu lama bagi kera untuk mengerti siapa yang telah berusaha menyakitinya.
Dengan mengabaikan seluruh rasa sakitnya, Bodhisattva hanya merasakan kesedihan dan belas kasih terhadap orang itu yang telah melempar segala harapan kebahagiaannya. Menjalankan keputusan hatinya yang telah bulat, ia lalu berangkat pergi ke hutan melemparkan segala harapan kebahagiaan melalui perbuatannya. Tanpa perasaan marah dan dendam, matanya penuh dengan air mata, Bodhisattva berbicara dengan suara yang sangat sedih: "Saudara! Bagaimana bisa Engkau, sebagai manusia dapat melakukan perbuatan seperti ini? Bagaimana bisa Engkau merencanakannya, bahkan berusaha melakukannya, padahal Engkau telah berjanji untuk melakukan apa saja untuk melindungiku dari bahaya?
Apakah aku telah memperlihatkan sedikit rasa congkak setelah dapat menyelamatkanmu, sehingga dengan begitu Engkau hendak menghancurkannya, karena yang telah kaulakukan sesungguhnya jauh lebih sukar dari yang telah kulakukan. Setelah ditolong dari mulut Dewa Kematian, dan baru saja keluar dari jurang, Engkau telah jatuh lagi pada jurang lain!
Bagaimana ini bisa terjadi? Hei orang yang diliputi ketidaktahuan, hina dan kejam, yang akan membuat penderitaan menjadi kesulitan yang jauh lebih berat yang tak ada harapan lagi. Engkau telah menghancurkan dirimu sendiri, dan juga menyalakan api kesedihan dalam diriku. Engkau telah mengotori nama baikmu, bertentangan dengan kecintaanmu pada kebajikan, dan juga menghancurkan kemungkinanmu untuk dipercaya. Kini Engkau menjadi sasaran seluruh panah yang dilepaskan. Akibat itukah yang ingin kaudapatkan?
Rasa sakit lukaku tak seberapa dibanding dengan pikiran yang menurutku telah Engkau jatuhkan ke dalam kejahatan, sehingga tak seorang pun, bahkan juga diriku mampu untuk menghapuskan perbuatan itu.
Sekarang kemarilah. Duduklah di sampingku. Jangan mengelak dari pandanganku, karena Engkau tak dapat dipercaya. Aku akan menuntunmu keluar dari hutan yang berbahaya ini ke jalan yang membawa ke pemukiman penduduk. Berada disini sendiri, dengan tubuh lemah dan tak tahu jalan, Engkau akan menjadi incaran mereka yang akan membuatmu sangat menderita dan menyia-nyiakan segala yang telah kulakukan."
Mahasattva membawa orang tersebut ke tepi hutan. Setelah menunjukkan jalan kepadanya, ia sekali lagi berkata: "Sekarang, Saudara, Engkau telah berada di tepi permukiman penduduk dan Engkau dapat meninggalkan hutan yang berbahaya ini. Semoga perjalananmu menyenangkan, dan semoga Engkau juga menjauhi perbuatan jahat, karena pahala kejahatan sangatlah menyedihkan."
Demikianlah, dengan dipenuhi belas kasih, kera besar mengajari orang tersebut seolah-olah ia siswanya. Selanjutnya ia kembali ke kediamannya di hutan. Sebaliknya orang tersebut, tersiksa oleh kobaran api penyesalan sehingga ia sendiri tak lama kemudian terjangkit oleh penyakit lepra ganas. Wajah dan kulitnya dipenuhi oleh luka menganga yang mengeluarkan nanah busuk di sekujur tubuhnya. Sejak saat itu, ke mana pun ia pergi ia menimbulkan ketakutan dan rasa jijik. Begitu mengerikan wujudnya yang rusak hingga baik rupa maupun suaranya membuat ngeri manusia, begitu jelasnya bentuk penderitaannya. Menganggapnya sebagai hantu, di mana-mana orang karena takutnya, melemparinya dengan batu dan pentungan serta makian.
Suatu hari saat ia berkelana bagaikan rusa melewati sebuah hutan, ia ditemukan oleh seorang raja yang sedang berburu di hutan. Melihat manusia yang berwujud sangat seram, pakaiannya telah berubah menjadi lusuh compang-camping yang menutupinya, raja berkata kepadanya dengan suara gemetar bercampur takut:
"Tubuhmu rusak oleh lepra, kulitmu penuh dengan borok. Sangat pucat, kurus dan makhluk paling menderita yang pernah kulihat. Siapakah Engkau? Preta, yaksa, asura atau vetala? Makhluk apa hingga mengalami penyakit seperti itu?
Membungkuk kepada raja, orang itu menjawab dengan suara yang memilukan: "Kami bukan hantu, kami seorang manusia, Baginda."
Raja lalu bertanya kepadanya bagaimana mulanya hingga ia jatuh dalam keadaan yang cacat demikian, dan orang lepra itu kemudian mengakui perbuatan jahatnya, dan menambahkan: "Penderitaanku sekarang sesungguhnya akibat dari berbuahnya ketiga pohon yang kutanam, yaitu perbuatan mengkhianati sahabat. Aku tidak ragu lagi buahnya akan jauh lebih menderita lagi. Untuk itulah, Oh Baginda, engkau harus menganggap perbuatan pengkhianatan terhadap seorang sahabat sebagai musuh terbesar, senantiasa memandang dengan kebajikan terhadap semua orang yang baik kepadamu.
Mereka yang memutuskan persahabatan pasti akan mengalami halangan di dalam hidup ini, apalagi hidup nanti. Karena pikirannya ternoda oleh kebencian dan niat jahat lainnya, apa yang akan menimpanya kemudian tak dapat dibayangkan. Mereka, bagaimanapun, yang batinnya dipenuhi oleh belas kasih dan perhatian pada sahabat, menuai kepercayaan dari semua dan menikmati kebajikan agung. Pikiran setia akan memberinya kebahagiaan besar. Dengan keseimbangan dan kemanusiaan mereka akan merengkuh musuhnya dan pada akhirnya meraih jalan menuju alam luhur.
Mengerti akibat dari sikap baik dan buruk kepada sahabat, Oh Baginda, berpeganglah teguh pada jalan kebajikan, karena siapa pun yang melewati jalan itu tak diragukan lagi mencapai kebahagiaan."
Dari kisah ini orang dapat melihat bagaimana orang yang baik sedih karena kehilangan kebajikan yang ditimbulkan oleh mereka yang menyakitinya dibandingkan sedih pada deritanya sendiri. Kisah ini dapat juga digunakan ketika membicarakan keagungan batin Sang Tathagata, dan juga ketika membicarakan tentang perlunya mendengar dengan penuh perhatian terhadap ajaran Dharma. Ini juga dapat dilafalkan ketika berkaitan dengan kesabaran dan kesetiaan terhadap sahabat. Juga pada saat mengungkapkan betapa merusaknya perbuatan jahat.

Kisah Maitrakanyaka ~ Mengejar Ambisi Menuai Api

"Aku rela menanggung selamanya roda ini di kepalaku demi sesama.
Semoga tak ada lagi yang melakukan kejahatan seperti ini."
( Avadanasataka, XXXVI )
Di dinding utama galeri pertama,
di bawah rangkaian bingkai yang berisi Kisah Hidup Bodhisattva ( Lalitawistara ),
terdapat rangkaian bingkai relief yang disebut Awadana ( Kisah Kebajikan Agung ).
Awadana memuat Kisah Kelahiran Bodhisattva dan Para Siswa-Nya.
Salah satunya adalah Kisah Maitrakanyaka
yang ada di bingkai relief ke-106 sampai ke-112 dari Pintu Timur Candi.
Kisah Maitrakanyaka ini bersumber di Tripitaka Sanskerta ( Diwyawadana ).
Kisah ini bercerita mengenai perantauan Maitrakanyaka mengejar ambisi pribadinya,
tanpa memikirkan perasaan Ibu-nya.
Akibatnya Ia menemui nasib malang dan mendapatkan pelajaran berharga
bahwa seorang Anak harus berbakti kepada Orang tuanya
melebihi pencapaian duniawi apa pun.
~ ~ ~
Pada zaman dahulu kala, di kota Benares,
hiduplah seorang pedagang yang Istri-nya hendak melahirkan.
Temannya menyarankan bahwa sebelum Anak-nya lahir
Ia harus memberi nama Bayi Laki-laki-nya dengan nama Perempuan,
seperti yang dilakukan oleh Teman-teman-nya.
Bayi itu diberi nama Maitrakanyaka.
Ia tumbuh tanpa kekurangan apa pun.
Malangnya, ketika Ia masih kanak-kanak, Ayahnya meninggal karena kapal-nya tenggelam.
Ketika Maitrakanyaka sudah dewasa,
Ia menanyakan kepada Ibu-nya apa pekerjaan Ayahnya dahulu,
sebab Ia ingin meneruskannya seperti tradisi saat itu.
Karena takut Anaknya akan bernasib sama dengan Ayahnya,
Ibunya berkata mengatakan bahwa Ayahnya adalah pedangan kelontong.
Maka Maitrakanyaka pun membuka toko kelontong.
Pada hari pertama Ia mendapatkan 4 uang emas.
Ia memberikan uang itu kepada ibunya untuk didermakan.
Kemudian, ada yang memberitahu
bahwa Ayahnya dulu pernah menjadi pedagang wewangian.
Maka Maitrakanyaka menutup tokonya dan memulai wewangian.
Pada hari pertama berjualan wewangian, Ia mendapatkan 8 uang emas.
Lalu uangnya Ia berikan lagi kepada Ibunya.
Suatu hari, Ia diberitahu oleh Orang lainnya lagi
bahwa Ayahnya pernah berjualan emas.
Memercayai hal itu Maitrakanyaka beralih menjadi Pedagang emas.
Karena kejujuran dan kecakapannya,
pada hari pertama membuka usaha Ia mendapatkan 16 uang emas,
lalu esoknya mendapatkan 32 uang emas.
Ia memberikan penghasilannya kepada Ibunya untuk didermakan.
Para Pedangang lain iri melihat Maitrakanyaka semakin sukses dan kaya.
Mereka ingin Maitrakanyaka tidak bersaing dengan mereka lagi.
Salah satu pedagang yang iri berkata bahwa dahulu
Ayah Maitrakanyaka adalah Pelayar yang pemberani.
Ayahnya hilang saat kapalnya tenggelam.
Ia lalu menantang Maitrakanyaka untuk menjadi Pelayar seperti Ayahnya.
Maitrakanyaka tidak percaya dengan omongan Pedagang itu.
Maitrakanyaka lalu pulang untuk menanyakannya kepada Ibunya.
Di rumah, Maitrakanyaka langsung menanyakan tentang Ayahnya,
"Ibu, benarkah Ayah dulu adalah Pelayar yang pemberani ?"
Ibunya tak kuasa menutupi kebenaran lagi.
Ia pun menjawab,
"Benar Nak... tapi kamu jangan jadi Pelayar, Ibu takut kamu celaka."
"Seorang Anak harus mengikuti jejak Ayahnya, Bu!", kata Maitrakanyaka.
Maitrakanyaka lalu bersiap untuk berdagang ke luar negeri dengan Teman-teman-nya.
Meskipun Sang Ibu memohon pada Anaknya untuk tidak pergi,
Maitrakanyaka menolak.
Maitrakanyaka malah marah besar dan menendang kepala Ibunya.
Maitrakanyaka pun pergi berlayar.
Di perjalanan, kapalnya terkena badai hingga tenggelam.
Maitrakanyaka berpegangan pada gelondongan kayu dan terombang-ambing di Samudra luas. Maitrakanyaka kemudian terdampar di sebuah pulau.
Agar bertahan hidup, Maitrakanyaka berjalan ke pedalaman pulau.
Ia berharap bisa menemukan tempat yang berpenduduk.
Akhirnya, Ia sampai di sebuah Kota.
Ia disambut oleh 4 Bidadari cantik di pintu gerbang,
"Selamat datang di Ramanaka, Maitrakanyaka. Kami siap melayanimu."
Setelah melewatkan waktu bersama banyak Bidadari,
Ia melanjutkan perjalanan dan sampai di Nandana,
dimana 16 Bidadari cantik menunggu di pintu gerbang.
Selanjutnya, Ia menempuh perjalanan ke selatan dan sampai ke tempat bernama Brahmottara.
32 Bidadari menunggu untuk menyambutnya.
Tapi di sini pun, keinginannya untuk meneruskan perjalanan tidak tertahan.
Setelah meninggalkan kota penuh kesenangan ini,
sampailah Ia di Ayomaya.
Maitrakanyaka memasuki gerbang yang tinggi dan besar.
Tiba-tiba gerbang pintu kota di belakangnya tertutup.
Maitrakanyaka terlompat kaget !
Di tengah tempat itu, Ia melihat orang yang tersiksa berdarah-darah
dengan roda membara mengerus kepalanya.
Maitrakanyaka pun bertanya kepada orang itu.
"Mengapa kamu disiksa roda api ?"
Orang itu menjawab,
"Ini hukuman bagi Mereka yang memperlakukan Ibunya dengan buruk !"
Maitrakanyaka sangat kaget dengan jawaban orang itu.
Seketika itu, roda api berpindah ke kepala Maitrakanyaka.
Hukuman sekarang berganti ke Maitrakanyaka !
Maitrakanyaka tersiksa roda api di kepalanya
dan Orang yang tadinya tersiksa itu akhirnya terbebas.
Orang itu berkata kepada Maitrakanyaka,
"Kamu akan tersiksa selama 66.000 tahun
sampai Orang yang berbuat sama datang menggantikanmu."
Maitrakanyaka menjerit dan menyesali perbuatannya terhadap Ibunya.
Namun, di lubuk hatinya yang terdalam ia masih menyimpan cinta kasih.
Ia berkata,
"Ananda rela mengemban roda ini selama-lamanya.
Semoga tidak ada lagi Anak yang akan melakukan perbuatan buruk yang sama denganku !"
Berkat Tekad Cinta Kasih-nya,
saat itu juga Maitrakanyaka meninggal dan terlahir lagi di Surga Tusita