Selasa, 18 November 2008

Han Xin: Jenderal Terkenal pada Dinasti Han


Han Xin (?? – 196 BC), seorang anggota militer pada masa awal Dinasti Han, berasal dari Huayin (sekarang Provinsi Jiangsu). Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak ia masih kecil. Walaupun ia sangat miskin, dia belajar dengan keras dan menjadi sangat mengerti tentang strategi dan taktik militer. Ia mempunyai ambisi yang besar dan bercita-cita menjadi orang penting suatu hari nanti. Tanpa penghasilan, ia sering ke rumah teman yang berbeda untuk makan. Kadang-kadang ia pergi ke Sungai Huai untuk menangkap ikan untuk ditukar dengan sejumlah uang. Ia sering didiskriminasi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Pernah sekali, segerombolan penjahat mempermalukannya di depan publik. Seorang tukang daging berkata padanya: “Walaupun kau tinggi dan besar dan suka membawa pedang, saya tahu kau adalah seorang pengecut. Apkah kau berani membunuhku dengan pedangmu? Jika kau tidak berani, kau harus merangkak di antara kaki saya.” Han Xin mempunyai banyak ambisi dan tahu bahwa bila ia membunuh orang itu ia harus membayar atas perbuatannya dengan nyawanya. Bagaimana ia dapat membunuh pria itu? Pikirannya tidak terpancing oleh hal itu, ia jadi merangkak diantara kaki tukang daging itu di depan semua orang. Cerita sejarah menamakannya: “ Penghinaan merangkak diantara selakangan kaki.”

Pada tahun 209 SM, dua petani, Chen Sheng dan We Guang, memulai sebuah pembrontakan melawan Dinasti Qin yang korup. Dengan cepat terjadi pembrontakan terjadi di seluruh China. Han Xin bergabung dengan tentara pembrontakan Xiang Liang, yang mendirikan kerajaan Chu Barat. Setelah Xiang Liang tewas dalam perang, keponakan laki-lakinya Xiang Yu menjadi pemegang kekuasaan Chu Barat. Xiang yu tidak berpikir banyak terhadap Han Xin dan hanya memberinya posisi sebagai penjaga. Han Xin memberikan banyak usulan kepada Xiang Yu, tapi tidak satupun diambil. Ia marah akan perlakuan tersebut dan meninggalkan kemah Chu untuk bergabung dengan tentara pembrontakan lain yang dikenal Han dibawah bangsawan Liu Bang.

Pada awalnya, Liu Bang juga tidak berpikir banyak terhadap Han Xin dan hanya mengatakannya sebagai petugas yang mengatur suplai makanan. Han Xin menyadari Liu Bang tidak akan memberinya jabatan penting dan memutuskan untuk pergi lagi. Tetapi Perdana menteri Liu Bang, Xiao He, sadar akan kemampuan Han Xin. Ketika ia mendengar berita bahwa Han Xin telah pergi, ia menunggang kudanya mengejar Han Xin sepanjang malam dan meyakinkannya untuk kembali. Ada suatu ungkapan tentang kisah ini: “ Xiao He meyakinkan Han Xin dibawah bulan.”

Kemudian, setelah mendapat banyak rekomendasi dari Xiao He, Liu Bang mendiskusikan strategi militer dengan Han Xin dan sadar Han Xin adalah seorang yang memiliki bakat militer yang langka. Liu Bang akhirnya mengadakan upacara dan mengangkat Han Xin sebagai Jenderal besar

Bulan Mei tahun 206 SM, tentara Han memenangkan kemenangan utama melawan tentara bangsawan Zhang Han. Tentara bangsawan Zhang Han bermarkas di dekat kota Hangzhou. Jalan di sana telah dihancurkan. Han Xin secara terbuka mengirim banyak prajurit untuk memperbaiki jalan tersebut. Bangsawan Zhang Han mengetahui hal itu dan menempatkan penjaganya dengan berpikir bahwa tentara Han tidak akan mampu meluncurkan serangan hingga jalan selesai diperbaiki. Pada pertengahan waktu itu, Han Xin memimpin sendiri pasukan menyusuri sebuah jalan belakang yang tua dekat Nanzheng dan keluar melalui kota Chen Cang. Tentara bangsawan Zhang Han sepenuhnya terkejut dan dihancurkan oleh tentara Han. Karena kemenangan ini, Liu Bang bisa mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang dari tiga pemimpin pembrontakan.

Bulan Pebruari tahun kedua Hangaozu, Han Xin memimpin pasukannya ke luar menyebrangi Hanguguan dan berjalan menuju kota Luoyang. Ia mendapat rangkaian kemenangan. Tentara Han bahkan menaklukkan Peng, ibukota Chu, yang diperintah oleh Xiang Yu. Pada waktu itu, Xiang Yu sedang bertanggungjawab terhadap perang melawan negeri Qi. Ketika ia mendengar jatuhnya kota Peng, ia memimpin 30.000 kavaleri yang terlatih dengan sangat tinggi kembali ke kota Peng saat malam dan mengalahkan tentara Han dengan cepat. Han Xin menyatukan kembali pasukan yang kalah dan bergabung dengan kekuatan Liu Bang di wilayah Luoyang. Ia menggunakan taktik perang memblok dan memojokkan dan mengalahkan tentara Chu diantara Kabupaten Jiang dan Suoting, dan menghentikan tentara Xiang Yu bergerak menuju ke barat. Akhirnya, pertempuran terdepan terjadi di Yingyan (sekarang adalah Provinsi Henan).

Bulan Agustus, Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai Perdana Menteri Kiri. Han Xin memimpin tentara untuk menyerang negeri Wei. Bangsawan Bao Wei menempatkan sejumlah besar pasukan sepanjang timur tepi Sungai Kuning. Untuk menanggulangi strategi pasukan Wei, Han Xin menempatkan sejumlah besar kapal di Linjin yang berseberangan dengan sisi Sungai Kuning, berpura-pura akan menyerang dengan menyeberang sungai dengan kapal. Sementara itu ia mempunyai peralatan sementara yang dibangun untuk menyeberang sungai menggunakan kerangka kayu yang diikat bersama dengan vas keramik. Pasukan menyebrangi hulu sungai di Xiayang dan membuat serangan kejutan di Anyi. Dengan kemunculan tak terduga, pasukan Han di belakang tentara Wei, Han Xin mengalahkan tentara Wei dan menangkap bangsawan Bao Wei.

Bulan September tahun ketiga Hangaozu, Han Xin memimpin pasukan menuju timur untuk menyerang Eyu: ia menangkap penjabat Perdana Menteri Xia Chuo dan menguasai Kabupaten Dai. Pada waktu itu, Liu Bang memerintahkan Han Xin secepatnya menempatkan kekuatan utamanya di wilayah Yinyang untuk memperkuat pertahanan wilayah. Dengan demikian, Han Xin memimpin hanya kira-kira sepuluh ribu pasukan menuju timur untuk menyerang Zhao di Jingxing. Bangsawan Xie Zhao dan kepala komandan, Chen Wu, menempatkan dua ratus ribu prajurit di pintu gerbang Jingxing di wilayah Pegunungan Taixing. Tentara Zhao berada pada daerah yang menguntungkan dan bersiap untuk bertempur dengan Han Xin. Han Xin mengirim 2.000 kavelari ringan bermalam untuk mengepung resimen utama tentara Zhao. Pada dini hari, Han Xin mengatur kekuatan utama di pinggir tepi sungai, dengan sungai di belakang pasukan dan memancing tentara Zhao untuk menyerang. Tentara Han berjuang dengan sungai di belakang mereka. Mengetahui mereka tidak mempunyai jalan untuk mundur, setiap orang berjuang dengan putus asa. 2.000 Kavaleri menggunakan kesempatan untuk menyerang batalion Zhao. Ketika tentara Zhao melihat bendera merah tentara Han berkibar dimana-mana, mereka panik dan jatuh dalam kekacau-balauan. Han Xin menggunakan situasi yang menguntungkan ini untuk menyerang dan mengalahkan 200.000 orang-kuat pasukan Zhao. Pasukan Han membunuh komandan Chen Yu dan menangkap Bangsawan Xie Zhao.

Bulan November tahun keempat Hangaozu (203 SM), Han Xin menggunakan taktik pasukan berat untuk cepat menyerang ibukota Qi, Linzi. Jenderal Chu, Long Qie memimpin tentara 200.000 pasukan untuk penyelamatan dan bertemu dengan tentara Qi yang kalah di Gaomi (sekarang adalah Provinsi Shandong). Mereka berhadapan dengan tentara Han Xin pada sisi yang berseberangan dari Sunga Huai. Secara rahasia, Han Xin telah mengirim pasukan saat malam untuk memblokade air sungai di hulu dengan lebih dari sepuluh ribu kantung pasir. Pada dini hari, ia mengirim sebagian pasukannya untuk menyeberang Sungai Huai untuk menyerang pasukan Chu dan menarik diri berpura-pura telah dikalahkan. Jendral Long Qie keliru menganggap tentara Han Xin takut dan mengirim kekuatan utamanya menyebrang sungai untuk menyerang. Han Xin memerintahkan pasukannya membuka hulu bendung dan air memisahkan pasukan Chu menjadi dua bagian. Ia kemudian menggunakan strategi “menyerang musuh di tengah penyebrangan sungai” dan membunuh semua pasukan yang telah menyeberangi sungai. Jendral Long Qie juga ikut terbunuh. Pasukan gabungan Qi dan Chu, yang berada di sisi lain sungai, mengalami kegagalan tanpa pertempuran. Han Xin mengambil kesempatan dan mengejar pasukan yang kabur dan menangkap Bangsawan Qi, Tin Guang. Ia menaklukkan seluruh wilayah teritorial Qi.

Setelah Han Xin menguasai wilayah Qi, Xiang Yu panik. Ia cepat mengirim orang untuk membujuk Han Xin untuk bergabung dengannya dan bertempur melawan Han, berjanji akan memberikan sepertiga dari negerinnya. Han Xin menolaknya. Pelapor Han Xin, Quqi Tong mencoba membujuknya: “Jenderal, pernahkah anda mendengar bahwa sangat berbahaya apabila seorang pemberani dan berbakat melebihi seorang master dan jasa yang sangat besar tidak akan dibalas? Reputasi anda sekarang merupakan peringatan bagi anda dan anda mempunyai jasa yang besar. Jika anda bergabung dengan Chu, mereka tidak akan mempercayai anda, dan kau akan kembali kepada Han, bangsawan Han akan takut pada anda. Jika anda tidak membangun diri sendiri sebagai bangsawan sesuai dengan hak anda, kalau begitu dimana yang akan menjadi rumah anda?” Han Xin Dengan cepat menghentikannya: “Jangan bicara lagi. Bangsawan Han memperlakukan saya dengan kebaikan dan kemurahan hati yang begitu besar. Beliau memberi saya kereta kudanya sendiri untuk saya gunakan. Beliau memberi saya bajunya untuk dipakai. Beliau memberi makanan untuk dimakan. Nenek moyang kita berkata: ‘Ketika kita mengendarai kereta kuda orang lain, kau akan berbagi keresahannya; ketika kau memakai pakaiannya, kau juga harus berbagi kecemasannya; dan ketika kau mengambil makanannya, kau seharusnya melakukan yang terbaik untuknya.’ Bagaimana bisa saya melihat hanya keuntungan saya sendiri dan lupa akan kebaikannya?”

Ia menolak melawan Liu Bang. Tetapi wilayah Qi telah ditaklukkan dan di sana perlu menciptakan seorang bangsawan untuk memerintah negeri itu dan menenteramkan pikiran rakyat. Lalu Han Xin menulis sebuah surat kepada Liu Bang meminta untuk menjadi penjabat bangsawan untuk Qi. Pada awalnya, Liu Bang tidak menyetujui permintaan tersebut. Tetapi setelah mendengar pendapat dari Zhang Liang dan Chen Ping, Liu Bang menjadikan Han Xin bangsawan Qi dan memerintahkannya menyerang Chu.

Bulan Desember tahun kelima Hangaozu (202 SM), Chu dan Han berhadapan langsung didalam suatu pertempuran yang sengit di Gaixe (sekarang Binan, Provinsi Anhui). Liu Bang mengangkat Han Xin sebagai kepala komandan. Xiang Yu mengomandani 100.000 pasukan Chu untuk menyerang dengan sengit di depan Han. Han Xin memerintahkan bagian tengah pasukannya untuk mundur sedikit dan untuk menghindari pengendara yang bersemangat dari pasukan Chu. Ia kemudian membentangkan kedua sayap ke luar untuk menjalankan serangan sisi dan memerintahkan bagian tengah pasukan untuk mendesaknya ke depan. Strategi ini sepenuhnya mengepung pasukan Chu. Malam itu, Han Xin memerintahkan pasukannya untuk menyanyikan lagu kebangsaan Chu dari semua sisi. Pasukan Chu kehilangan semangat bertempur mereka dan sebuah kenihilan di Haixia. Xiang Yu melakukan bunuh diri di tepi Sungai Wu. Lima tahun peperangan antara Chu dan Han berakhir ketika Liu Bang menaklukkan Negeri Chu.

Dimulai dari menjadi penjaga untuk Xiang Yu, Han Xin menjadi Jenderal dibawah Liu Bang dan memperoleh kemenangan terkemuka berulangkali hanya dalam beberapa tahun. Beliau adalah seorang tokoh utama dalam penentuan hasil perang antara Han dan Chu. Quai Tong memuji semua ini – tokoh kekuatan militer sebagai: “Seorang dengan strategi brilian yang langka.” Prinsipnya dalam memanuver pasukan adalah pujian tertinggi melalui surat strategi militer. Berdasarkan Han Yiwenxhi, Han Xin menulis tiga bab Strategi Militer Hanxin. Sangat disayangkan buku tersebut telah hilang.

Kemampuan Han Xin membuat Liu Bang iri. Setelah mengalahkan Xiang Yu, Liu Bang merampas komando militernya dan membuatnya menjadi bangsawan Chu. Selanjutnya ia diturunkan ke Marquis Huayin dan kemudian ditempatkan dirumah penahanan.

Pada tahun kesebelas Hangaozu (196 SM), Kaisar Lu dan Perdana Menteri Xiao He mengumpankan Han Xin ke Istana Changle dan mengeksekusinya dengan alasan konspirasi melawan negara. Sangat menyedihkan melihat seorang jenderal besar dibunuh pada masa jayanya.

Translated from: http://www.zhengjian.org/zj/articles/2005/8/10/33402.html
http://www.pureinsight.org/pi/articles/2005/8/22/3246.html

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_15.htm

Qu Yuan – Seorang pujangga patriot
(asal usul peringatan tradisi Bakcang)


Penulis artikel : Shu Ping

Dajiyuan.com - Qu Yuan (dibaca: chu yuen), dipanggil juga Ping alias Zhengze, bernama: Lingjun, penduduk negara Chu dari zaman Zhan Guo (negara-negara saling berperang, yaitu antara tahun 403 SM – 221 SM). Beliau adalah keturunan bangsawan dengan ketrampilan segudang: menulis, wawasan dan keberanian; terlebih-lebih kecintaannya terhadap negara tak perlu diragukan lagi. Namun sayang beliau tidak ditempatkan pada kedudukan penting oleh raja Chu, ditambah lagi dengan pemboikotan dan pemfitnahan dari pejabat berpengaruh saat itu: Le Shang dan komplotannya, sehingga karir politiknya jadi kacau dan sempat dibuang sebanyak 2 kali.

Pertama kali dibuang, disebabkan oleh karena Le Shang merasa iri dengan kemampuan Qu Yuan dan sikap kepeduliannya terhadap urusan negara, oleh karena itu sering menjelek-jelekkan Qu Yuan di hadapan raja Chu (Chu Huai Wang), mengatakan Qu Yuan bersikap congkak hanya karena bisa sering berdiskusi urusan politik dengan raja Chu dan lain sebagainya. Mendengar hal itu raja Chu marah besar dan membuang Qu Yuan. Itu adalah pertama kali dalam hidupnya Qu Yuan dibuang. Meskipun beliau dibuang, tetapi hatinya masih tertambat dengan urusan negara. Ketika beliau mendengar bahwa negara Qin berencana mengumpan raja Chu dengan seorang wanita cantik yang akan membunuhnya, dengan segera beliau kembali ke negara Chu dan berupaya menasehati / memperingatkan raja Chu. Namun Chu Huai Wang sama sekali tidak mau mendengar omongannya, terpaksa beliau meninggalkannya. Ternyata benar, tidak lama kemudian, raja Chu telah terbunuh oleh konspirasi negara Qin. Bisa dibayangkan bagaimana kala itu perasaan Qu Yuan.

Pembuangan kedua kalinya adalah karena raja baru Chu (Qin Xiang Wang) naik tahta, Qu Yuan lagi-lagi menjadi korban kejahatan komplotan Le Shang dengan menyebar gossip dan memfitnah Qu Yuan, akhirnya sekali lagi Qu Yuan diusir keluar dari negerinya. Kali ini beliau tiba di Jiang Nan (wilayah selatan dari sungai Yangtse), dengan wajah murung karena tidak tega melihat negara terancam ambruk, namun juga merasa tidak mampu membalas budi kepada negara, maka dengan rasa putus asa sembari memeluk batu besar beliau terjun dan tewas di sungai Mi Luo. Pada hari itu tepat adalah tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan tahun Imlek (Tahun ini jatuh pada tanggal 31 Mei 2006).

Konon setelah Qu Yuan terjun ke dalam sungai, rakyat negara Chu sangat berduka dan berbondong-bondong menuju ke sungai Mi Luo untuk melayat Qu Yuan. Para nelayan hilir mudik berupaya mengentas jenazahnya. Ditemukanlah satu ide bahwa di tempat dimana Qu Yuan meloncat ke dalam sungai Mi Luo dilemparkan banyak bakcang. Mereka percaya apabila setelah kenyang memakan bacang-bacang tersebut, ikan dan udang tidak bakal mengganggu jenazah Qu Yuan lagi. Selain itu ada juga orang yang pada hari tersebut mengadakan kegiatan mendayung perahu naga sebagai perlambang pencarian dan pertolongan kepada Qu Yuan. Malah ada sebagian orang lagi yang menuangkan arak Xiong Huang ke dalam sungai dengan keyakinan agar naga yang berada di dasar sungai mabuk duluan sehingga tidak mengganggu Qu Yuan. Berbagai macam cara yang menandakan rasa cinta dan hormat rakyat negara Chu dan para generasi penerus kepada Qu Yuan.

Qu Yuan didalam karirnya walau tidak sesuai harapan, namun di dalam karya kesusasteraannya sangat disegani.

Li Sao Meninggalkan Kegalauan adalah hasil karya Qu Yuan pada saat pembuangan pertamanya, puisi tersebut berjumlah total 373 baris dan 2400 lebih aksara. Di dalam Li Sao, Qu Yuan mengekspresikan tuntas seluruh perasaannya, menunjuk keblingeran penguasa negara di dalam realitas kehidupan sehari-hari dan kebobrokan para birokrat dan lain lain; di dalam Li Sao melalui sejumlah besar kisah dongeng dan mitos serta cara penulisan yang hiperbola namun berani, telah menyampaikan kegundahan dan rasa cintanya terhadap negara dan rakyat. Generasi penerus mengakui Li Sao sebagai hasil karya unggulannya.

Mungkin karena mirip dalam situasinya kala itu dan barangkali juga adalah karena saling mengagumi antar sesama patriot, penilaian Shima Quan (pakar sejarah zaman Sam Kok, tahun 200an Masehi) terhadap Qu Yuan cukup tinggi. Tidak cukup hanya mewartakannya di dalam Shi Ji Catatan Sejarah, namun juga perlu mencambuk diri sendiri dengan semangat [Qu Yuan dibuang, Li Sao anugerahnya], dalam penyelesaian karya raksasanya Shi Ji / Catatan Sejarah. Walaupun Qu Yuan dengan kematiannya tidak mampu mengubah sejarah negara Chu, akan tetapi dengan kematiannya yang menerangi tekad dan kesetiaannya yang tulus dan teguh terhadap negara telah meninggalkan ingatan yang mendalam bagi generasi penerus. (WHs)

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_18.htm

Xuan Zhang :
Cendikiawan Muda pada Zaman Dinasti Tang


Seorang biksu muda pada masa Dinasti Tang melakukan perjalanan ke India untuk belajar agama Buddha. Dialah yang menerjemahkan naskah-naskah kitab suci ke dalam bahasa Mandarin.

(Erabaru.or.id) - Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial "Kera Sakti" ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci.

Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial "Kera Sakti" terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar San-Tsang atau Mu-Ch'a-T'i-P'o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun).

Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada).

Mengembara ke India

Terlahir dalam keluarga cendekiawan turun-temurun yang menganut paham Confucianis di mana atas pengaruh kakaknya yang menyenangi agama Buddha, akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke Ch'ang-an dan kemudian ke Ssu-ch'uan (sekarang Szechwan) guna menghindari konflik politik yang terjadi. Semasa berada di Ssu-ch'uan, Hsuan-tsang mulai mempelajari filosofi Buddhis tetapi menemukan banyak sekali perbedaan dan kontradiksi dari berbagai kitab yang dibacanya. Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke India.

Hsuan-tsang muda melakukan perjalanan ke utara di Padang Pasir Takla Mak'an melewati sumber mata air Turfan, Karashar, Kucha, Tashkent dan Samarkand untuk kemudian memasuki Gerbang Besi Bactria, melewati pegunungan Hindu Kush sampai ke Kapisha, Gandhara, dan Kashmir di sebelah Tenggara India. Dari sana beliau menaiki perahu menjelajahi sepanjang Sungai Gangga sampai ke Mathura, dan mencapai tanah suci agama Buddha di bagian timur Sungai Gangga pada 633. Hsuan-tsang mulai mengunjungi berbagai tempat keramat yang berkaitan dengan kehidupan sang Buddha di sepanjang sungai Timur sampai Barat.

Kemudian sebagian besar waktunya dihabiskan di Nalanda (pimpinan universitas saat itu adalah Silabhadra yang bergelar 'Mustika Kebenaran') yang merupakan satu-satunya pusat pengkajian Buddha yang terbesar saat itu. Hsuan-tsang muda mempelajari bahasa Sansekerta, filsafat Buddhis dan filsafat India. Sewaktu berada di India, Hsuan-tsang terkenal akan kecendekiawanannya, sehingga raja yang berkuasa di India bagian utara, Raja Harsa menemui secara pribadi untuk memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya dengan bantuan dari Raja Harsa, beliau dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Tiongkok (tahun 643) dengan fasilitas yang disediakan oleh Raja berupa 20 ekor kuda yang membawa 527 peti naskah.

Kembali ke Tiongkok

Hsuan-tsang kembali ke Ch'ang-an (ibu kota negara T'ang) pada 645 setelah meninggalkan negaranya selama 16 tahun. Beliau disambut dengan meriah di ibu kota dan beberapa hari kemudian di depan khalayak ramai, Raja menawarkan posisi menteri di pemerintahan dengan pertimbangan bahwa Hsuan-tsang mempunyai pengalaman luas di berbagai negara asing. Namun terdorong oleh niatnya yang besar untuk mengabdi dalam Buddha, beliau menolak secara halus penawaran Raja tsb. Hsuan-tsang menghabiskan sisa waktunya dengan menerjemahkan sekitar 657 naskah yang dikemas dalam 520 peti (literatur lain menuturkan 527 peti) yang dibawanya kembali dari India.

Beliau menyelesaikan 73 naskah (literatur lain menyebutkan 75 naskah) yang terbagi atas 1,330 bagian, di mana sebagian besar merupakan rujukan utama dalam Tripitaka Mahayana seperti Prajnaparamita Hrdaya Sutra, naskah Yogacara, Madhyamaka dan naskah Vasubandhu yakni Trimsika atau dikenal juga dengan nama Vijnaptimatrasiddhi. Selain itu terdapat juga naskah dari sejumlah sekte lainnya seperti dari Hinayana, Theravada, Vinaya, Mahasanghika dan Risalah, termasuk naskah pengetahuan umum dan naskah tata bahasa.

Pokok-pokok Pikirannya

Karya Hsuan-tsang lebih berdasarkan filsafat ajaran Yogacara (Vijnanavada/Wei-shih cung) yang dikembangkan oleh Asanga dan Vasabhandhu, di mana bersama dengan muridnya K'uei-chi (632-682) mendirikan sekte Wei-shih (Hanya Kesadaran/Vijnana) yang tertuang dalam karya Hsuan-tsang , Ch'eng-wei-shih-lun (Treatise on the Establishment of the Doctrine of Consciousness Only) yang menjelaskan bagaimana bisa terdapat suatu dunia emperikal yang umum untuk setiap individu yang memiliki badan dan penyerapan yang berbeda dapat merupakan pembentuk pikiran bersama terhadap suatu tujuan tertentu. Menurut Hsuan-tsang, benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran (alayavijnana) merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu.

Pokok utama ajaran ini mengatakan bahwa seluruh dunia ini terbentuk karena pikiran. Bentuk-bentuk tampak luar adalah tidak nyata (maya), tidak ada yang nyata diluar pikiran. Pendapat umum tentang adanya bentuk luar hanyalah disebabkan konsepsi yang salah dimana dapat dihilangkan dengan proses meditasi yang menarik kembali semua bentuk luar yang bersifat maya tersebut (semacam vipassana bhavana). Benih karma merupakan pembentuk pancaskandha yang terkumpul dalam gudang kesadaran dimana membentuk pikiran atas keberadaan dunia luar berdasarkan persepsi dan cita. Gudang kesadaran inilah yang harus disucikan dari dualitas subyek-obyek dan keberadaan yang maya dengan menempatkannya pada alam kemurnian yang dapat disamakan dengan kenyataan atau kesamaan yang menunjukkan sifat dasar dari semua benda sesuai apa yang telah ditentukan (tathata). Alam kesadaran inilah yang dicapai oleh para Bodhisattva sebagaimana tercermin dari konsep Trikaya.

Perkembangan Ajaran

Pokok pikiran ajaran tersebut sempat populer pada masa kehidupan Hsuan-tsang dan K'uei-chi , tetapi karena filsafat dan terminologi ajaran tersebut yang kurang dimengerti dan sulit dicerna secara umum, demikian juga bentuk pemahaman yang berkaitan dengan analisa pikiran dan perasaan merupakan suatu hal yang asing bagi tradisi di Tiongkok saat itu, maka dengan meninggalnya Hsuan-tsang dan K'uei-chi, sekte ini pun akhirnya mengalami kemerosotan. Pada saat meninggalnya Hsuan-tsang, Raja T'ang mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari guna menghormati segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hsuan-tsang yang ditunjukkan oleh pengabdiannya yang tanpa pamrih dalam mengembangkan Buddhisme di Tiongkok.

Tercatat dalam beberapa literatur bahwa pada masa kehidupan Hsuan-tsang, terdapat seorang biksu Jepang yang bernama Dosho sempat singgah ke Tiongkok pada tahun 653 dan belajar di bawah bimbingan Hsuan-tsang, di mana sesudah menyelesaikan pelajarannya, biksu Dosho kembali ke Jepang untuk mengenalkan doktrin tersebut, dan kemudian menjadi terkenal akan Vihara Gongo. Selama abad ke-7 dan ke-8, sekte ini dikenal dengan nama Hosso (Fa-hsiang) dan merupakan sekte yang paling mempengaruhi semua sekte Buddhis yang ada di Jepang sampai saat ini. Biksu Dosho merupakan biksu pertama di Jepang yang jasadnya dikremasikan secara Buddhis. Selain di Jepang, ajaran Hsuan-tsang juga menyebar ke Korea.

Selain melakukan penerjemahan naskah-naskah, Hsuan-tsang juga menulis cerita perjalanannya ke Barat (India) yang diberi judul Ta-T'ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan ke Barat semasa Dinasti T'ang Agung), merupakan suatu catatan dari berbagai negara yang dilewatinya sewaktu melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

Sumber : http://www.erabaru.or.id/k_10_art_02.htm