Selasa, 03 Juni 2008

Dinasti Zhou Barat, Zaman Chunqiu, dan Zaman Negara-negara Berperang

Dalam acara Ruangan Kebudayaan kali ini kami perkenalkan Dinasti Zhou dan Zaman Negara-negara Berperang Chunqiu.

Dinasti Zhou adalah dinasti ke-3 menyusul Dinasti Xia dan Dinasti Shang. Dinasti Zhou kira-kira didirikan pada tahun 1027 sebelum Masehi dan berakhir masa kekuasaannya selama 770 tahun pada tahun 256 sebelum Masehi setelah dicaplok oleh Dinasti Qin. Dinasti Zhou dibagi menjadi Dinasti Zhou Barat dan Dinasti Zhou Timur. Dinasti Zhou Barat adalah masa kekuasaan Dinasti Zhou sebelum memindahkan ibukotanya. Sedangkan Dinasti Zhou Timur adalah masa kekuasaan sesudah pemindahan ibukotanya. Dinasti Zhou Timur juga terbagi menjadi dua tahap, yaitu Zaman Chun Qiu dan Zaman Negara-negara Berperang.

Dinasti Zhou Barat dimulai dari tahun 1027 sebelum Masehi dan berakhir pada tahun 771 sebelum Masehi setelah berkuasa selama 257 tahun. Setelah Raja Zhou Wuwang, yaitu raja pertama Dinasti Zhou memindahkan ibukota ke Gao (sebelah barat laut Chang’an Provinsi Shaanxi), ia memimpin pasukan koalisi menyerbu secara besar-besaran Negara Shang dan mendirikan Dinasti Zhou. Setelah Raja Zhou Chengwang naik takhta, kekuasaan Dinasti Zhou dikuasai oleh pamannya bernama Zhou Gong karena Raja Zhou Chengwang masih seorang anak. Setelah berhasil menstabilkan kedudukannya dalam pemerintahan, Zhou Gong memimpin pasukan menyerbu ke timur dan berhasil memadamkan pemberontakan. Dengan dipimpin oleh Zhou Gong, Dinasti Zhou mengambil serentetan langkah penting untuk memperkokoh hasil-hasil yang dicapainya. Masa berkuasanya Raja Zhou Chengwang dan Raja Zhou Kangwang pada masa kemudian disebut oleh sejarahwan sebagai “Zaman Cheng Kang Yang Ulung”.

Sistem hukum yang diberlakukan di Dinasti Zhou beraneka ragam, antara lain, Hukum Pertanahan, Hukum Agama, Hukum Protokol dan sebagainya.

Masa antara tahun 770 sebelum Masehi dan tahun 476 sebelum Masehi adalah Zaman Chunqiu. Seiring dengan berkembangnya ekonomi dan bertambahnya terus jumlah penduduk, pertarungan sengit untuk memperebutkan hegemonisme pun terjadi antar negara-negara besar waktu itu. Keadaan sosial pada masa itu juga mengalami perubahan besar. Di bidang pertanian, alat pertanian terbuat dari besi sudah muncul. Penggarapan dengan kerbau dan sapi juga mulai dipopulerkan. Usaha irigasi berkembang dan produksi padi-padian tumbuh. Zaman Chun Qiu adalah suatu masa peralihan di mana tata tertib politik dan sosial tradisional Dinasti Zhou Barat berangsur-angsur tercerai-berai.

Konghucu, pemikir dan ahli pendidikan pertama dalam sejarah Tiongkok justru dilahirkan pada masa akhir Zaman Chun Qiu. Dengan menyimpulkan hasil kebudayaan dan pikiran yang lalu serta memadukan situasi sosial yang goncang pada akhir Zaman Chunqiu, Konghucu mengajukan seperangkat pandangan teoretisnya sendiri mengenai masalah-masalah moral, politik dan sosial. Hasil pikirannya adalah Konghucuisme yang merupakan dasar aliran Ru zaman kuno yang berpengaruh sampai sekarang.

Zaman Negara-negara Berperang antara tahun 403 dan tahun 221 sebelum Masehi adalah zaman peperangan antar negara kepangeranan. Zaman Negara-negara Berperang dan Zaman Chunqiu tidak mempunyai perbatasan waktu yang jelas dalam sejarah. Namun menurut kebiasaan sekarang, berdirinya Negara Zhao, Negara Han dan Negara Wei pada tahun 403 sebelum Masehi dianggap sebagai awal Zaman Negara-negara Berperang dan masa berakhirnya jatuh pada tahun 221 sebelum Masehi di mana Dinasti Qin menyatukan enam negara berperang.

Sampai pada Zaman Negara-negara Berperang, situasi di Tiongkok sudah mengalami perubahan sangat besar, antara lain, banyak negara kepangeranan kecil sudah dicaplok dan hanya tertinggal 7 negara besar, yaitu Qin, Chu, Yan, Han, Zhao, Wei dan Qi, yang merupakan negara-negara utama pada Zaman Negara-negara Berperang. Pada zaman itu, negara-negara itu berturut-turut mengadakan reformasi, tapi reformasi yang diadakan di Negara Qin paling berhasil dan berpengaruh paling besar.

Walaupun perang terjadi dari tahun ke tahun pada Zaman Negara-negara Berperang, namun hal ini sama sekali tidak mempengaruhi perkembangan kebudayaan zaman kuno Tiongkok. Pada masa itu di masyarakat Tiongkok muncul kalangan tokoh yang baru, yaitu kalangan intelektual. Mereka semuanya memahir ilmu pengetahuan atau kebudayaan dan berperan besar dalam mendorong kemakmuran kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan waktu itu sehingga pikiran dan kebudayaan zaman kuno pada masa itu mencapai suatu puncak yang tiada taranya dalam sejarah. Pada zaman itu di Tiongkok muncul banyak aliran ilmu, antara lain, Aliran Ru dengan Konghucu dan Mengzi sebagai wakilnya; Aliran Dao dengan Laozi, Zhuangzi dan Liezi sebagai wakilnya; Aliran Fa dengan Han Fei sebagai wakilnya dan Aliran Mo dengan Mozi sebagai wakilnya. Aliran-aliran itu sangat dihormati oleh orang Tionghoa pada masa kemudian. Munculnya aliran-aliran pikiran dan ilmu itu di Tiongkok merupakan tanda kemakmuran bidang pikiran Zaman Negara-negara Berperang. Teori-teori itu tidak hanya berperan pendorong terhadap politik dan ekonomi waktu itu, tapi juga berpengaruh yang menjangkau jauh sampai zaman sekarang sehingga zaman itu tercatat dalam kitab sejarah pikiran Tiongkok sebagai satu lembaran yang sangat mengagumkan.

Tahun 230 sebelum Masehi, Raja Yingzheng Negara Qin memulai kampanye menyatukan Tiongkok. Dalam waktu 9 tahun setelah itu, Negara Qin berturut-turut membasmi 6 negara yang lain dan menyatukan Tiongkok pada tahun 221 sebelum Masehi. Dengan demikian, berakhirlah situasi terpecah-belah Tiongkok yang sudah berlarut selama 600 tahun.

tambahan info :
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Zhou
http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Musim_Semi_dan_Gugur
http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Negara-Negara_Berperang

Shang, Dinasti Paling Awal Yang Tercatat Dalam Sejarah di Tiongkok

Di kalangan keilmuan Tiongkok, Dinasti Xia dianggap sebagai dinasti yang paling awal pada zaman kuno Tiongkok, namun data-data sejarah tentang Dinasti Xia pada pokoknya didasarkan pada catatan atau penuturan pada zaman sesudahnya dan sejauh ini belum terbukti secara kuat oleh hasil galian arkeologi. Dinasti pertama zaman kuno Tiongkok yang dapat dibuktikan secara kuat oleh data arkeologi adalah Dinasti Shang. Berikut akan kami perkenalkan Dinasti Shang sebagai dinasti paling awal yang tercatat dalam sejarah di Tiongkok.

Dinasti Shang yang didirikan kira-kira pada abad ke-16 sebelum Masehi dan runtuh pada abad ke-11 sebelum Masehi berlangsung kurang lebih 600 tahun. Pada masa awalnya, Dinasti Shang pernah beberapa kali memindahkan ibukotanya sampai pada akhirnya menjadikan Yin (di sekitar Anyang Provonsi Henan sekarang ini) sebagai ibukota. Hasil penelitian arkeologi membuktikan bahwa pada masa awal Dinasti Shang, peradaban Tiongkok sudah bekembang sampai taraf yang cukup tinggi dengan ditandai oleh aksara yang dikukir pada tempurung kura-kura atau tulang binatang serta kebudayaan perunggu. aksara pada tempurung kura-kura atau tulang itu ditemukan dengan sangat kebetulan. Pada awal abad ke-20, petani di Desa Xiaotun sebelah barat laut Anyang Provinsi Henan menjual tempurung kura-kura dan tulang binatang yang ditemukannya secara kebetulan sebagai bahan obat tradisional Tiongkok. Ada sarjana yang mengenali huruf kuno yang terukir di atasnya, maka mulailah mereka mencarinya. Tak lama kemudian, para ahli aksara kuno Tiongkok memastikan aksara yang terukir di atas tempurung kura-kura dan tulang itu adalah huruf Dinasti Shang, dan memastikan Desa Xiaotun sebagai Yinxi, peninggalan puing bekas tempat kedudukan ibukota Dinasti Shang yang disebut-sebut dalam buku zaman kuno. Penemuan dan penggalian Yinxi adalah penemuan arkeologis yang terpenting pada abad ke-20 di Tiongkok. Sejak penggalian yang pertama pada tahun 1928, di patilasan itu telah tergali banyak benda budaya yang berharga, antara lain, tempurung kura-kura dan tulang binatang berukirkan aksara kuno dan alat-alat perunggu. Aksara yang terukir di tempurung kura-kura dan tulang binatang adalah aksara zaman kuno. Pada Dinasti Shang, raja akan menujumkan baik buruknya sebelum melakukan sesuatu. Tempurung kura-kura dan tulang binatang adalah alat nujum. Sebelum dipakai, tempurung kura-kura dan tulang binatang harus diolah dengan dibersihkan darah dan daging yang melekat padanya, kemudian digergaji dan diasah rata. Setelah itu, di balik tempurung kura-kura atau tulang binatang dibuat goresan-goresan yang teratur dengan alat pisau. Penujum atau dukun mengukir namanya, tanggal nujum dan pertanyaan di atas tempurung atau tulang, kemudian goresan-goresan pada tempurung dan tulang itu disulut dengan api. Goresan-goresan itu akan retak terbakar, dan retakan-retakan itu dinamakan "zhao" atau "alamat dan pertanda". Dukun akan menganalisa arah retakan itu dan mendapat hasil nujum, lalu mengukir di atas tempurung kura-kura dan tulang binatang tentang tepat atau tidaknya nujum itu. Setelah nujum itu terbukti, tempurung kura-kura dan tulang binatang berukirkan kata-kata nujum itu disimpan sebagai arsip resmi. Sejauh ini di Patilasan Yinxi telah ditemukan lebih 160.000 keping tempurung kura-kura atau tulang binatang, di antaranya, ada yang masih utuh, ada pula yang berupa pecahan tanpa huruf yang terukir. Menurut statistik, jumlah berbagai huruf pada tempurung dan tulang itu kira-kira 4.000 lebih, dan yang sudah dibuktikan para ilmuwan melalui penelitian berjumlah sekitar 3.000. Dari sekitar 3.000 huruf itu yang dapat terbaca dan dijelaskan artinya hanya seribu lebih. Selebihnya tidak terbaca dan tidak diketahui artinya atau tafsiran para ilmuwan jauh berseberangan. Biarpun demikian, melalui seribu lebih huruf itu sudah dapat secara garis besar mengetahui keadaan politik, ekonomi , kebudayaan dll pada Dinasti Shang. Karya khusus penelitian paling awal tentang aksara pada tempurung kura-kura dan tulang binatang ditulis oleh Liu E yang terbit pada tahun 1913. Studi Tentang Huruf Pada Tempurung Kura Kura dan Tulang Binatang, karya Guo Moro, sejarawan dan sasterawan Tingkok yang terkenal pada tahun 1929 adalah karya khusus lainnya yang penting. Pakar yang kompeten di bidang penelitian ini antara lain Profesor Qiu Xikui dari Universitas Peking dan Profesor Li Xueqin dari Institut Sejarah Tiongkok. Sebagaiman halnya aksara pada tempurun kura-kura atau tulang binatang, alat-alat perunggu juga merupakan benda paling representatif dari Dinasti Shang. Pengecoran alat-alat perunggu pada Dinasti Shang sudah mencapai taraf teknik yang cukup tinggi. Alat-alat perunggu yang tergali dari patilasan Yinxi sudah ribuan, di antaranya, tripot persegi yang tergali di petilasan Yinxi pada tahun 1939 beratnya 875 kilogram, tingginya 133 sentimeter, panjang 110 sentimeter dan lebar 78 sentimeter. Bentuknya sangat megah dan merupakan salah satu karya masa puncak budaya alat perunggu. Hasil penggalian arkeologi dan penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pada masa Dinasti Shang, negara sudah terbentuk dan sistem hak milik swasta juga sudah ditegakkan pada pokoknya. Sejak itu, sejarah Tiongkok memasuki zaman peradaban.


tambahan info :

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Shang

Dinasti Xia, Dinasti Pertama Dalam Sejarah Tiongkok

Dinasti Xia sebagai dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok berlangsung hampir 500 tahun antara abad ke-21 dan ke-16 sebelum masehi. Wilayah sentral kekuasaannya terletak di sekitar bagian selatan Provinsi Shanxi Tiongkok Utara dan bagian barat Provinsi Henan Tiongkok Tengah. Pendiri Dinasti Xia, Da Yu adalah tokoh pahlawan sejarah yang berhasil menjinakkan banjir dan memberi kehidupan tenteram kepada rakyat. Konon, Da Yu berhasil menjinakkan Sungai Kuning yang hampir setiap tahun meluap sehingga mendapat dukungan rakyat marga dan pada akhirnya mendirikan Dinasti Xia. Berdirinya Dinasti Xia menandakan masyarakat primitif yang panjang telah digantikan oleh masyarakat sistem milik pribadi, sejak itu Tiongkok telah memasuki masyarakat sistem perbudakan. Pada masa akhir Dinasti Xia, kekacauan politik berkecamuk dalam Keluarga Kerajaan Xia dan kontradiksi kelas semakin meruncing. Khususnya Raja Xia Jie, raja terakhir Dinasti Xia setelah naik takhta hanya tahu berfoya-foya tanpa memikirkan perbaikan pemerintahan. Setiap hari ia cuma tahu minum arak dan main-main dengan selirnya tanpa peduli akan penderitaan rakyat. Menteri yang berani mengajukan nasihat segera dibunuhnya. Maka, negara-negara kepangeranan dari Dinasti Xia beramai-ramai melakukan pemberontakan. Pada saat itulah, salah satu negara kepangeranan bernama Shang mengambil kesempatan untuk menyerang pasukan Raja Xia Jie dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Xia Jie kemudian meninggal dalam perajalanan pelariannya di Nan Cao dan tamatlah sejarah Dinasti Xia. Oleh karena bahan-bahan sejarah tentang Dinasti Xia yang tersiar sampai sekarang sangat sedikit, maka keberadaan Dinasti Xia dalam sejarah masih kontroversial sampai sekarang ini. Akan tetapi, genealogi Dinasti Xia tercatat dengan jelas dalam Catatan Sejarah, sebuah buku sejarah terkenal di Tiongkok. Para arkeolog juga ingin menggunakan instrumen arkeologi untuk menemukan peninggalan materi dan budaya Dinasti Xia, untuk seterusnya mengembalikan sejarah dinasti itu sebagai mana adanya.

Sejak tahun 1959, kalangan arkeologi Tiongkok mulai melakukan penyelidikan terhadap "patilasan Dinasti Xia" untuk mencoba menguak budaya dinasti tersebut. Kini, sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa "Kebudayaan Erlitou" yang mendapat namanya dari patilasan Erlitou, Yanshi, Provinsi Henan Tiongkok Tengah merupakan sasaran utama penjajakan budaya Dinasti Xia. Menurut hasil pengetesan, masa keberadaan patilasan budaya itu kira-kira 1.900 tahun sebelum Masehi termasuk dalam lingkup kronologi Dinasti Xia. Walaupun sekarang masih belum ada cukup bukti langsung untuk memastikannya sebagai budaya Dinasti Xia, namun bahan arkeologi yang kaya hasil penyelidikan tersebut dengan kuat telah mendorong penjajakan budaya Dinasti Xia. Alat-alat produksi yang tergali dari patilasan budaya Erlitou terutama adalah alat-alat dari batu, alat-alat dari tulang dan kulit kerang juga masih digunakan. Di dasar sejumlah rumah, lubang abu dan dinding kubur terdapat bekas penggalian tanah dengan alat dari kayu. Dengan menggunakan alat-alat yang masih primitif itu, rakyat pekerja pada waktu itu mengembangkan kerajinan dan kecerdasannya untuk menjinakkan sungai, menggarap tanah dan mengembangkan produksi. Walaupun sampai sekarang masih belum ditemukan alat-alat perunggu yang besar di patilasan Dinasti Xia, namun di Patilasan Kebudayaan Erlitou terdapat alat-alat seperti pisau, tusuk, pahat serta senjata dan bejana dari perunggu. Sementara itu ditemukan pula bekas tempat pengecoran perunggu dan digali sisa tembikar dan perunggu serta keping ketel pengecoran. Selain itu, di Petilasan Kebudayaan Erlitou ditemukan pula banyak benda jade atau giok yang taraf seni pembuatannya cukup tinggi antara lain barang hiasan bertatahkan batu permata dan alata musik dari batu, menunjukkan teknik kerajinan tangan dan pembagian kerja intern telah mengalami kemajuan tertentu. Dalam catatan dokumen kuno, yang paling patut diperhatikan ialah tentang penanggalan Dinasti Xia. Menurut dokumen penting tentang penanggalan Dinasti Xia yang kini masih ada, terbukti orang ketika itu sudah bisa memastikan bulan menurut posisi yang ditunjukkan oleh gagang bintang kejora, itulah penanggalan paling awal di Tiongkok. Sesuai dengan urutan 12 bulan penanggalan Dinasti Xia, masing-masing tercatat astrologi, meteorologi dan lain-lain serta hal-hal yang berkaitan dengan pertanian dan pemerintahan yang perlu dikerjakan. Ini pada taraf tertentu telah mencerminkan taraf perkembangan produksi pertanian Dinasti Xia dan telah menyimpan pengetahuan ilmu yang relatif bernilai dan paling tua di Tiongkok.


tambahan info :

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Xia