Tampilkan postingan dengan label HIstory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIstory. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

Tentang Cao Cao

Cao Cao (Hanzi: 曹操)(155-220) merupakan seorang tokoh Zaman Tiga Negara yang terkenal. Ia dikenal sebagai pemikir ulung, ahli strategi dan juga ahli perang. Ia bernama lengkap Cao Mengde, juga dipanggil sebagai Cao A Man yang merupakan nama kecilnya. Cao Cao dikenal di kalangan Tionghoa Indonesia sebagai Tsao-tsao, Tso-tso atau Cho Cho.
Biografi
Ia lahir di kota Qiao (sekarang di Haozhou, Anhui). Kitab sejarah Catatan Sejarah Tiga Negara mencatat bahwa salah satu leluhurnya, Cao Can adalah seorang pejabat kekaisaran di awal Dinasti Han.
Karier politik
Karier politiknya dimulai dengan ikut memadamkan Pemberontakan Serban Kuning yang mengancam legitimasi Dinasti Han di masa-masa akhir dinasti tersebut. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan tersebut, ia diberikan jabatan dan kemudian mengambil kesempatan tersebut untuk menguasai Prefektur Qingzhou. Ia kemudian memperkuat diri sendiri dengan membujuk bekas anggota pemberontak Serban Kuning untuk bergabung di dalam tentara pribadinya [Pasukan Elite QingZhou].
Tahun 196, ia menerima dan memberikan perlindungan kepada Kaisar Han Xiandi yang pada saat itu mendapat ancaman. Namun kemudian malah menyandera kaisar dan meminjam kesempatan ini untuk menaklukkan beberapa jenderal perang di sekitar wilayah Xuchang yang merupakan pusat kekuatannya.
Kemenangan terbesarnya adalah Pertempuran Guandu menaklukkan Yuan Shao yang pada saat itu merupakan jenderal perang terbesar di wilayah utara Tiongkok. Setelah penaklukan itu, ia resmi menjadi perdana menteri dan berhasil mempersatukan Tiongkok utara. Semenjak itu dia menjadi orang yang paling ditakutkan dalam sejarah cina.
Setelah menggapai kedudukan sebagai perdana menteri, Cao Cao kemudian menyusun kekuatan untuk invasi ke Tiongkok selatan yang waktu itu dikuasai oleh Liu Bei dan Sun Quan. Pertempuran Chibi adalah pertempuran di antara Cao Cao melawan aliansi Liu Bei dan Sun Quan. Cao Cao kalah telak dalam peperangan terkenal sepanjang sejarah Tiongkok ini.
Ia memaklumatkan diri sebagai Raja Wei. Kemudian, Cao Cao terkena sakit kepala yang parah dan meninggal di Luo Yang, Henan, China. Sepeninggalnya, anaknya Cao Pi kemudian memaklumatkan diri sebagai Kaisar Wei dan sekaligus berdirinya negara Cao Wei. Selanjutnya, Cao Cao diangkat statusnya menjadi Kaisar Wei Wudi.

Minggu, 19 Juli 2009

SRIWIJAYA, Riwayat Masa Lampau

Maha Guru Rinpoche Dagpo Lama

Riwayat Masa Lampau

Sumber : www.alviralde.blogspot.com


Dagpo Rinpoche yang sekarang, dikenali oleh H.H. Dalai Lama ke-13 sebagai reinkarnasi dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup. Dagpo Rinpoche terdahulu ini sebelumnya sudah dikenali sebagai reinkarnasi seorang mahaguru yang berasal dari Indonesia yang bernama Suvarnadvipa Dharmakirti (Serlingpa). Suvarnadvipa terlahir dalam keluarga Sri-Vijayendra-raja (Raja Sriwijaya), yang juga merupakan bagian dari keluarga Sailendravamsa (Dinasti Sailendra di Yavadvipa), karena Sri-Maharaja Balaputradewa (Raja Sriwijaya) adalah putra dari Sri-Maharaja Smaratungga (Raja Sailendra). Wangsa Sailendra-lah yang membangun Candi Borobudur.

Keluarga leluhur Rinpoche juga berperan dalam Perguruan Tinggi agama Buddha Nalanda, yang berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Suvarnadvipa kemudian menjadi bhiksu dengan nama ordinasi Dharmakirti. Beliau melatih diri di berbagai tempat, termasuk juga belajar ke India. Berkat usahanya yang keras dan himpunan kebajikannya yang sangat banyak, akhirnya beliau berhasil mencapai realisasi tertinggi sebagai seorang Bodhisattva. Kemasyuran beliau sebagai seorang guru Mahayana, khususnya ajaran Bodhicitta tersebar jauh hingga ke India, Cina, serta Tibet. Di Tibet beliau dikenal dengan nama Lama Serlingpa.

Atisha menempuh perjalanan selama 13 bulan melalui laut dari India, dengan kondisi yang sangat sulit, untuk bertemu dengan Suvarnadvipa di Indonesia, untuk mendapatkan instruksi tentang Bodhicitta (Tekad mencapai Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk) dari beliau. Suvarnadvipa memberikan transmisi ajaran yang silsilahnya berasal dari Maitreya, yaitu “Tujuh Poin Instruksi untuk Membangkitkan Bodhicitta”, juga memberikan transmisi ajaran yang berasal dari Manjushri, yaitu “Menukar Diri Sendiri dengan Makhluk Lain” (Exchanging Self and Others).

Setelah belajar dari Suvarnadvipa, Atisha kembali ke India dan kemudian diundang ke Tibet. Di sana Atisha memainkan peranan yang sangat penting untuk membawa pembaharuan bagi agama Buddha. Atisha menjadi salah satu mahaguru yang sangat dihormati dalam agama Buddha Tibet. Kedua guru besar ini, Suvarnadvipa dan Atisha bertemu kembali dalam masa sekarang dalam hubungan guru-murid yang sama, yaitu ketika Atisha terlahir kembali sebagai Pabongka Rinpoche dan menerima ajaran tentang Bodhicitta dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup.


Dagpo Lama Rinpoche Jamphel Lhundrup ini memiliki peranan yang sangat penting bagi Buddhisme Tibet dengan menghidupkan kembali ajaran Lamrim di bagian Selatan Tibet. Beliau sangat terkenal atas penjelasannya tentang Lamrim dan realisasi beliau akan Bodhicitta. Banyak guru Lamrim pada masa itu yang mendapatkan transmisi dan penjelasan Lamrim dari beliau sehingga mendapatkan realisasi atas ajaran Lamrim tersebut.

Silsilah kelahiran kembali Dagpo Rinpoche lainnya sangat banyak. Termasuk guru-guru besar seperti Bodhisattva Sadaprarudita (Taktungu) yang hidup pada masa Buddha terdahulu. Beliau rela menjual sepotong dagingnya untuk memberi persembahan kepada gurunya. Selain itu yogi India bernama Virupa dan cendekiawan Gunaprabha juga diyakini adalah inkarnasi Rinpoche.


Di Tibet sendiri, guru-guru yang termasuk dalam silisilah reinkarnasi Dagpo Rinpoche antara lain adalah Marpa Lotsawa, Sang Penerjemah, yang mendirikan sekte Buddhis Kagyu. Beliau menjadi terkenal karena menjadi guru yang membimbing Jetsun Milarepa mencapai pencerahan dengan latihan yang sangat keras. Selain itu juga Longdoel Lama Rinpoche, guru meditasi dan cendikiawan yang penting pada abad ke-18, siswa dari Dalai Lama ke-7. Seperti juga Milarepa, Longdoel Rinpoche juga mempunyai masa muda yang sulit. Beliau menjadi salah satu guru terkemuka pada abad tersebut, guru dari para cendekiawan, diantaranya Jigmey Wangpo. Beliau juga menyusun risalah sebanyak 23 jilid. Pada masa kini, sejumlah Kepala Vihara Dagpo Shedrup Ling juga termasuk dalam reinkarnasi Rinpoche sebelumnya.

Pada abad ke 7 hingga 13 M, Sriwijaya mengalami zaman keemasan. Sebagai kerajaan maritim, namanya dikenal hingga ke mancanegara. Kekuatan maritim dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Buah, Palembang, pada 1960-an. Kemudi yang terbuat dari kayu onglen hitam itu panjangnya mencapai delapan meter. Tak heran kalau armada kapal milik Sriwijaya mampu berlayar ke China dengan membawa komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas, dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutra.


Pada masa kegemilangannya, banyak pendatang dari mancanegara singgah ke Sriwijaya sekadar untuk tetirah atau berniaga. Beragam jenis kapal bertambat di pelabuhan Sungai Musi. Mereka juga bermukim di kerajaan yang dulunya menjadi pusat pendidikan ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan. Beberapa bangsawan dan orang kebanyakan menikah dengan pendatang dari China. Tak heran kini mayoritas orang Palembang kebanyakan berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Apabila para bangsawan Sriwijaya tak dibantai habis pasukan Majapahit, kemungkinan mereka adalah keturunannya. Nasib ribuan pendeta Buddha juga tak jelas hingga kini. Apakah mereka dihabisi pasukan Majapahit atau menyingkir ke Tanah Jawa, Thailand, China, dan India? Atau mereka harus berganti agama kala Islam masuk ke bekas kerajaan Sriwijaya? Tapi yang jelas, sebagian dari mereka adalah keturunan para pedagang China, dan juga para bajak laut asal China yang menguasai jalur sungai dan laut selama 200 tahun amanya,usai Sriwijaya hancur lebur diserbu Majapahit. Keganasan para perompak itu berakhir setelah Panglima Perang Chengho yang diutus penguasa China datang dan memerangi mereka.

Sebagian perompak yang selamat dari serbuan Chengho, lalu alih usaha di daratan, beranak pinak, dan membentuk koloni tersendiri. Mereka memutus tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di tanah leluhur bangsa China, dan sebaliknya menanamkan kehidupan khas perompak yang berangasan. Sebuah tugu prasasti di Kampung Kapiten, Kelurahan Tujuh Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, menunjukkan pemujaan kepada Dewa Samudra, sebagai peringatan adanya komunitas China yang menetap di Palembang. Adakah kaitan antara mereka dan ‘Preman Palembang’ yang kini tersohor itu? Sepertinya perlu ada penelitian yang lebih mendalam. Kalau di Palembang ada Kampung Jawa, bisa jadi mereka adalah keturunan pasukan Majapahit yang menetap disana.


Secuil peninggalan berbentuk benda mati seperti arca kini masih bisa Anda simak di Museum Bala Putradewa, Palembang, Sumatra Selatan. Tercatat ada 2 museum lagi di Palembang, yaitu Museum Situs Taman Purbakala Sriwijaya (TPKS) dan Museum Sultan Badaruddin II, namun semuanya tak terawat dengan baik. Perlu ada upaya pemerintah untuk menyatukan ketiganya, dan menamai museum itu ‘Museum Sriwijaya’.

Sejak penjajahan Belanda hingga kini, sisa-sisa kejayaan Sriwijaya berupa barang antik telah pindah tangan ke luar negeri. Palembang, Jambi, dan Lampung adalah padang perburuan bagi kolektor dan pedagang barang antik. Kini tak lagi tersisa.

Dimanakah pusat Kerajaan Sriwijaya?


Itulah pertanyaan yang hingga kini masih menggantung, karena belum juga ditemukan peninggalan istana atau kraton. Kemungkinan besar pada saat penyerbuan pasukan Majapahit, istana tersebut dibumi hanguskan. Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang kerajaan Sriwijaya juga banyak yang telah rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah. Ketidak lengkapan temuan arkeologis tersebut menyebabkan para peneliti kesulitan menyusun sejarah kemunculan dan pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya secara lengkap dan runtut.


Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, seperti dari China, India atau Arab. Setidaknya ada 18 situs dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki penanggalan sekitar abad ke-7 sampai ke-9, yaitu situs Candi Angsoka, prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Beberapa prasasti juga telah ditemukan, yang isinya menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukan bagi para pembangkang. Beberapa peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand.

Kebesaran Sriwijaya juga terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke-9 Masehi menyebutkan, Raja Balaputradewa dari Swarnadipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa pembangunan biara Cudamaniwarna di kota Nagipattana. India. Manuskrip sejarah, seperti Kitab Sejarah Dinasti Song dan Dinasti Ming, berada di China. Raja Sriwijaya juga mendukung penuh pembangunan Candi Borobudur di Pulau Jawa yang terbuat dari batu gunung. Sedangkan candi-candi peninggalan Sriwijaya di Sumatra semuanya terbuat dari batu bata yang cepat aus dimakan zaman. Kenapa? Karena lokasinya jauh dari gunung.


Kabar terakhir datang dari Malaysia. Raimy Che-Ross, peneliti Malaysia, pada tahun lalu menemukan sebuah kota yang hilang di pedalaman Johor. Rahasia itu terkuak berawal dari sebuah naskah kuno milik Stamford Raffles. Ia memperkirakan reruntuhan puing itu berasal dari kota Gelanggi yang pada 1025 M diserbu pasukan Chola dari India Selatan pimpinan Raja Rajendra Cholavarman.


Kota itu dulunya terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya. Pada 1612, Tun Seri Lanang, bendahara Royal Court di Johor, menyebut kota Gelanggi yang hilang sebagai Perbendaharaan Permata (Treasury of Jewels). Sebagai catatan, pasukan Cola bergabung dengan Kerajaan Majapahit untuk menyerbu Sriwijaya pada 1377 hingga ludes. Palembang pun lalu jadi kota mati, dan tak lama kemudian dikuasai para perompak dari China. Para bajak laut itu digempur pasukan China pimpinan Chengho, armada Majapahit dengan dukungan Raja Aditiawarman dari Kerajaan Melayu.

Sriwijaya telah hilang ditelan zaman.


Menurut budayawan dan ketua Dewan Kesenian Sumatra Selatan (DKSS) Djohan Hanifah kepada Kompas, kebesaran Sriwijaya benar-benar terputus oleh kekuasaan Kerajaan Palembang Darussalam dan Belanda, yang membangun budaya jauh berbeda. “Beberapa candi dan peninggalan Sriwijaya sempat dihancurkan dan dikubur dalam tanah dengan alasan teologis. Estetika, ilmu pengetahuan, dan seni yang berkembang pada masa Sriwijaya tak lagi tumbuh pada masa berikutnya sampai sekarang,” ujarnya.


Kebesaran Sriwijaya memang benar-benar telah hilang dimakan nafsu para penjarah, perselingkuhan politik kekuasaan, penyebaran agama baru, dan lalu musnah ditelan zaman. Kota Palembang yang kini kian metropolis dan hingar bingar membuat peninggalan masa lalu jadi bertambah kesepian. Pertanyaan penting: Masih adakah spirit untuk membangkitkan kembali kebesaran masa lalu di hati sanubari masyarakat Sumatra Selatan, khususnya penduduk Palembang? Walahualam.

Wangsa Syailendra pada saat berkuasa, juga mengadakan hubungan yang erat dengan kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun.


Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Smaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Smaratungga memiliki puteri bernama Pramodhawardhani dan dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, putera bernama Balaputradewa.

Daftar raja-raja wangsa Syailendra


1. Bhanu (752-775), raja pertama dan pendiri Wangsa Syailendra

2. Wisnu (775-782), Candi Borobudur mulai dibangun

3. Indra (782-812), menyerang dan mengalahkan Kerajaan Chenla (Kamboja), serta mendudukinya selama 12 tahun

4. Samaratungga (812-833), Candi Borobudur selesai dibangun

5. Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan, pangeran Wangsa Sanjaya
6. Balaputradewa (833-850), melarikan diri ke Sriwijaya setelah dikalahkan Rakai Pikatan

Daftar raja-raja wangsa Sanjaya


1. Sanna

2. Sanjaya (732-760)

3. Rakai Panangkaran (760-780)

4. Rakai Panunggalan (780-800)

5. Rakai Warak (800-819)

6. Rakai Garung (819-838)

7. Rakai Pikatan (838-856)

8. Rakai Kayuwangi (856-886)

9. Rakai Watuhumalang (886-898)

10. Dyah Balitung (898-910)

11. Daksa (910-919)

12. Tulodong (919-924)

13. Dyah Wawa (924-928)

14. Mpu Sindok (928-929)

Runtuhnya Wangsa Syailendra


Pramodhawardhani, puteri raja Samaratungga menikah dengan Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan menyerang Balaputradewa, yang merupakan saudara Pramodhawardhani. Sejarah Wangsa Syailendra berakhir pada tahun 850, yaitu ketika Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya yang merupakan negeri asal ibunya.

Isi Prasasti


Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 M) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri atas sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:


1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
9. laghu mudita datang marwuat wanua
10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa

Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:

1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
9. lega gembira datang membuat wanua
10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana.

2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).

3. Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni). (Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, “Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie”, BEFEO, tome 46, 1952).

Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Besar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.


Timbul setumpuk pertanyaan: Di manakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah? Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya? Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

Beberapa Tafsiran


Pada tahun 1975 Departemen P dan K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuna, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio. Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).


Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaannya yang baru. Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang.

Dr. Slametmulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.


Thanks buat Narasumber

Selasa, 18 November 2008

Hua Tuo, Sang Tabib Mujarab



Nama Hua Tuo sudah tidak asing lagi dalam dunia pengobatan China kuno. Dialah yang pertama kali mengembangkan teknik pembedahan dan akupunktur. Kami sajikan biografi Hua Tuo untuk Anda.

(Erabaru.or.id) - Hua Tuo, atau biasa disebut juga Yun Hua, berasal dari Pei Guo Jiao (sekarang Haoxian, Provinsi Anhui, China). Dia adalah seorang dokter medis yang terkemuka di China Kuno dan terkenal dengan julukan "Tabib Mujarab".

Hua Tuo tidak mengejar ketenaran maupun uang. Malahan ia mencurahkan dirinya untuk mempelajari pengobatan. Ia sangat terampil dalam berbagai macam bidang pengobatan --suatu fakta yang merefleksikan kemajuan ilmu pengobatan di abad ke-2 di China. Hua Tuo sudah terlihat sangat pandai sejak masa belianya. Ayahnya meninggal saat dia masih berusia 7 tahun. Karena keluarganya miskin, ibunya memutuskan untuk mengirim Hua Tuo untuk belajar pengobatan kepada dr. Cai, seorang teman dekat ayahnya.

Hua Tuo pergi ke kota dan bertemu dengan dr. Cai. Setelah ia mengutarakan keinginannya menjadi seorang dokter pengobatan, dr. Cai berpikir pada dirinya sendiri, "Ayah Hua Tuo adalah teman saya. Jika saya tidak mengambilnya sebagai murid, orang-orang di kota akan berpikir bahwa saya adalah orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya setelah seorang teman meninggal, dan memperlakukan teman tanpa kesetiaan." Saya sebaiknya mengambilnya sebagai murid. Bagaimanapun, saya harus mengetes anak itu untuk menentukan apakah ia memang ditakdirkan untuk pengobatan."

Dokter Cai melihat beberapa muridnya sedang mengumpulkan daun mulberi di halaman belakang, tetapi mereka mendapat kesulitan untuk mencapai daun di dahan tertinggi ketika memanjat pohon. Ia memutuskan ini akan menjadi tes pertama untuk Hua Tuo. Ia bertanya pada Hua Tuo, "Bisakah kamu memikirkan cara untuk mengumpulkan daun dari dahan tertinggi di pohon itu?" Hua Tuo berkata dengan percaya diri, "Oh, itu mudah." Hua Tuo meminta sepotong tali, dan mengikatkan batu kecil di ujung tali tersebut. Ia melemparkan tali itu di sekeliling dahan tertinggi dan berhasil mengumpulkan semua daun di dahan itu, melengkung karena berat dari batu.

Selanjutnya, dr. Cai melihat dua ekor kambing sedang berkelahi dengan mata mereka yang memerah. Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kedua kambing ini. Ia memutuskan ini akan menjadi tes kedua untuk Hua Tuo. Ia berkata "Hua Tuo, bisakah kamu memisahkan kedua kambing ini?" Hua Tuo segera menjawab, "Tentu saja". Ia mengambil rumput memenuhi kedua tangannya dan meletakkannya di sebelah kambing tersebut di kedua sisi. Kambing-kambing itu telah lapar karena berkelahi, maka mereka segera berlari untuk menikmati rumput tersebut. Perkelahian itu berhenti bahkan tanpa perlu diusahakan. Sangat kagum dengan kepandaian Hua Tuo, dr. Cai dengan gembira menerimanya sebagai murid.

Hua Tuo belajar sangat rajin sejak permulaan. Dia menitikberatkan pada praktik klinis sesungguhnya dan akhirnya menjadi seorang dokter legendaris pada dinasti Han Timur. Bahkan setelah ia mendapat reputasi sebagai seorang dokter pengobatan, ia tidak pernah membeda-bedakan pasiennya. Ia akan menyediakan jasanya ke mana pun ia pergi. Ia memperlihatkan sebuah jiwa yang mulia dengan mengobati penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Ia belajar pengobatan seumur hidupnya. Ia mengembangkan teori pengobatan yang inovatif dan teknik pengobatan yang mengagumkan dalam berbagai bidang pengobatan, termasuk pengobatan luar, dalam, ginekologi, akupunktur, parasitolog, dan terapi fisik sebagai pengobatan medis. Ia juga sangat terampil dalam pembedahan. Sesungguhnya, ia adalah dokter pertama yang melakukan operasi pembedahan perut dalam sejarah kedokteran China. Untuk mengurangi sakit akibat pembedahan pasien, ia menemukan bubuk Ma Fei San, yang digunakan untuk pembiusan seluruh badan. Seribu enam ratus tahun kemudian, bangsa Eropa mulai menggunakan obat bius untuk operasi pada permulaan abad 19.

MENEMUKAN TEKNIK PEMBEDAHAN

Pernah suatu ketika Hua Tuo berlari menghampiri seseorang yang sedang mendorong gerobak di jalanan. Orang itu kondisi penyakitnya sangat parah, mukanya pucat pasi. Napasnya pendek dan cepat; terlihat sangat tidak sehat. Hua Tuo mendekatinya untuk mencari tahu apakah ia menderita kolik di perutnya. Hua Tuo dengan segera mendiagnosanya sebagai peradangan usus buntu yang harus segera dibedah. Orang itu meminum Ma Fei San dan segera terbius. Hua Tuo membedah perutnya, membuang bagian usus yang terinfeksi, membersihkan bagian dalamnya, menutup lukanya dengan beberapa jahitan, dan terakhir mengoleskan salep yang akan mengurangi peradangan dan mempercepat pertumbuhan jaringan. Pasien itu sembuh dalam beberapa hari dan luka bedahannya sembuh dengan sangat cepat. Cerita ini membuktikan efek pengobatan Ma Fei San, juga pemahaman Hua Tuo akan anatomi.

Hua Tuo juga telah terbukti sebagai dokter kandungan yang andal. Buku pada periode akhir dinasti Han mencatat sebuah kasus medis kompleks yang berhasil ditanganinya dengan sukses. Jenderal Li meminta pengobatan medis untuk istrinya. Setelah memeriksa nadinya, Hua Tuo memberitahu bahwa penyebab penyakitnya adalah karena istrinya terluka dalam masa kehamilan dan gagal mengeluarkan janinnya. Jenderal Li mengatakan memang betul, selama hamil pernah terluka, tapi janinnya sudah rontok. Hua Tuo mengatakan, menurut pengamatan dari denyut nadi, janinnya belum terlepas. Jenderal Li ragu-ragu dan tidak percaya akan hasil diagnosanya, jadi saat itu Hua Tuo tidak bisa memberikan pengobatan apa pun.

Setelah lewat 100 hari, kondisi istri Li berubah menjadi parah, lalu Hua Tuo diundang lagi untuk memeriksanya. Setelah memeriksa nadinya, Hua Tuo berkata, "Denyut nadinya sama seperti pada saat kunjungan terakhir saya. Ini adalah apa yang saya pikir terjadi. Istrimu mengandung sepasang janin kembar dalam perutnya. Janin yang pertama lahir mati dan menyebabkan pendarahan yang terlalu banyak dari si ibu, sehingga janin keduanya tidak dapat dilahirkan. Janin itu telah mati dalam perutnya. Ia membusuk dan menempel di suatu tempat dekat tulang belakang." Untuk megeluarkan janin itu, Hua Tuo mencoba dengan jalan dilahirkan. Pertama-tama, ia memberikan akupunktur untuk istri Li dan memberikan resep obat-obatan herbal. Tak lama kemudian, istri Li memulai kelahiran, namun tetap tidak dapat mengeluarkan janinnya. Hua Tuo menjelaskan bahwa memang sulit untuk mengeluarkan janin yang sudah mati dengan persalinan normal. Janin itu harus dikeluarkan dengan tangan. Hua Tuo memberi tahu seorang wanita di rumah jenderal itu bagaimana cara mengeluarkan janin mati itu dari tubuh istri Li.

GERAKAN LIMA HEWAN

Inovasi dalam bidang akupunktur juga ditemukan oleh Hua Tuo. Pernah suatu ketika seorang pasien mencari pengobatan medis darinya karena ia mempunyai masalah dengan kakinya dan tidak dapat berjalan. Setelah mengecek nadinya, Hua Tuo menotok beberapa titik akupunktur di punggungnya, dan memberi 7 tusukan akupunktur di tiap titik. Pasien dengan cepat sudah dapat berjalan setelah pengobatan. Berdasarkan pengalamannya sendiri dalam akupunktur, ia menemukan "Titik Akupunktur Jia Ji", sebuah titik akupunktur yang mengapit tulang belakang. Orang-orang di kemudian hari menyebut titik akupunktur tersebut sebagai "Titik Hua Tuo"

Hua Tuo juga menemukan seperangkat latihan yang dianamakan, "Gerakan 5 Hewan" yang mengambil gerakan dari 5 macam hewan, yaitu macan, rusa, beruang, monyet, dan burung. Latihan ini menjadi sangat populer di zamannya. Salah satu murid Hua Tuo, yaitu Wupu, secara terus-menerus berlatih "Gerakan 5 Hewan" menurut yang diajarkan oleh gurunya. Bahkan dalam umurnya yang 90-an, Wupu tetap sangat kuat dan sehat dengan pendengaran dan pengelihatan yang tajam, serta gigi yang baik.

Hua Tuo menempati posisi penting dalam sejarah pengobatan Cina atas teknik medisnya yang hebat, juga semangatnya dalam menolong dan menyelamatkan orang lain.

(Sumber : http://www.zhengjian.org)

Han Xin: Jenderal Terkenal pada Dinasti Han


Han Xin (?? – 196 BC), seorang anggota militer pada masa awal Dinasti Han, berasal dari Huayin (sekarang Provinsi Jiangsu). Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak ia masih kecil. Walaupun ia sangat miskin, dia belajar dengan keras dan menjadi sangat mengerti tentang strategi dan taktik militer. Ia mempunyai ambisi yang besar dan bercita-cita menjadi orang penting suatu hari nanti. Tanpa penghasilan, ia sering ke rumah teman yang berbeda untuk makan. Kadang-kadang ia pergi ke Sungai Huai untuk menangkap ikan untuk ditukar dengan sejumlah uang. Ia sering didiskriminasi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Pernah sekali, segerombolan penjahat mempermalukannya di depan publik. Seorang tukang daging berkata padanya: “Walaupun kau tinggi dan besar dan suka membawa pedang, saya tahu kau adalah seorang pengecut. Apkah kau berani membunuhku dengan pedangmu? Jika kau tidak berani, kau harus merangkak di antara kaki saya.” Han Xin mempunyai banyak ambisi dan tahu bahwa bila ia membunuh orang itu ia harus membayar atas perbuatannya dengan nyawanya. Bagaimana ia dapat membunuh pria itu? Pikirannya tidak terpancing oleh hal itu, ia jadi merangkak diantara kaki tukang daging itu di depan semua orang. Cerita sejarah menamakannya: “ Penghinaan merangkak diantara selakangan kaki.”

Pada tahun 209 SM, dua petani, Chen Sheng dan We Guang, memulai sebuah pembrontakan melawan Dinasti Qin yang korup. Dengan cepat terjadi pembrontakan terjadi di seluruh China. Han Xin bergabung dengan tentara pembrontakan Xiang Liang, yang mendirikan kerajaan Chu Barat. Setelah Xiang Liang tewas dalam perang, keponakan laki-lakinya Xiang Yu menjadi pemegang kekuasaan Chu Barat. Xiang yu tidak berpikir banyak terhadap Han Xin dan hanya memberinya posisi sebagai penjaga. Han Xin memberikan banyak usulan kepada Xiang Yu, tapi tidak satupun diambil. Ia marah akan perlakuan tersebut dan meninggalkan kemah Chu untuk bergabung dengan tentara pembrontakan lain yang dikenal Han dibawah bangsawan Liu Bang.

Pada awalnya, Liu Bang juga tidak berpikir banyak terhadap Han Xin dan hanya mengatakannya sebagai petugas yang mengatur suplai makanan. Han Xin menyadari Liu Bang tidak akan memberinya jabatan penting dan memutuskan untuk pergi lagi. Tetapi Perdana menteri Liu Bang, Xiao He, sadar akan kemampuan Han Xin. Ketika ia mendengar berita bahwa Han Xin telah pergi, ia menunggang kudanya mengejar Han Xin sepanjang malam dan meyakinkannya untuk kembali. Ada suatu ungkapan tentang kisah ini: “ Xiao He meyakinkan Han Xin dibawah bulan.”

Kemudian, setelah mendapat banyak rekomendasi dari Xiao He, Liu Bang mendiskusikan strategi militer dengan Han Xin dan sadar Han Xin adalah seorang yang memiliki bakat militer yang langka. Liu Bang akhirnya mengadakan upacara dan mengangkat Han Xin sebagai Jenderal besar

Bulan Mei tahun 206 SM, tentara Han memenangkan kemenangan utama melawan tentara bangsawan Zhang Han. Tentara bangsawan Zhang Han bermarkas di dekat kota Hangzhou. Jalan di sana telah dihancurkan. Han Xin secara terbuka mengirim banyak prajurit untuk memperbaiki jalan tersebut. Bangsawan Zhang Han mengetahui hal itu dan menempatkan penjaganya dengan berpikir bahwa tentara Han tidak akan mampu meluncurkan serangan hingga jalan selesai diperbaiki. Pada pertengahan waktu itu, Han Xin memimpin sendiri pasukan menyusuri sebuah jalan belakang yang tua dekat Nanzheng dan keluar melalui kota Chen Cang. Tentara bangsawan Zhang Han sepenuhnya terkejut dan dihancurkan oleh tentara Han. Karena kemenangan ini, Liu Bang bisa mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang dari tiga pemimpin pembrontakan.

Bulan Pebruari tahun kedua Hangaozu, Han Xin memimpin pasukannya ke luar menyebrangi Hanguguan dan berjalan menuju kota Luoyang. Ia mendapat rangkaian kemenangan. Tentara Han bahkan menaklukkan Peng, ibukota Chu, yang diperintah oleh Xiang Yu. Pada waktu itu, Xiang Yu sedang bertanggungjawab terhadap perang melawan negeri Qi. Ketika ia mendengar jatuhnya kota Peng, ia memimpin 30.000 kavaleri yang terlatih dengan sangat tinggi kembali ke kota Peng saat malam dan mengalahkan tentara Han dengan cepat. Han Xin menyatukan kembali pasukan yang kalah dan bergabung dengan kekuatan Liu Bang di wilayah Luoyang. Ia menggunakan taktik perang memblok dan memojokkan dan mengalahkan tentara Chu diantara Kabupaten Jiang dan Suoting, dan menghentikan tentara Xiang Yu bergerak menuju ke barat. Akhirnya, pertempuran terdepan terjadi di Yingyan (sekarang adalah Provinsi Henan).

Bulan Agustus, Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai Perdana Menteri Kiri. Han Xin memimpin tentara untuk menyerang negeri Wei. Bangsawan Bao Wei menempatkan sejumlah besar pasukan sepanjang timur tepi Sungai Kuning. Untuk menanggulangi strategi pasukan Wei, Han Xin menempatkan sejumlah besar kapal di Linjin yang berseberangan dengan sisi Sungai Kuning, berpura-pura akan menyerang dengan menyeberang sungai dengan kapal. Sementara itu ia mempunyai peralatan sementara yang dibangun untuk menyeberang sungai menggunakan kerangka kayu yang diikat bersama dengan vas keramik. Pasukan menyebrangi hulu sungai di Xiayang dan membuat serangan kejutan di Anyi. Dengan kemunculan tak terduga, pasukan Han di belakang tentara Wei, Han Xin mengalahkan tentara Wei dan menangkap bangsawan Bao Wei.

Bulan September tahun ketiga Hangaozu, Han Xin memimpin pasukan menuju timur untuk menyerang Eyu: ia menangkap penjabat Perdana Menteri Xia Chuo dan menguasai Kabupaten Dai. Pada waktu itu, Liu Bang memerintahkan Han Xin secepatnya menempatkan kekuatan utamanya di wilayah Yinyang untuk memperkuat pertahanan wilayah. Dengan demikian, Han Xin memimpin hanya kira-kira sepuluh ribu pasukan menuju timur untuk menyerang Zhao di Jingxing. Bangsawan Xie Zhao dan kepala komandan, Chen Wu, menempatkan dua ratus ribu prajurit di pintu gerbang Jingxing di wilayah Pegunungan Taixing. Tentara Zhao berada pada daerah yang menguntungkan dan bersiap untuk bertempur dengan Han Xin. Han Xin mengirim 2.000 kavelari ringan bermalam untuk mengepung resimen utama tentara Zhao. Pada dini hari, Han Xin mengatur kekuatan utama di pinggir tepi sungai, dengan sungai di belakang pasukan dan memancing tentara Zhao untuk menyerang. Tentara Han berjuang dengan sungai di belakang mereka. Mengetahui mereka tidak mempunyai jalan untuk mundur, setiap orang berjuang dengan putus asa. 2.000 Kavaleri menggunakan kesempatan untuk menyerang batalion Zhao. Ketika tentara Zhao melihat bendera merah tentara Han berkibar dimana-mana, mereka panik dan jatuh dalam kekacau-balauan. Han Xin menggunakan situasi yang menguntungkan ini untuk menyerang dan mengalahkan 200.000 orang-kuat pasukan Zhao. Pasukan Han membunuh komandan Chen Yu dan menangkap Bangsawan Xie Zhao.

Bulan November tahun keempat Hangaozu (203 SM), Han Xin menggunakan taktik pasukan berat untuk cepat menyerang ibukota Qi, Linzi. Jenderal Chu, Long Qie memimpin tentara 200.000 pasukan untuk penyelamatan dan bertemu dengan tentara Qi yang kalah di Gaomi (sekarang adalah Provinsi Shandong). Mereka berhadapan dengan tentara Han Xin pada sisi yang berseberangan dari Sunga Huai. Secara rahasia, Han Xin telah mengirim pasukan saat malam untuk memblokade air sungai di hulu dengan lebih dari sepuluh ribu kantung pasir. Pada dini hari, ia mengirim sebagian pasukannya untuk menyeberang Sungai Huai untuk menyerang pasukan Chu dan menarik diri berpura-pura telah dikalahkan. Jendral Long Qie keliru menganggap tentara Han Xin takut dan mengirim kekuatan utamanya menyebrang sungai untuk menyerang. Han Xin memerintahkan pasukannya membuka hulu bendung dan air memisahkan pasukan Chu menjadi dua bagian. Ia kemudian menggunakan strategi “menyerang musuh di tengah penyebrangan sungai” dan membunuh semua pasukan yang telah menyeberangi sungai. Jendral Long Qie juga ikut terbunuh. Pasukan gabungan Qi dan Chu, yang berada di sisi lain sungai, mengalami kegagalan tanpa pertempuran. Han Xin mengambil kesempatan dan mengejar pasukan yang kabur dan menangkap Bangsawan Qi, Tin Guang. Ia menaklukkan seluruh wilayah teritorial Qi.

Setelah Han Xin menguasai wilayah Qi, Xiang Yu panik. Ia cepat mengirim orang untuk membujuk Han Xin untuk bergabung dengannya dan bertempur melawan Han, berjanji akan memberikan sepertiga dari negerinnya. Han Xin menolaknya. Pelapor Han Xin, Quqi Tong mencoba membujuknya: “Jenderal, pernahkah anda mendengar bahwa sangat berbahaya apabila seorang pemberani dan berbakat melebihi seorang master dan jasa yang sangat besar tidak akan dibalas? Reputasi anda sekarang merupakan peringatan bagi anda dan anda mempunyai jasa yang besar. Jika anda bergabung dengan Chu, mereka tidak akan mempercayai anda, dan kau akan kembali kepada Han, bangsawan Han akan takut pada anda. Jika anda tidak membangun diri sendiri sebagai bangsawan sesuai dengan hak anda, kalau begitu dimana yang akan menjadi rumah anda?” Han Xin Dengan cepat menghentikannya: “Jangan bicara lagi. Bangsawan Han memperlakukan saya dengan kebaikan dan kemurahan hati yang begitu besar. Beliau memberi saya kereta kudanya sendiri untuk saya gunakan. Beliau memberi saya bajunya untuk dipakai. Beliau memberi makanan untuk dimakan. Nenek moyang kita berkata: ‘Ketika kita mengendarai kereta kuda orang lain, kau akan berbagi keresahannya; ketika kau memakai pakaiannya, kau juga harus berbagi kecemasannya; dan ketika kau mengambil makanannya, kau seharusnya melakukan yang terbaik untuknya.’ Bagaimana bisa saya melihat hanya keuntungan saya sendiri dan lupa akan kebaikannya?”

Ia menolak melawan Liu Bang. Tetapi wilayah Qi telah ditaklukkan dan di sana perlu menciptakan seorang bangsawan untuk memerintah negeri itu dan menenteramkan pikiran rakyat. Lalu Han Xin menulis sebuah surat kepada Liu Bang meminta untuk menjadi penjabat bangsawan untuk Qi. Pada awalnya, Liu Bang tidak menyetujui permintaan tersebut. Tetapi setelah mendengar pendapat dari Zhang Liang dan Chen Ping, Liu Bang menjadikan Han Xin bangsawan Qi dan memerintahkannya menyerang Chu.

Bulan Desember tahun kelima Hangaozu (202 SM), Chu dan Han berhadapan langsung didalam suatu pertempuran yang sengit di Gaixe (sekarang Binan, Provinsi Anhui). Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai kepala komandan. Xiang Yu mengomandani 100.000 pasukan Chu untuk menyerang dengan sengit di depan Han. Han Xin memerintahkan bagian tengah pasukannya untuk mundur sedikit dan untuk menghindari pengendara yang bersemangat dari pasukan Chu. Ia kemudian membentangkan kedua sayap ke luar untuk menjalankan serangan sisi dan memerintahkan bagian tengah pasukan untuk mendesaknya ke depan. Strategi ini sepenuhnya mengepung pasukan Chu. Malam itu, Han Xin memerintahkan pasukannya untuk menyanyikan lagu kebangsaan Chu dari semua sisi. Pasukan Chu kehilangan semangat bertempur mereka dan sebuah kenihilan di Haixia. Xiang Yu melakukan bunuh diri di tepi Sungai Wu. Lima tahun peperangan antara Chu dan Han berakhir ketika Liu Bang menaklukkan Negeri Chu.

Dimulai dari menjadi penjaga untuk Xiang Yu, Han Xin menjadi Jenderal dibawah Liu Bang dan memperoleh kemenangan terkemuka berulangkali hanya dalam beberapa tahun. Beliau adalah seorang tokoh utama dalam penentuan hasil perang antara Han dan Chu. Quai Tong memuji semua ini – tokoh kekuatan militer sebagai: “Seorang dengan strategi brilian yang langka.” Prinsipnya dalam memanuver pasukan adalah pujian tertinggi melalui surat strategi militer. Berdasarkan Han Yiwenxhi, Han Xin menulis tiga bab Strategi Militer Hanxin. Sangat disayangkan buku tersebut telah hilang.

Kemampuan Han Xin membuat Liu Bang iri. Setelah mengalahkan Xiang Yu, Liu Bang merampas komando militernya dan membuatnya menjadi bangsawan Chu. Selanjutnya ia diturunkan ke Marquis Huayin dan kemudian ditempatkan dirumah penahanan.

Pada tahun kesebelas Hangaozu (196 SM), Kaisar Lu dan Perdana Menteri Xiao He mengumpankan Han Xin ke Istana Changle dan mengeksekusinya dengan alasan konspirasi melawan negara. Sangat menyedihkan melihat seorang jenderal besar dibunuh pada masa jayanya.

Translated from: http://www.zhengjian.org/zj/articles/2005/8/10/33402.html
http://www.pureinsight.org/pi/articles/2005/8/22/3246.html

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_15.htm

Qu Yuan – Seorang pujangga patriot
(asal usul peringatan tradisi Bakcang)


Penulis artikel : Shu Ping

Dajiyuan.com - Qu Yuan (dibaca: chu yuen), dipanggil juga Ping alias Zhengze, bernama: Lingjun, penduduk negara Chu dari zaman Zhan Guo (negara-negara saling berperang, yaitu antara tahun 403 SM – 221 SM). Beliau adalah keturunan bangsawan dengan ketrampilan segudang: menulis, wawasan dan keberanian; terlebih-lebih kecintaannya terhadap negara tak perlu diragukan lagi. Namun sayang beliau tidak ditempatkan pada kedudukan penting oleh raja Chu, ditambah lagi dengan pemboikotan dan pemfitnahan dari pejabat berpengaruh saat itu: Le Shang dan komplotannya, sehingga karir politiknya jadi kacau dan sempat dibuang sebanyak 2 kali.

Pertama kali dibuang, disebabkan oleh karena Le Shang merasa iri dengan kemampuan Qu Yuan dan sikap kepeduliannya terhadap urusan negara, oleh karena itu sering menjelek-jelekkan Qu Yuan di hadapan raja Chu (Chu Huai Wang), mengatakan Qu Yuan bersikap congkak hanya karena bisa sering berdiskusi urusan politik dengan raja Chu dan lain sebagainya. Mendengar hal itu raja Chu marah besar dan membuang Qu Yuan. Itu adalah pertama kali dalam hidupnya Qu Yuan dibuang. Meskipun beliau dibuang, tetapi hatinya masih tertambat dengan urusan negara. Ketika beliau mendengar bahwa negara Qin berencana mengumpan raja Chu dengan seorang wanita cantik yang akan membunuhnya, dengan segera beliau kembali ke negara Chu dan berupaya menasehati / memperingatkan raja Chu. Namun Chu Huai Wang sama sekali tidak mau mendengar omongannya, terpaksa beliau meninggalkannya. Ternyata benar, tidak lama kemudian, raja Chu telah terbunuh oleh konspirasi negara Qin. Bisa dibayangkan bagaimana kala itu perasaan Qu Yuan.

Pembuangan kedua kalinya adalah karena raja baru Chu (Qin Xiang Wang) naik tahta, Qu Yuan lagi-lagi menjadi korban kejahatan komplotan Le Shang dengan menyebar gossip dan memfitnah Qu Yuan, akhirnya sekali lagi Qu Yuan diusir keluar dari negerinya. Kali ini beliau tiba di Jiang Nan (wilayah selatan dari sungai Yangtse), dengan wajah murung karena tidak tega melihat negara terancam ambruk, namun juga merasa tidak mampu membalas budi kepada negara, maka dengan rasa putus asa sembari memeluk batu besar beliau terjun dan tewas di sungai Mi Luo. Pada hari itu tepat adalah tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan tahun Imlek (Tahun ini jatuh pada tanggal 31 Mei 2006).

Konon setelah Qu Yuan terjun ke dalam sungai, rakyat negara Chu sangat berduka dan berbondong-bondong menuju ke sungai Mi Luo untuk melayat Qu Yuan. Para nelayan hilir mudik berupaya mengentas jenazahnya. Ditemukanlah satu ide bahwa di tempat dimana Qu Yuan meloncat ke dalam sungai Mi Luo dilemparkan banyak bakcang. Mereka percaya apabila setelah kenyang memakan bacang-bacang tersebut, ikan dan udang tidak bakal mengganggu jenazah Qu Yuan lagi. Selain itu ada juga orang yang pada hari tersebut mengadakan kegiatan mendayung perahu naga sebagai perlambang pencarian dan pertolongan kepada Qu Yuan. Malah ada sebagian orang lagi yang menuangkan arak Xiong Huang ke dalam sungai dengan keyakinan agar naga yang berada di dasar sungai mabuk duluan sehingga tidak mengganggu Qu Yuan. Berbagai macam cara yang menandakan rasa cinta dan hormat rakyat negara Chu dan para generasi penerus kepada Qu Yuan.

Qu Yuan didalam karirnya walau tidak sesuai harapan, namun di dalam karya kesusasteraannya sangat disegani.

Li Sao Meninggalkan Kegalauan adalah hasil karya Qu Yuan pada saat pembuangan pertamanya, puisi tersebut berjumlah total 373 baris dan 2400 lebih aksara. Di dalam Li Sao, Qu Yuan mengekspresikan tuntas seluruh perasaannya, menunjuk keblingeran penguasa negara di dalam realitas kehidupan sehari-hari dan kebobrokan para birokrat dan lain lain; di dalam Li Sao melalui sejumlah besar kisah dongeng dan mitos serta cara penulisan yang hiperbola namun berani, telah menyampaikan kegundahan dan rasa cintanya terhadap negara dan rakyat. Generasi penerus mengakui Li Sao sebagai hasil karya unggulannya.

Mungkin karena mirip dalam situasinya kala itu dan barangkali juga adalah karena saling mengagumi antar sesama patriot, penilaian Shima Quan (pakar sejarah zaman Sam Kok, tahun 200an Masehi) terhadap Qu Yuan cukup tinggi. Tidak cukup hanya mewartakannya di dalam Shi Ji Catatan Sejarah, namun juga perlu mencambuk diri sendiri dengan semangat [Qu Yuan dibuang, Li Sao anugerahnya], dalam penyelesaian karya raksasanya Shi Ji / Catatan Sejarah. Walaupun Qu Yuan dengan kematiannya tidak mampu mengubah sejarah negara Chu, akan tetapi dengan kematiannya yang menerangi tekad dan kesetiaannya yang tulus dan teguh terhadap negara telah meninggalkan ingatan yang mendalam bagi generasi penerus. (WHs)

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_18.htm

Xuan Zhang :
Cendikiawan Muda pada Zaman Dinasti Tang


Seorang biksu muda pada masa Dinasti Tang melakukan perjalanan ke India untuk belajar agama Buddha. Dialah yang menerjemahkan naskah-naskah kitab suci ke dalam bahasa Mandarin.

(Erabaru.or.id) - Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial "Kera Sakti" ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci.

Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial "Kera Sakti" terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar San-Tsang atau Mu-Ch'a-T'i-P'o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun).

Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada).

Mengembara ke India

Terlahir dalam keluarga cendekiawan turun-temurun yang menganut paham Confucianis di mana atas pengaruh kakaknya yang menyenangi agama Buddha, akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke Ch'ang-an dan kemudian ke Ssu-ch'uan (sekarang Szechwan) guna menghindari konflik politik yang terjadi. Semasa berada di Ssu-ch'uan, Hsuan-tsang mulai mempelajari filosofi Buddhis tetapi menemukan banyak sekali perbedaan dan kontradiksi dari berbagai kitab yang dibacanya. Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke India.

Hsuan-tsang muda melakukan perjalanan ke utara di Padang Pasir Takla Mak'an melewati sumber mata air Turfan, Karashar, Kucha, Tashkent dan Samarkand untuk kemudian memasuki Gerbang Besi Bactria, melewati pegunungan Hindu Kush sampai ke Kapisha, Gandhara, dan Kashmir di sebelah Tenggara India. Dari sana beliau menaiki perahu menjelajahi sepanjang Sungai Gangga sampai ke Mathura, dan mencapai tanah suci agama Buddha di bagian timur Sungai Gangga pada 633. Hsuan-tsang mulai mengunjungi berbagai tempat keramat yang berkaitan dengan kehidupan sang Buddha di sepanjang sungai Timur sampai Barat.

Kemudian sebagian besar waktunya dihabiskan di Nalanda (pimpinan universitas saat itu adalah Silabhadra yang bergelar 'Mustika Kebenaran') yang merupakan satu-satunya pusat pengkajian Buddha yang terbesar saat itu. Hsuan-tsang muda mempelajari bahasa Sansekerta, filsafat Buddhis dan filsafat India. Sewaktu berada di India, Hsuan-tsang terkenal akan kecendekiawanannya, sehingga raja yang berkuasa di India bagian utara, Raja Harsa menemui secara pribadi untuk memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya dengan bantuan dari Raja Harsa, beliau dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Tiongkok (tahun 643) dengan fasilitas yang disediakan oleh Raja berupa 20 ekor kuda yang membawa 527 peti naskah.

Kembali ke Tiongkok

Hsuan-tsang kembali ke Ch'ang-an (ibu kota negara T'ang) pada 645 setelah meninggalkan negaranya selama 16 tahun. Beliau disambut dengan meriah di ibu kota dan beberapa hari kemudian di depan khalayak ramai, Raja menawarkan posisi menteri di pemerintahan dengan pertimbangan bahwa Hsuan-tsang mempunyai pengalaman luas di berbagai negara asing. Namun terdorong oleh niatnya yang besar untuk mengabdi dalam Buddha, beliau menolak secara halus penawaran Raja tsb. Hsuan-tsang menghabiskan sisa waktunya dengan menerjemahkan sekitar 657 naskah yang dikemas dalam 520 peti (literatur lain menuturkan 527 peti) yang dibawanya kembali dari India.

Beliau menyelesaikan 73 naskah (literatur lain menyebutkan 75 naskah) yang terbagi atas 1,330 bagian, di mana sebagian besar merupakan rujukan utama dalam Tripitaka Mahayana seperti Prajnaparamita Hrdaya Sutra, naskah Yogacara, Madhyamaka dan naskah Vasubandhu yakni Trimsika atau dikenal juga dengan nama Vijnaptimatrasiddhi. Selain itu terdapat juga naskah dari sejumlah sekte lainnya seperti dari Hinayana, Theravada, Vinaya, Mahasanghika dan Risalah, termasuk naskah pengetahuan umum dan naskah tata bahasa.

Pokok-pokok Pikirannya

Karya Hsuan-tsang lebih berdasarkan filsafat ajaran Yogacara (Vijnanavada/Wei-shih cung) yang dikembangkan oleh Asanga dan Vasabhandhu, di mana bersama dengan muridnya K'uei-chi (632-682) mendirikan sekte Wei-shih (Hanya Kesadaran/Vijnana) yang tertuang dalam karya Hsuan-tsang , Ch'eng-wei-shih-lun (Treatise on the Establishment of the Doctrine of Consciousness Only) yang menjelaskan bagaimana bisa terdapat suatu dunia emperikal yang umum untuk setiap individu yang memiliki badan dan penyerapan yang berbeda dapat merupakan pembentuk pikiran bersama terhadap suatu tujuan tertentu. Menurut Hsuan-tsang, benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran (alayavijnana) merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu.

Pokok utama ajaran ini mengatakan bahwa seluruh dunia ini terbentuk karena pikiran. Bentuk-bentuk tampak luar adalah tidak nyata (maya), tidak ada yang nyata diluar pikiran. Pendapat umum tentang adanya bentuk luar hanyalah disebabkan konsepsi yang salah dimana dapat dihilangkan dengan proses meditasi yang menarik kembali semua bentuk luar yang bersifat maya tersebut (semacam vipassana bhavana). Benih karma merupakan pembentuk pancaskandha yang terkumpul dalam gudang kesadaran dimana membentuk pikiran atas keberadaan dunia luar berdasarkan persepsi dan cita. Gudang kesadaran inilah yang harus disucikan dari dualitas subyek-obyek dan keberadaan yang maya dengan menempatkannya pada alam kemurnian yang dapat disamakan dengan kenyataan atau kesamaan yang menunjukkan sifat dasar dari semua benda sesuai apa yang telah ditentukan (tathata). Alam kesadaran inilah yang dicapai oleh para Bodhisattva sebagaimana tercermin dari konsep Trikaya.

Perkembangan Ajaran

Pokok pikiran ajaran tersebut sempat populer pada masa kehidupan Hsuan-tsang dan K'uei-chi , tetapi karena filsafat dan terminologi ajaran tersebut yang kurang dimengerti dan sulit dicerna secara umum, demikian juga bentuk pemahaman yang berkaitan dengan analisa pikiran dan perasaan merupakan suatu hal yang asing bagi tradisi di Tiongkok saat itu, maka dengan meninggalnya Hsuan-tsang dan K'uei-chi, sekte ini pun akhirnya mengalami kemerosotan. Pada saat meninggalnya Hsuan-tsang, Raja T'ang mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari guna menghormati segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hsuan-tsang yang ditunjukkan oleh pengabdiannya yang tanpa pamrih dalam mengembangkan Buddhisme di Tiongkok.

Tercatat dalam beberapa literatur bahwa pada masa kehidupan Hsuan-tsang, terdapat seorang biksu Jepang yang bernama Dosho sempat singgah ke Tiongkok pada tahun 653 dan belajar di bawah bimbingan Hsuan-tsang, di mana sesudah menyelesaikan pelajarannya, biksu Dosho kembali ke Jepang untuk mengenalkan doktrin tersebut, dan kemudian menjadi terkenal akan Vihara Gongo. Selama abad ke-7 dan ke-8, sekte ini dikenal dengan nama Hosso (Fa-hsiang) dan merupakan sekte yang paling mempengaruhi semua sekte Buddhis yang ada di Jepang sampai saat ini. Biksu Dosho merupakan biksu pertama di Jepang yang jasadnya dikremasikan secara Buddhis. Selain di Jepang, ajaran Hsuan-tsang juga menyebar ke Korea.

Selain melakukan penerjemahan naskah-naskah, Hsuan-tsang juga menulis cerita perjalanannya ke Barat (India) yang diberi judul Ta-T'ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan ke Barat semasa Dinasti T'ang Agung), merupakan suatu catatan dari berbagai negara yang dilewatinya sewaktu melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_02.htm

Selasa, 03 Juni 2008

Seni Perang Sunzi

Seni Perang Sunzi adalah kitab zaman kuno tentang teori militer, juga merupakan salah satu kitab zaman kuno Tiongkok yang mempunyai pengaruh paling besar dan paling luas di dunia. Pikiran taktik dan strategi serta filsafat yang dibeberkan dalam kitab itu dimanfaatkan secara luas di bidang militer, politik, dan ekonomi.

Seni Perang Sunzi selesai ditulis pada 2500 tahun yang lalu, merupakan karya tentang Seni Perang yang bersejarah paling lama di dunia, yaitu lebih awal 2300 tahun daripada Tentang Perang (On War), karya Clausewitz Eropa.

Pengarang Seni Perang Sunzi bernama Sun Wu, adalah ahli militer pada Zaman Perang Chunqiu. Sun Wu dalam sejarah dihormati sebagai “Nabi Militer” atau “Nabi Perang”. Pada masa hidupnya, sekali peristiwa, Sun Wu melarikan diri ke Negara Wu untuk menghindari api perang yang berkobar di kampung halamannya. Di Negara Wu, Sun Wu dipercayai Raja Negara Wu untuk memimpin pasukan negeri tersebut. Dengan tentara sebanyak 30 ribu orang, Sun Wu berhasil mengalahkan 200 ribu tentara Negara Chu. Keberhasilan gemilang itu sangat menggemparkan negara-negara yang lain pada waktu itu. Dengan menyimpulkan pengalaman perang pada akhir Zaman Chunqiu dan perang-perang sebelumnya, Sun Wu menyelesaikan karya Seni Perang Sunzi, yang di dalamnya dicatat hukum obyektif militer dan seperangkat Seni Perang yang lengkap.

Buku Seni Perang Sunzi berisi 6000 lebih huruf Kanji (mandarin) dan terbagi menjadi 13 episode yang masing-masing membeberkan satu tema. Misalnya, dalam Episode Taktik dipaparkan argumentasi tentang masalah dapat atau tidaknya perang dilancarkan, yang menunjukkan secara mendalam lima faktor pokok yang menentukan menang atau kalahnya suatu perang, yakni politik, kondisi cuaca, geografi, jenderal dan hukum. Faktor politik adalah faktor yang paling penting di antaranya. Sedangkan dalam Episode Berperang dijelaskan bagaimana melakukan perang. Di Episode Taktik Serangan dijelaskan bagaimana menyerang negara musuh. Sun Wu menganjurkan agar mengusahakan kemenangan maksimal dengan korban seminimum mungkin, yaitu berusaha menaklukkan lawan tanpa berperang, menduduki kota musuh tanpa serangan hebat, serta membasmi negeri musuh tanpa perang berlarut lama. Untuk mencapai tujuan itu, Sun Wu dalam bukunya menandaskan pentingnya mencapai kemenangan melalui taktik dan strategi. Ditunjukkannya, taktik terbaik dalam berperang ialah mengusahakan sukses melalui politik dan taktik, taktik kedua ialah mengusahakan kemenangan melalui pendekatan diplomatik, taktik ketiga ialah mengusahakan kemenangan dengan mengandalkan kekuatan dan taktik terakhir adalah serangan kekuatan bersenjata terhadap kota. Menurut Sun Wu, ketika berperang, seseorang tidak hanya harus tahu akan kekuatannya sendiri, tapi juga harus mengetahui keadaan lawannya.

Dalam buku Seni Perang Sunzi terkandung banyak pikiran filsafat. Misalnya, kalimat “mengetahui diri dan lawan, akan menang selalu” kini telah menjadi kata-kata yang sering diucapkan rakyat Tiongkok. Dalam Seni Perang Sunzi dibahas pula hubungan serentetan kontradiksi dan perubahannya dengan perang, antara lain, hubungan antara musuh dan diri sendiri, hubungan subyektif dan obyektif, banyak dan sedikit, ofensif dan defensif, menang dan kalah, keuntungan dan kemalangan. Justru di atas dasar penelitian kontradiksi dan syarat perubahannya itulah, Seni Perang Sunzi menyimpulkan banyak strategi dan taktik dalam peperangan.Pikiran filsafat yang termanifestasi di dalamnya menempati kedudukan penting dalam sejarah perkembangan pikiran filsafat Tiongkok.

Seni Perang Sunzi adalah suatu kitab militer mahabesar tentang strategi dan taktik berperang. Pikiran yang tercantum di dalamnya secara luas dimanfaatkan ahli militer berbagai zaman. Banyak taktik yang tercantum di dalamnya kini sangat populer di kalangan rakyat. Dengan pikiran militer dan filsafat serta taktik yang mengandung perubahan tak terbilang banyaknya, buku Seni Perang Sunzi mempunyai pengaruh luas di bidang pikiran kemiliteran dunia, dan mempunyai reputasi yang tinggi. Buku tersebut sekarang diterbitkan dalam edisi 29 bahasa, antara lain, edisi bahasa Inggris, Rusia dan Jepang. Dewasa ini tidak sedikit sekolah militer di banyak negara memakai buku Seni Perang Sunzi sebagai bahan pengajaran. Dilaporkan, selama Perang Teluk tahun 1991, kedua pihak yang terlibat dalam peperangan pernah mengadakan penelitian tentang Seni Perang Sunzi untuk menarik keuntungan dari pikiran militernya.

Sekarang pikiran yang tercantum dalam Seni Perang Sunzi juga secara luas dimanfaatkan di bidang masyarakat dan perdagangan. Banyak pengusaha menerapkan strategi dan taktik Seni Perang Sunzi dalam penyelenggaraan perusahaan dan pemasaran produknya. Dengan dimanfaatkannya untuk tujuan sipil, buku kemiliteran itu terus memainkan peranan positifnya.

Tambahan info :

http://www.chinese-wiki.com/index.php/Sun_Zi_Art_of_War

Lima Masa Emas Dalam Sejarah Tiongkok

Selama sejarah masyarakat feodal 2000 tahun yang lalu, di Tiongkok berturut-turut muncul beberapa kali masa emas, yang dalam catatan sejarah dipuji sebagai “Masa Makmur”, misalnya “Masa Makmur Wenjing” pada Dinasti Han Barat, “Masa Makmur Zhenguan” pada Dinasti Tang, “Masa Makmur Yongxuan” pada Dinasti Ming dan “Masa Makmur Kangxi, Yongzheng dan Qianlong” pada Dinasti Qing, dinasti terakhir dalam sejarah Tiongkok. Ada juga “Masa Makmur Negara-negara Berperang” yang sedikit dikenal orang.

Kelima “masa makmur” itu semuanya muncul setelah meredanya kekacauan zaman sebelumnya dan mencapai puncaknya pada masa pertumbuhan pesat dinasti yang baru berkuasa. Misalnya, Dinasti Han Barat yang didirikan di atas dasar reruntuhan Dinasti Qin sebelumnya, baru mencapai masa emasnya setelah mengalami “rehabilitasi” selama 170 tahun. Sedangkan “Masa Makmur Kaiyuan” pada Dinasti Tang muncul setelah kerusuhan pada akhir Dinasti Sui berakhir dan setelah menempuh jalan perkembangan yang berliku-liku selama hampir seratus tahun. Sedangkan “Masa Emas Yongxuan” pada Dinasti Ming baru dicapai pemerintah setelah mengusir penguasa Dinasti Yuan ke luar Tembok Besar dan mencapai penyatuan kembali wilayah serta mengalami penyelenggaraan negara selama setengah abad. Sejak masa pertengahan Wanli, situasi pemerintahan Dinasti Ming sangat tidak stabil. Pada masa pemerintahan Chongzhen, Dinasti Ming akhirnya digulingkan oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Sebelum tentara Dinasti Qing memasuki bagian tengah Tiongkok dari Benteng Shanhaiguan, kerusuhan yang terjadi selama berkuasanya Dinasti Ming telah berlarut hampir setengah abad lamanya. Setelah memasuki bagian tengah Tiongkok, tentara Qing seluruhnya memerlukan waktu 20 tahun untuk membasmi pasukan pemberontak petani pimpinan Li Zicheng dan pimpinan Zhang Xianzhong serta membasmi kekuatan pendukung Dinasti Ming. Justru di atas dasar kekacauan Dinasti Ming itulah, didirikan satu dinasti feodal yang baru. Setelah 70 tahun berkuasanya, situasi di Tiongkok berubah dari kekacauan menjadi ketenteraman. Sedangkan Zaman Negara-negara Berperang juga sama halnya seperti beberapa masa makmur tersebut, yaitu diwujudkannya penyatuan dan masa makmur pada Dinasti Qin setelah mengalami kekacauan pada masa berperang 7 negara. Dengan demikian, jelaslah bahwa berbagai masa emas atau masa makmur mempunyai ciri khasnya yang sama, yaitu negara bersatu, ekonominya makmur, situasi politiknya stabil, masyarakat tenteram, kekuatan negaranya kuat dan kebudayaannya makmur.

Setiap “masa makmur” pada dinasti-dinasti tersebut mencapai ketenteraman dan kestabilan negara dalam jangka panjang di bawah syarat “penyatuan kembali” tanah air, di mana ekonomi berkembang mantap, bahan makanan mencapai swasembada dan negara menjadi perkasa.

Kitab Sejarah ( Book of Historian )

Kitab Sejarah adalah ensiklopedia sejarah Tiongkok, sekaligus kitab sastra riwayat yang besar dan berpengaruh mendalam terhadap ilmu sejarah dan kesusasteraan Tiongkok pada masa kemudian. Kitab Sejarah dilahirkan pada Zaman Dinasti Han Barat, kira-kira abad ke-satu Sebelum Masehi. Kitab Sejarah mencatat sejarah sepanjang 3000 tahun sejak zaman dahulu kala dan Zaman Dinasti Barat, menyangkut bidang-bidang ekonomi, kebudayaan dan sejarah. Kitab Sejarah adalah buku sejarah kronologis pertama Tiongkok yang mengutamakan catatan riwayat. Buku itu sekaligus menginisiatifkan kesusasteraan riwayat Tiongkok.

Sebelum memperkenalkan sumbangan Kitab Sejarah terhadap ilmu sejarah dan kesusasteraan Tiongkok, marilah kita berkenalan dengan pengarangnya bernama Sima Qian. Sima Qian adalah sejarahwan dan sastrawan yang hidup pada masa Dinasti Han Barat yang berkuasa pada abad ke-1 Sebelum Masehi. Ia dilahirkan di keluarga sejarahrawan. Ayahnya adalah pejabat sejarah pemerintah Dinasti Han Barat. Sima Qian waktu masih kecil pandai sekali dan suka berpikir. Ia mempunyai pandangannya sendiri terhadap figur sejarah dan insiden dalam sejarah. Waktu ia masih muda, Sima Qian berkelana ke mana-mana untuk menyaksikan adat istiadat, keadaan ekonomi dan jenis produk berbagai daerah. Ia mengunjungi banyak obyek wisata dan tempat peninggalan sejarah untuk mengumpulkan riwayat dan bahan tentang figur sejarah terkenal sesuatu tempat. Pada kemudian hari, Sima Qian mewarisi profesi ayahnya dan menjadi pejabat urusan sejarah pemerintah Dinasti Han Barat. Pada waktu itu, catatan tentang zaman dahulu kala semuanya diselesaikan pada masa peperangan antara negara-negara kepangeranan dan ditulis menurut pandangan pengarang yang berbeda, lagi pula pikirannya sangat sempit. Sima Qian yang berpangkat pejabat urusan sejarah berencana menyunting satu buku sejarah yang lengkap. Namun malang sekali, Sima Qian waktu kebetulan dijatuhkan hukuman berat soal politik pemerintah, sehingga badan dan rohaninya terpukul berat. Walaupun pemerintah melantiknya kembali, tapi perasaan hatinya berubah sama sekali. Menyunting Kitab Sejarah pada waktu itu menjadi satu-satunya tujuan kehidupannya. Akhirnya Sima Qian menyelesaikan Kitab Sejarah dalam 13 tahun. Kitab Sejarah terbagi dalam 103 lembaran dengan 500 ribu huruf mandarin.

Kitab Sejarah dipuji orang sebagai satu buku yang mencatat sejarah seperti apa adanya. Memang Sima Qian tidak berpandangan sama seperti pejabat-pejabat sejarah yang lalu, yang menganggap pencatatan sejarah sebagai tugas untuk menyenandungkan prestasi dan hasil raja dan menteri yang beijaksana. Lingkup catatan Kitab Sejarah jauh lebih luas daripada catatan sejarah yang lain yang terdapat pada masyarakat feodal. Bidang yang disentuhnya dalam Kitab Sejarah tidak hanya terbatas pada politik, melainkan menghubungkan politik, ekonomi, militer, kebudayaan serta astronomi, geologi dan adat istiadat, sehingga menyatukannya menjadi satu substansi tunggal, dalam rangka memperlihatkan satu dunia sejarah yang beraneka ragam. Setelah mengalami perlakuan tidak adil atas dirinya sendiri, Sima Qian lebih-lebih memperhatikan nilai perseorangan. Salah satu perbedaan antara Kitab Sejarah dan catatan sejarah yang lalu ialah, Kitab Sejarah memanifestasikan kecintaan dan kebencian yang tegas. Kitab itu disamping membelejeti dan menyintir kelas penguasa feodal, khususnya kelompok penguasa Dinasti Han, juga mencerminkan perlawanan rakyat yang luas terhadap kekuasaan lazim feodal dengan memuji sejumlah banyak tokoh lapisan bawah dan melukiskan serentetan pahlawan patriotik.

Kitab Sejarah mempunyai nilai kesusasteraan yang tinggi. Keseniannya terutama termanifestasi pada figur yang berkarakter dan berwatak diri sendiri yang berhasil dicatatnya berdasarkan bahan sejarah yang benar. Misalnya dalam Kitab Sejarah tercatat pemberontak gagah berani, pahlawan yang berambisi tapi kelihatannya tak becus, tokoh berbudi dan berani tapi tidak berjabatan, jenderal yang menang selalu, pembunuh yang tak segan-segan mengorbankan diri serta pelajar yang kelihatannya lemah tapi sangat bijaksana, janda yang memiliki kekayaan tak terbilang banyaknya, dan gadis cantik yang berani melakukan "kawin lari"... kesemua tokoh itu membentuk bagian paling menarik dan paling penting dalam Kitab Sejarah.

Kitab Sejarah sangat sederhana bahasanya, tapi ekspresinya jelas dan bahasanya hidup, khususnya banyak menampilkan penulisan seperti lakon opera sehingga menambah daya menarik buku tersebut.

Dinasti Qing

Dinasti Qing yang berkuasa antara tahun 1644 dan 1911 adalah dinasti terakhir dalam sejarah Tiongkok dengan sepuluh kaisar berturut-turut naik takhta di Beijing dengan masa berkuasanya berlangsung selama 268 tahun.

Luas wilayah Dinasti Qing pada masa puncaknya pernah mencpai 12 juta kilometer persegi. Pada tahun 1644, pasukan pemberontakan pimpinan Li Zicheng menyerbu masuk ke Beijing dan menggulingkan pemerintahan Dinasti Ming. Kaisar terakhir Dinasti Ming, yaitu Kaisar Chongzhen gantung diri di sekitar istana. Pasukan Dinasti Qing menggunakan kesempatan runtuhnya pemerintah Dinasti Ming menyerbu masuk dari Benteng Shanghaiguan, tempat strategis yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan Dinasti Ming, dan mengalahkan pasukan pemberontakan petani Li Zicheng. Setelah itu, Dinasti Ming memindahkan ibu kotanya dari Shengjing (Shenyang sekarang) Tiongkok Timur Laut ke Beijing. Setelah itu, pasukan Dinasti Qing berangsur-angsur menindas pasukan pemberontakan petani dan kekuatan-kekuatan anti Dinasti Ming sehingga setapak demi setapak menyatukan Tiongkok.

Pada awal masa berkuasanya, pemerintah Dinasti Qing mengambil kebijakan yang menganjurkan penggarapan tanah tandus serta mengurangi dan membebas pajak sehingga masyarakat dan ekonomi baik di pedalaman maupun di daerah perbatasan mengalami perkembangan tertentu. Sampai pada pertengahan abad ke-18, ekonomi feodal mencapai satu puncak yang baru dan masa itu dipuji sejarahwan sebagai “Masa Makmur Kangxi, Yongzheng dan Qianlong”. Pada waktu itu, sistem monarki pemerintah pusat berkembang lebih lanjut, kekuatan negara meningkat, tata tertib sosial stabil. Pada akhir abad ke-18, jumlah penduduk di Tiongkok sudah mencapai 300 juta jiwa kurang lebih.

Tahun 1661, Zheng Chenggong memimpin armada menyeberangi Selat Taiwan dan mengalahkan kolonialis Belanda yang sudah bercokol di Taiwan selama 38 tahun. Pada awal tahun kedua, kolonialis Belanda menyerah diri dan Taiwan kembali ke pangkuan tanah air.

Pada akhir abad ke-16, Rusia Tsar mengadakan ekspansi ke timur. Pada waktu tentara Dinasti Qing menyerbu masuk ke pedalaman, pasukan Rusia Tasar dengan menggunakan kesempatan itu menduduki Yaksa dan Nibuchu?. Pemerintah Dinasti Qing berkali-kali menuntut agresor Rusia Tasar menarik diri dari wilayah Tiongkok. Tahun 1685 dan 1686, Kaisar Kangxi memerintahkan tentara Dinasti Qing dua kali menyerbu pasukan Rusia Tsar di Yaksa. Tentaran Rusia terpaksa menyetujui mengadakan perundingan untuk menyelesaikan masalah perbatasan sektor timur Tiongkok-Rusia. Tahun 1689, wakil-wakil Tiongkok dan Rusia mengadakan prundingan di Nichersink? Dan secara resmi menandatangani perjanjian perbatasan pertama, yaitu Perjanjian Nibuchu?

Pada masa pertengahan berkuasanya Kaisar Qianlong, tentara Dinasti Qing menaklukkan kekuatan-kekuatan separatis di Xinjiang Tiongkok Barat Laut dan berhasil menyatukan daerah tersebut. Sementara itu, pemerintah Dinasti Qing mengambil serentetan kebijakan untuk mengembangkan ekonomi, kebudayaan dan hubungan lalu lintas di daerah perbatasan.

Sebelum masa berkuasanya Kaisar Daoguang. pemerintah Dinasti Qing pernah mencapai prestasi gemilang di bidang kebudayaan dengan munculnya banyak pemikir dan pujangga yang terkemuka, antara lain, Wang Fuzhi, Huang Zongxi dan Cao Xueqin. Ensiklopedia Siku dan Kumpulan Buku Zaman Kuno Dan Zaman Sekarang, yang merupakan kitab berpengaruh besar yang disusun oleh pemerintah. Di bidang iptek, Dinasti Qing juga mencapai taraf yang cukup tinggi, khuusnya di bidang arsitektur.

Pada masa Dinasti Qing, pemerintah tetap menjunjung kebijakan pengembangan pertanian sebagai kebijakan pokoknya, tapi dalam hubungan dengan luar negeri, Dinasti Qing sangat terisolasi karena cenderung menutup diri.

Setelah masa pertengahan, berbagai kontradiksi masyarakat Dinasti Qing mulai meruncing, sementara itu perjuangan pemberontakan juga kerap kali terjadi, di antaranya pemberontakan Balianjiao mengakhiri masa emas pemerintahan Dinasti Qing.

Akibat Perang Opium pada tahun 1840 dan agresi imperialisme setelah itu, pemerintah Dinasti Qing terpaksa menandatangani serentetan perjanjian pincang dengan agresor. Berdasarkan perjanjian-perjanjian pincang tersebut, Tiongkok berangsur-angsur terjerumus ke dalam sosial semi feodal dan semi kolonial. Pada akhir masa Dinasti Qing, pemerintahannya sangat bobrok dan pikirannya kaku. Tiongkok pada waktu kelihatannya seperti pengecut yang penuh rasa rendah diri sehingga setapak demi setapak memasuki masa bangkrut dan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan. Dengan demikian di Tiongkok meletuslah serentetan gerakan anti imperialisme dan feodalisme, antara lain, pembeorntakan Taiping Tianguo dan Nianjun. Untuk menyelamatkan kekuasaannya, kelas pengusasa juga mengadakan sebagian kegiatan reformasi di tubuh intern, misalnya Gerakan Belajar Ilmuwan Barat dan Reformasi Wuxu, dengan tujuan membawa Tiongkok ke jalan makmur dan merdeka, tapi upaya itu semuanya berakhir dengan kegagalan. Pada waktu itu tak terbilang banyaknya tokoh berjuang bermandi darah untuk menyelamatkan bangsa dari krisis. Sejarah modern Tiongkok merupakan suatu masa yang penuh patriotisme. Tahun 1911, kekuasan Dinasti Qing digulingkan oleh Revolusi Xinhai. Dengan demikian berakhirlah sistem kekaisaran feodal yang sudah berlangsung selama dua ribu tahun lebih. Tiongkok pun mulai maju ke satu periode yang baru.

Tambahan info :

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Qing

Dinasti Ming

Dinasti Ming didirikan pada tahun 1368 dengan ibu kotanya di Nanjing. Kaisar Ming Taizu, yaitu kaisar pertama Dinasti Ming, bernama Zhu Yuanzhang. Selama 31 tahun berkuasanya, Kaisar Ming Taizu berupaya keras memperkuat kekuasaan pemerintah pusat. Untuk mengintensifkan kekuasaannya, Kaisar Ming Taizu berturut-turut menghukum mati banyak menteri yang pernah berjasa besar terhadap Dinasti Ming. Setelah Kaisar Ming Taizu meninggal dunia, cucunya Kaisar Jian Wendi naik takhta, namun pada hari kemudian pasukannya dikalahkan oleh pasukan pimpinan pamannya yang bernama Zhu Li. Setelah naik takhta, Zhu Li menganugerahi dirinya gelar Kaisar Ming Chengzu dan memindahkan ibu kota dari Nanjing ke Beijing pada tahun 1421.

Walaupun Dinasti Ming memperkuat kekuasaan pemerintah pusat, namun banyak kaisar pada dinasti itu sangat tolol atau berusia terlalu muda untuk menangani urusan negara dengan sebaik-baiknya sehingga kekuasaan berangsur-angsur dipegang oleh pejabat kasim. Pada Dinasti Ming, orang kasim di istana bersekongkol dan mempersekusi menteri yang tulus dan jujur sehingga pemerintahan semakin bobrok dan kontradiksi sosial meruncing. Pada pertengahan masa Dinasti Ming terjadi beberapa kali pemberontakan petani, namun semuanya ditindas oleh pasukan Dinasti Ming.

Pada masa Dinasti Ming terdapat seorang negarawan bernama Zhang Juzheng. Ia mengusulkan pemerintah mengadakan reformasi untuk meredakan kontradiksi sosial dan menyelamatkan kekuasaan Dinasti Ming. Berkat reformasi yang diprakarsai oleh Zhang Juzheng, penyelenggaraan pemerintahan berhasil dibenahi, pertanian dibangkitkan, irigasi diperbaiki dan bermacam-macam pajak dapat disatukan sehingga pada derajat tertentu meringankan beban rakyat.

Pada masa Dinasti Ming, pertanian mengalami perkembangan yang lebih besar daripada di masa dinasti-dinasti sebelumnya. Selain pertanian, industri tekstil, pembuatan porselin, penambangan besi, pengecoran perunggu, pembuatan kertas dan pembuatan kapal juga mengalami perkembangan yang relatif cepat. Sementara itu, kegiatan ekonomi dan kebudayaan Dinasti Ming dengan luar negeri sangat berkembang. Yang patut disebut ialah Zheng He, pelayar terkenal Dinasti Ming. Ia berturut-turut untuk tujuh kali memimpin armada berlayar ke “Samudera Barat”, yaitu Pasifik Selatan dan Barat serta Samudera India. Selama pelayarannya, Zheng He dan armadanya pernah berkunjung ke 30 lebih negara dan daerah Asia dan Afrika.

Pada masa Dinasti Ming, ekonomi komoditas mengalami perkembangan besar dan muncul benih kapitalisme. Pada awal masa Dinasti Ming, di masyarakat terdapat banyak tanah tandus tanpa pemilik. Untuk mengembangkan pertanian, Kaisar Ming Taizu memberikan tanah tandus kepada para pengungsi yang mengembara ke sana kemari supaya mereka menetap di suatu daerah. Selain itu, Kaisar Ming Taizu melaksanakan kebijakan peringanan dan pembebasan pajak pertanian sehingga jumlah petani yang memiliki tanahnya sendiri bertambah dengan besar-besaran. Pada waktu itu banyak jenis baru tanaman, antara lain, tembakau, kentang, jagung dan kacang tanah berturut-turut memasuki Tiongkok. Pada waktu itu, industri kerajinan tangan Tiongkok, antara lain, pembuatan porselin dan tekstil juga mencapai taraf yang cukup tinggi. Bahkan di Tiongkok muncul pemilik puluhan perkakas tenun dan “buruh tenun” yang khusus untuk dipekerjakan. Kesemua itu menyatakan bahwa kapitalisme sudah menunjukkan benihnya di Tiongkok. Pada masa Dinasti Ming, di daerah-daerah yang mana kaya akan produk dan mudah lalu lintasnya terbentuk banyak pusat perdagangan, baik yang besar maupun yang kecil. Kota-kota besar seperti Beijing, Nanjing, Suzhou, Hangzhou dan Guangzhou merupakan daerah yang cukup makmur di Tiongkok pada waktu itu.

Pada masa Dinasti Ming, penciptaan novel sangat makmur. Ketika itu muncul banyak novel yang terkenal, antara lain, “Tepi Air”, “Sam Kok” atau “Tiga Negara”, “Ziarah Ke Barat” dan “Jinpingmei”. Sementara itu di Dinasti Ming muncul pula sejumlah buku yang berpengaruh cukup besar, antara lain, “Catatan Wisata Xu Xiake” di bidang geografi, “Bencao Gangmu” karya Li Shizhen di bidang kedokteran, “Kitab Ilmu Pertanian” karya Xu Guangqi di bidang pertanian, “Tian Gong Kaiwu” karya Song Yingxing di bidang industri dan kerajinan tangan serta “Ensiklopedia Yong Le”, kitab literatur yang sangat berharga.

Pada masa akhir Dinasti Ming, gejala terpusatnya tanah garapan sangat serius; tanah garapan yang dimiliki oleh keluarga kekaisaran dan raja terdapat di mana-mana. Sementara itu, pajak pertanian yang dikenakan oleh pemerintah juga semakin bertambah sehingga kontradiksi sosial semakin meruncing. Sebagian pejabat berharap agar kontradiksi sosial dapat diredakan dan meminta pemerintah membendung kekuasaan istimewa yang dinikmati oleh pejabat orang kasim dan keluarga ningrat. Pejabat yang berpandangan demikian sering memberi kuliah dan komentar tentang pemerintahan dan disebut sebagai “Golongan Partai Donglin”. Kemudian pejabat “Golongan Partai Donglin” mengalami persekusi oleh bangsawan dan pejabat orang kasim dan ini lebih-lebih meningkatkan ketidaktenteraman sosial.

Sementara itu, perjuangan di pedesaan juga semakin menajam. Pada tahun 1627, di Propinsi Shaanxi Tiongkok Barat Laut terjadi bencana alam, tapi pemerintah setempat tetap mengenakan pajak berat terhadap rakyat sehingga penduduk di sana mengadakan pemberontakan. Pasukan pemberontakan petani kemudian berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Ming dan menyerbu masuk ke Beijing pada tahun 1644. Kaisar Chongzhen yang berkuasa pada masa itu terpaksa gantung diri di Beijing, berakhirlah Dinasti Ming.

Tambahan info :

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Ming

Dinasti Yuan

Temujin dari Mongolia mendirikan negaranya pada tahun 1206, dan pada tahun 1271, Kublai-Khan menetapkan nama negaranya sebagai Yuan, dan pada tahun 1279, menetapkan ibu kotanya di Dadu ( Beijing sekarang ) setelah mengalahkan Dinasti Song. Bangsa Mongol semula menetap di sebelah barat Gurun Pasir, Temujin mengalahkan berbagai marga, menyatukan Mongol dan mendirikan Negara Mongol, menamakan dirinya sebagai Genghis Khan.

Tiongkok pada masa Dinasti Tang ( 618-907) dan Dinasti Song ( 960-1279) adalah negara yang paling maju di dunia, memiliki daya tarik bagi negara-negara tetangga baik di bidang ekonomi maupun kebudayaan. Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan, pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya “ Perjalanan ”, salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia. Di bidang budaya, Melodi Yuan paling mengagumkan, tokoh representatif, antara lain Guan Hanqin dan Wang Shifu, dan karya representatif, antara lain “ Dou E Yuan ” dan “ Xi Xiang Ji ”.

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan “ kain merah ” sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara “ Kain Merah ” Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

Tambahan info:

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Yuan

Dinasti Song

Pada tahun 960 Masehi, Zhao Kuangyin yang disebut sebagai Kaisar Songtaizu setelah naik tahta mendirikan Dinasti Song melalui suatu kudeta dan berakhirlah situasi terpecah belahnya Tiongkok. Dinasti Song berkuasa selama 319 tahun dalam sejarah sebelum diruntuhkan oleh Dinasti Yuan pada tahun 1279 Masehi. Dinasti Song terbagi menjadi Song Utara dan Song Selatan. Pada masa berkuasanya Dinasti Song Utara, Etnis Qidan di bagian utara Tiongkok mendirikan Negara Liao yang berkuasa antara tahun 947 dan tahun 1125 Masehi. Sedangkan Etnis Dangxiang mendirikan Negara Xixia (1038-1227) di bagian barat laut Tiongkok. Pada tahun 1115 Masehi, Etnis Nuzhen di bagian utara Tiongkok mendirikan negara Jin yang berkuasa antara tahun 1115 dan 1234 Masehi. Negara Jin yang didirikan Etnis Nuzhen membasmi Negara Liao Etnis Qidan pada tahun 1125 dan pada tahun 1127 menginvasi ke Kaifeng, ibu kota Dinasti Song dengan membajak dua kaisar Dinasti Song, yaitu Kaisar Songhui dan Kaisar Songqin. Invasi pasukan Negara Jin itu menandaskan berakhirnya Dinasti Song Utara. Setelah itu, Kaisar Song Gaozong naik takhta di Yingtianfu (Shangqiu, Propinsi Henan, Tiongkok Tengah sekarang). Kemudian ia melarikan diri ke Lin’an (Hangzhou sekarang) untuk mendirikan Dinasti Song Selatan. Zaman Dinasti Song Utara adalah masa berkonfrontasi melawan Negara Liao, Xia dan Jin, tiga pemerintahan etnis minoritas di bagian utara; sedangkan Dinasti Song Selatan merupakan masa melesat dan dinasti tersebut setelah berpindah ibu kota ke bagian selatan Tiongkok.

Setelah Dinasti Song Utara menyatukan bagian utara, Tiongkok mengalami perkembangan sangat besar di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan. Perdagangan Tiongkok dengan luar negeri pada waktu itu juga sangat makmur. Pada Dinasti Song Utara diadakan reformasi politik oleh sebagian pejabat, namun reformasi itu gagal membantu pemerintah Dinasti Song Utara memelihara kemakmuran dalam jangka panjang biarpun berhasil menyelesaikan sejumlah kontradiksi yang terdapat pada masa itu. Pemberontakan kaum tani yang dipimpin oleh Fang La dan Song Jiang sempat menggoyahkan kekuasaan bobrok pemerintah Kaisar Song Huizong. Setelah Negara Jin Etnis Nuzhen menggulingkan pemerintah Dinasti Song Utara, pemerintah Dinasti Song yang berkuasa di bagian selatan Tiongkok sudah kehilangan ambisi untuk menyatukan kembali bagian utara. Bersamaan itu, orang Qidan di bagian utara Tiongkok mendirikan Negara Liao (947-1125 Masehi); Etnis Dangxiang mendirikan Negara Xixia (1038-1227 Masehi) di bagian barat laut Dinasti Song. Dengan demikian, terbentuklah konfigurasi berkonfrontasi antara tiga negara, yaitu Dinasti Song, Negara Liao dan Negara Xixia. Pada tahun 1115, Etnis Nuzhen mendirikan Negara Jin di bagian utara Tiongkok. Negara Jin membasmi Negara Liao pada tahun 125 dan pada tahun 1127 menyerbu masuk ke Kaifeng, ibu kota Dinasti Song dengan membajak Kaisar Song Huizong dan Kaisar Song Qin, berakhirlah pemerintah Dinasti Song Utara. Setelah itu Kaisar Song Gaozu bernama Zhao Gou naik takhta di Yingtianfu, Nanjing (Shangqiu, Propinsi Henan sekarang), kemudian melarikan diri ke Ling’an (Hangzhou sekarang). Aksi militer melawan pasukan Negara Jin yang dipimpin oleh jenderal terkenal Yue Fei dalam pandangan mata pihak penguasa hanya merupakan aksi untuk mempertahankan kekuasaannya.

Pada masa itu berkuasanya Dinasti Song, Tiongkok mencapai banyak prestasi di bidang iptek. Teknologi kompas dan cetak serta pembuatan mesiu yang merupakan tiga penemuan besar dalam sejarah diwarisi dan dikembangkan terus pada zaman itu. Di antaranya, penemuan teknologi cetak dengan huruf lepas yang diciptakan oleh Bi Sheng 400 tahun lebih awal daripada penemuan teknologi cetak huruf lepas Eropa. Su Song telah menciptakan jam astronomi yang pertama di dunia. Buku “Mengxibitan” karya Shen Kuo mempunyai kedudukan tinggi dalam sejarah iptek dunia. Kegiatan kebudayaan pada waktu itu juga sangat makmur. Agama Dao, agama Buddha dan agama lainnya yang berasal dari luar negeri sangat populer pada masa itu. Sedangkan kitab sejarah “Xintangshu” yang disunting oleh Ouyang Xiu pada Zaman Dinasti Song Utara memberikan sumbangan sangat besar terhadap catatan sejarah Dinasti Tang. Kitab “Zizhi Tongjian” yang disusun oleh Sima Guang lebih-lebih adalah teladan buku kronologi. Di bidang kesusasteraan, pada masa itu muncul pengarang prosa yang terkemuka, antara lain, Ouyang Xiu dan Sushi. Sajak Songci yang muncul pada waktu itu merupakan masa emas perkembangan kesusasteraan zaman tersebut, di mana muncul banyak penyair terkenal, antara lain, Yan Shu, Liu Yong, Li Qingzhao dan Xin Qiji. Pada Zaman Dinasti Song dan Dinasti Jin kemudian, opera juga mengalami perkembangan yang sangat besar. Masa itu juga terkenal dengan lukisan yang mengutamakan isi pemandangan alam, burung dan bunga. Lukisan Qingming Shanghetu yang dari Zhang Zeduan adalah karya lukisan abadi dalam sejarah lukisan Tiongkok.

Tambahan info:

http://id.wikipedia.org/wiki/Lima_Dinasti_dan_Sepuluh_Negara

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Liao

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Song

http://id.wikipedia.org/wiki/Xia_Barat

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Jin_%281115-1234%29