Sabtu, 27 Oktober 2007

Journey to the West [India], Pendahuluan

Saya baru saja pulang dari India beberapa hari yang lalu...
perjalanan Dharmayatra ke tanah suci Buddhist ini memberikan banyak pengalaman menarik bagiku dan teman-teman seperjalanan.

Perjalanan ini dilakukan selama 11 hari, startnya dari tanggal 9 oct sampai 20 oct 2007. Tujuan perjalanan: DELHI-LUCKNOW-SRAVASTI-KAPILAVATTHU-LUMBINI-KUSHINAGAR-VAISHALI-NALANDA-RAJGIR-GUA SATTAPANNI-VELUVANA[HUTAN BAMBU]-PENJARA BIMBISARA-BUKIT RAJGIR-GIJJHAKUTA[PUNCAK BURUNG HERING]-BODHGAYA-BUKIT DHONGRA-HUTAN URUVELA-KEDIAMAN PUTRI SUJATA-SARNATH-VARANASI-SUNGAI GANGGA-KANPUR-SANKASIA-AGRA-TAJ MAHAL lalu balik ke Indonesia.

Kayaknya tempat2nya banyak ya? sebenernya ada beberapa tempat yg berdekatan sehingga bisa dikunjungi dalam 1 hari.
Selamat Membaca.


By : Zen

Rabu, 03 Oktober 2007

RIWAYAT SINGKAT JEY TSONGKHAPA

Naskah ini disusun sebagai upaya untuk memberikan gambaran sangat singkat tentang seorang Guru Agung, pendiri tradisi Gelug. Jey Tsongkhapa merupakan salah seorang guru besar dari Tibet yang sangat terkenal, bukan saja karena kepandaiannya, tetapi juga karena praktik Dharmanya yang sempurna. Sumber utama penulisan naskah ini adalah buku berjudul THE LIFE AND TEACHINGS OF TSONGKHAPA yang diterbitkan oleh Library of Tibetan Works and Archieves. Tulisan ini hanyalah memuat sebagian kecil dari riwayat hidup beliau yang sangat mengagumkan ini. Naskah ini disusun oleh Tim Naskah Kadam Choe Ling Bandung pada Juli 2001.

Je Tsongkhapa, yang juga dikenal dengan sebutan Jey Rinpoche, dilahirkan di daerah Tsongkha provinsi Amdo, sebelah timur Tibet pada tahun 1357. Saat usia 3 tahun, beliau menerima pentahbisan upasaka secara penuh (full fledged lay ordination) dari Karmapa ke 4, Rolpey Dorjey (1340-1383), dan diberikan nama Kunga Nyingpo. Pada usia 7 tahun, beliau menerima sumpah Samanera (ditahbiskan menjadi Samanera) dari gurunya Chojey Dhondrup Rinchen, dan diberikan nama Lobsang Drakpa. Bahkan pada usia yang masih sangat mudah ini, beliau telah menerima banyak ajaran dan inisiasi seperti inisiasi Heruka, Yamantaka, dan Hevajra, dan dapat melafalkan teks seperti Ekspresi dari Nama Manjushri (Expression of the Names of Manjushri) tanpa melihat teks tersebut (Beliau hafal seluruh isi teks tersebut). Dikatakan bahwa beliau sangat menjaga kemurnian sila beliau, lebih daripada mata atau tubuh beliau sendiri.

Je Tsongkhapa mengembara sampai jauh demi mencari pengetahuan dan belajar dengan para guru dari berbagai tradisi yang ada, dimulai dengan Chennga Chokyi Gyelpo, seorang Lama dari Vihara Drikung Kargyu. Dari beliau, Jey Rinpoche menerima ajaran dengan topik antara lain pikiran pencerahan (Bodhicitta) dan Segel Agung (The Great Seal / Mahamudra). Beliau diajarkan risalah (rangkuman) pengobatan oleh Konchok Kyab di Drikung.

Setelah itu beliau pergi ke Vihara Chodra Chenpo Dewachen di Nyetang. Di sana beliau belajar dengan Tashi Sengi dan Densapa Gekong. Kemudian beliau belajar lebih lanjut dengan Yonten Gyatso. Yonten Gyatso mengajari beliau cara membaca risalah-risalah agung dan membantu beliau belajar Ornamen untuk Realisasi yang jelas (The Ornaments for Clear Realisation). Dalam 18 hari beliau telah mampu menghafal dan menyerap baik teks akar maupun komentarnya, dan dengan segera menguasai semua karya Buddha Maitreya. Kemudian beliau memperoleh pemahaman yang lengkap atas Kesempurnaan Kebijaksanaan (Perfection of Wisdom) secara cepat dan dengan sedikit usaha. Beliau dikagumi oleh gurunya maupun para sahabatnya karena keunggulannya dalam berdebat serta pengeta-huannya itu. Pada usia 19 tahun, setelah 2 tahun mempelajari Kesempurnaan Kebijaksanaan, beliau terkenal sebagai seorang cendekiawan besar. Kemudian beliau pergi mengunjungi Nyapon Kunga Pel di Tzechen untuk memohon instruksi atas Kesempurnaan Kebijaksanaan dari beliau. Tetapi karena kondisi kesehatan beliau, Nyapon Kunga Pel menganjurkan Tsongkhapa untuk belajar dengan siswanya, Rendawa. Tsongkhapa sangat menghormati Rendawa karena metode pengajaran beliau atas Harta Karun Pengetahuan (Treasury of Knowledge) berserta komentar langsungnya. Guru ini mempunyai kualitas yang luar biasa. Di kemudian hari, Tsongkhapa menganggap Rendawa sebagai guru utamanya. Tsongkhapa juga menerima ajaran tentang filosofi Jalan Tengah (Madhyamika) dari Rendawa. Tsongkhapa menyusun sebuah ayat sebagai penghormatan kepada Rendawa dan kemudian sering melafalkan ayat ini.
Manjushri, Raja Maha Tahu yang tak bernoda
Avalokitesvara, Yang mempunyai cinta kasih murni yang luar biasa
Oh Rendawa Zhonnu Lodro, mahkota permata dari para orang suci Tibetan
Di kakimu, saya memohon
Berikan perlindungan kepadaku, sang pencari kebebasan.

Kemudian Rendawa membalas bahwa syair lebih cocok diperuntukkan bagi Tsongkhapa dan kemudian mengadaptasi ayat tersebut sebagai berikut :
Avalokitesvara, yang mempunyai cinta kasih murni yang luar biasa.
Manjushri, Raja pengetahuan tak bernoda.
Vajrapani, penghancur semua kekuatan jahat
Oh Jey Tsongkhapa, Losang Drakpa,
Mahkota permata para orang suci Tanah Bersalju
Dengan rendah hati aku memohon berkatmu.
Ayat inilah yang kemudian dikenal dengan mantra Tsongkhapa (Migsetma)

Beliau juga belajar disiplin keviharaan (Vinaya), fenomenologi (ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yang mendahului filsafat atau bagian dari filsafat), Pengertian Benar (Valid Conigtion), Jalan Tengah (Middle Way), dan Guhyasamaja dengan para lama seperti Kazhipa Losel dan Rendawa. Beliau juga menerima transmisi Enam Doktrin Naropa, Kalachakra, Mahamudra, Jalan dan Buahnya (The Path and Its Fruit), Chakrasamvara, dan masih banyak lain. Selain itu, beliau juga mentransmisi-kan semua ini kepada siswa-siswanya.

Tsongkhapa belajar kepada lebih dari seratus guru, berlatih secara mendalam dan mengajar kepada ribuan siswanya, terutama di daerah tengah dan timur dari negara Tibet. Beliau juga banyak menulis (teks-teks Dharma). Kumpulan karya beliau, terdiri dari 18 bab, memuat ratusan judul yang berhubungan dengan seluruh aspek dari ajaran Buddha dan mengklarifikasi (memperjelas) beberapa topik yang paling sulit dari ajaran Sutrayana dan Mantrayana.

Beberapa karya beliau yang utama adalah Penjelasan Agung tentang Tahapan Jalan. (The Great Exposition of the Stages of the Path / Lam-rim Chen-mo), Penjelasan Agung tentang Tantra (The Great Exposition of Tantras (sNgag-rim Chenmo), Esensi Keagungan Ajaran yang Interpretif dan Definitif (The Essence of Eloquence on the Interpretive and Definitive Teachings / Drnng-nges legsbshad snying-po), Pujian Relativitas (The Praise of Relativity / rTen-‘brel bstodpa), Penjelasan yang terperinci tentang Lima Tahapan Guhyasamaja (The Clear Exposition of the Five Stages of Guhyasamaja / gSang-‘dus rim-lnga gsaal-sgron), serta Tasbih Emas (The Golden Rosary / gSer-phreng).

Di antara para siswa utamanya, Gyeltsab Dharma Rinchen (1364- 1432), Khedrub Geleg Pelsang (1385-1438), Gyalwa Gendun Drup (1391-1474), Jamyang Chojey Tashi Pelden (1379-1449), Jamchen Chojey Shakya Yeshe, Jey Sherab Sengey, dan Kunga Dhondup (1354-1438) adalah beberapa siswa beliau yang lebih penting.

Selain belajar dan mengajar, beliau juga melakukan retret meditasi yang mendalam. Yang terlama, di Wolkha Cholung, selama 4 tahun. Beliau ditemani oleh 8 siswa terdekatnya. Beliau terkenal karena telah melakukan berjuta-juta namaskara, per-sembahan mandala, dan berbagai cara praktek purifikasi.

Tsongkhapa sering mendapat penglihatan atas deitis meditasi, khususnya Manjushri. Dengan Manjushri, beliau dapat berkomunikasi untuk menjawab berbagai pertanyaannya tentang aspek yang mendalam dari berbagai ajaran.

Tsongkhapa wafat pada usia 60 pada tanggal 25 bulan ke 10, penanggalan Tibetan, tahun masehi 1419. Sebenarnya masih banyak hal yang dapat ditulis mengenai riwayat hidup beliau ini. Dari kisah hidup beliau yang agung ini, banyak hal yang dapat kita pelajari dan kita renungkan. Usaha beliau yang tak kenal lelah dalam mempelajari dan mempraktikkan Dharma adalah sebuah contoh yang sangat sempurna bagi kita semua.

Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan mendetail, anda dapat membaca buku berjudul LIFE & TEACHINGS OF TSONGKHAPA, yang diterjemahkan dari bahasa Tibet ke bahasa Ingggris oleh Sherpa Tulku cs, dan diedit oleh Robert A. F Thurman, diterbitkan oleh Library of Tibetan Works & Archieves. Buku ini tersedia di perpustakaan Kadam Choe Ling Bandung.

Dedikasi :
Semoga sejarah dan teladan yang diberikan oleh sang Guru Agung, pendiri tradisi Gelug ini, memberikan inspirasi bagi mereka yang membacanya, untuk mau mempraktikkan Dharma agung dari Buddha Sakyamuni ini. Semoga dengan kebajikan yang diperoleh dari menyusun, membaca, dan menyebarluaskan tulisan ini dapat memberikan kita kebahagiaan dan menyebabkan kita terhindari drai segala kesulitan. Semoga kita dapat segera mencapai pencerahan sempurna demi kebahagiaan semua makhluk

Dharma Manggala, Buletin Maya Indonesia.

ORANG YANG BIJAKSANA

Roda doa, atau Roda Mani, adalah sebuah roda yang diisi dengan mantra-mantra dan sutra yang sangat banyak yang dibungkus searah jarum jam mengelilingi sebuah sumbu. Beberapa roda doa berukuran kecil seperti gangsingan. Beberapa lainnya berukuran sangat besar sehingga dapat memenuhi sebuah ruangan. Seseorang memutar roda doa ukuran besar ini dengan memegang gagangnya dan kemudian berjalan searah jarum jam mengelilingi roda tersebut. Jenis yang lainnya diletakkan pada air yang mengalir atau air terjun sehingga ia dapat memanen energi alami dan menyebarkan rahmat ke alam sekitarnya. Orang yang percaya memiliki keyakinan bahwa memutar roda doa ini atau mengibarkan bendera doa akan mengaktualisasikan doa-doa yang tertulis di dalamnya.

Propinsi Khan di Tibet mirip dengan daerah Barat Amerika yang liar. Orang-orang Kham adalah para penunggang kuda yang hebat, dan seperti halnya para penunggang kuda, mereka sangat mencintai kuda-kudanya. Hingga sekitar seabad yang lalu, Kham terdiri dari berlusin-lusin kerajaan yang lebih kecil, dimana setiap kerajaan tersebut memiliki angkatan perang sendiri, yang dibentuk melalui perekrutan wajib militer secara paksa.

Suatu ketika hidup seorang laki-laki tua jauh di sebelah timur Kham yang dikenal sebagai Pria Mani karena setiap hari, siang dan malam, dia selalu bisa ditemukan sedang memutar roda doa kecilnya dengan khusuk. Roda itu dipenuhi dengan mantra Kasih Sayang Yang Agung, Om Mani Padme Hung. Pria Mani itu hidup bersama anak lelakinya dan seekor kudanya yang bagus. Anak lelakinya adalah kebahagiaan dalam hidup pria tua itu; sedangkan kebanggaan dan kebahagiaan bagi anak lelaki tersebut adalah kudanya.

Istri pria tua itu, setelah melakukan kebajikan dan pengabdian yang panjang selama hidupnya, telah lama meninggal dan terlahir kembali di alam yang lebih beruntung. Sedangkan pria tua itu dan anaknya hidup sederhana, terbebas dari berbagai kebutuhan yang berlebihan, dan tinggal di salah satu rumah dari beberapa rumah batu yang kasar di tepi sungai di sebuah dataran yang luas.

Suatu hari kuda mereka menghilang. Tetangga-tetangga mereka ikut bersedih atas kehilangan satu-satunya harta milik pria tua yang berharga itu, tetapi pria tua yang selalu tenang itu tetap memutar roda doanya sambil terus menguncarkan mantra “Om Mani Padme Hung”, mantra nasional bangsa Tibet.

Kepada siapapun yang menyatakan duka-cita atas kehilangan kuda tersebut, ia hanya berkata, “Bersyukurlah untuk segala sesuatunya. Siapa yang bisa tahu apa yang baik dan apa yang buruk? Akan kita lihat ...”

Setelah beberapa hari, kuda yang hilang itu kembali, diikuti oleh sepasang kuda liar. Kuda-kuda liar ini kemudian dilatih oleh si pria tua dan anaknya. Para tetangga yang menyaksikan hal ini sangat bergembira dan mengucapkan selamat kepada pria tua itu. Pria tua itu hanya tersenyum dan berkata, “Saya berterima kasih ... Tapi siapa yang tahu? Kita akan lihat ...”.

Kemudian suatu hari, ketika mengendarai salah satu dari kuda liar itu, si anak lelaki jatuh dan kakinya mengalami patah tulang. Beberapa tetangganya membawa anak lelaki itu pulang ke rumahnya, mengutuk kuda yang liar itu, dan menyesali nasib si anak lelaki. Tetapi pria tua itu, duduk di sebelah ranjang anaknya, tetap memutar roda doanya terus menerus sambil dengan lembut membaca mantra Kasih Sayang Yang Agung dari Chenrenzig (Red: Avalokitesvara).

Ia tidak mengeluh maupun menjawab protes-protes tetangganya kepada nasib, tetapi hanya menganggukkan kepalanya dengan ramah, mengulangi apa yang pernah dikatakannya, “Sang Buddha adalah penuh kasih; saya bersyukur bahwa anak saya masih hidup. Kita akan lihat...”

Minggu berikutnya petugas-petugas militer muncul, mencari para wajib militer muda untuk dikirim ke garis depan pertempuran. Semua pria muda di daerah itu segera dibawa, kecuali anak lelaki pria tua itu yang sedang terbaring di ranjangnya. Kemudian para tetangganya mengucapkan selamat kepada pria tua itu untuk keberuntungannya yang sangat besar, dan menganggap semua itu adalah berkat karma baik yang dikumpulkan oleh si pria tua dengan selalu memutar roda doanya dan selalu terus menerus mengucapkan mantra dari sela-sela bibirnya yang keriput.

Si pria tua hanya tersenyum dan tidak berkata apapun. Suatu hari ketika anak lelaki dan ayahnya sedang melihat kuda-kuda mereka yang bagus merumput di padang, pria tua yang pendiam itu sekonyong-konyong menyanyi :

“Hidup terus berputar dan berputar,
naik dan turun laksana kincir air;
Hidup kita adalah laksana keranjang-keranjang kincir itu,
kosong dan berisi bergantian terus menerus.

Laksana tanah liat dari si pembuat tembikar,
keberadaan jasmani kita berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya:
Bentuk-bentuk itu hancur dan terbentuk lagi dan lagi,

Yang rendah menjadi tinggi, yang tinggi akan jatuh;
gelap akan berubah menjadi terang,
dan yang kaya akan kehilangan semuanya.

Jika kau, anakku, adalah anak yang luar biasa,
kelak kamu akan terlahir kembali ke dalam sebuah biara.
Tetapi jika kau sangat cemerlang, anakku,
Maka engkau akan menjadi pejabat yang mengurusi perselisihan orang lain.

Seekor kuda hanya akan menyebabkan kesulitan seharga seekor kuda.
Kekayaan adalah baik, Tetapi dengan cepat akan kehilangan kesenangannya,
dan dapat menjadi beban, sumber pertengkaran, pada akhirnya.

Tak seorang pun tahu karma apa yang sedang menunggu kita,
tetapi apa yang kita tabur sekarang akan matang
dalam kehidupan-kehidupan yang mendatang, itu adalah pasti.

Maka berbuatlah baik pada semuanya dan jangan terbias,
berdasarkan ilusi tentang ‘memperoleh’ dan ‘kehilangan’.
Janganlah punya harapan maupun ketakutan,
pengharapan maupun kecemasan;

Bersyukurlah untuk segala sesuatunya,
apapun jatah yang kamu punya.
Terimalah segala sesuatunya;
terimalah setiap orang; dan ikutilah
Hukum Sang Buddha yang tidak pernah salah.

Hiduplah sederhana dan gampang dirawat, tetaplah
secara alamiah hidup tenang dan dalam damai.
Kau dapat menembak anak panah ke langit jika kau suka, anakku,
tetapi anak-anak panah itu pada akhirnya pasti akan jatuh kembali ke tanah.”

Ketika pria itu bernyanyi, bendera-bendera doa beterbangan melayang menutup kepala pria tua itu, dan roda mani yang kuno tersebut, yang diisi dengan ratusan mantra tulisan tangan, tetap berputar. Dan kemudian di pria tua itu hening.

Sumber : The Mani Man, Das, Surya, 1992. The Snow Lion’s Turquoise Mane, Wisdom Tales from Tibet. Harper San Fransisco. New York.
Alih bahasa : Holiwati
Editor : Junarto M. Ifah

Dharma Manggala, Buletin Maya Indonesia.